Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » Refleksi 35 Tahun LPTP

Refleksi 35 Tahun LPTP
 
Posted : Tue, 03 December 2013 - 05:43 (2206 views)

Refleksi 35 Tahun LPTP
35 tahun bukan waktu yang pendek. Jika manusia sudah menjadi orang yang dewasa, jika lembaga tentu sudah menjadi lembaga yang mapan dan kaya pengalaman. Bulan November 2013 merupakan bulan istimewa bagi LPTP. Pada bulan November di tahun 2013 ini LPTP genap 35 tahun. Pada bulan ini tepatnya tanggal 10 November 1978 merupakan saat LPTP lahir, dideklarasikan dan mulai menjalankan aktivitasnya. Mereka  yang terlibat dalam pendeklarasian LPTP itu sekarang bahkan sudah tiada.

Dengan semangat menatap dunia dengan cara berbeda serta dengan pola bersahaja yang melekat sejak dulu, LPTP  tetap eksis menjalankan aktivitasnya bekerja untuk kemashalatan umat manusia. Banyak pengalaman yang diperolehnya selama kurun waktu yang cukup panjang itu. Berbagai pengalaman yang diperolehnya itu menjadikan LPTP sebagai lembaga tempat referensi atau tempat magang.

Dalam rangka memperingati usianya yang ke 35 ini LPTP menyelenggarakan acara refleksi. Beberapa anggota komunitas LPTP terutama yang berada di Solo dan Jogja diundang hadir di Kantor LPTP Palur. Beberapa mitra LPTP seperti dari Insist dan aqua juga hadir dalam agenda refleksi 35 tahun ini. Mereka yang pernah aktif di LPTP pada masa lampau juga ada yang datang. Sebagai nara sumber utama adalah Dawam Rahardjo yang merupakan senior sekaligus adviser LPTP.

Refleksi yang diselenggerakan siang hari ini dibuka oleh 4_refleksi_01Alim Muhammad yang merupakan sekretaris Badan Pengurus Yayasan LPTP. Ia mengucapkan selamat datang kepada mereka yang mau hadir di Balai Marsudi Sudjak pada hari ini. Selanjutnya Hari Mulyadi yang  merupakan sekretaris Dewan Pembina Yayasan LPTP menyampaikan sambutannya dan mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dawam Rahardjo serta rombongan dari Insist yang juga hadir siang ini. Selesai acara ceremonial sambutan, irfan Maryono yang juga dari Dewan Pembina Yayasan LPTP memfasilitasi agenda refleksi ini.

Ahmad Mahmudi yang merupakan Ketua Badan Pengurus Yayasan LPTP menginformasikan sekilas tentang LPTP. Disampaikan oleh ketua Badan Pengurus  Yayasan LPTP bahwa ketiga penggagas LPTP pada tahun 1978 sudah almarhum semua, namun cita-citanya tetap dilanjutkan hingga sekarang ini. Gagasan rencana pendirian LPTP dulu disebarkan dan direalisir secara bertahap. Salah satu orang yang concern terhadap gagasan itu adalah Dawam Rahardjo yang saat itu aktif di LP3ES dan memiliki jaringan kuat. Lewat bantuannya terwujud bengkel LPTP yang saat itu merupakan bantuan dari USAID. Lewat bengkel itulah dimulainya beragam rekayasa TTG untuk berbagai pengembangan pertanian, usaha kecil dan pemberdayaan masyarakat.

Secara sekilas juga disampaikan selama 35 tahun cukup banyak yang telah dilakukan oleh LPTP. Dengan prinsip pengembangan sumberdaya yang ada dan dikelola semaksimal mungkin agar memberi manfaat yang baik, LPTP terus bekerja dari dulu hingga sekarang ini.

“Sekarang ini ada sekitar 75 staf LPTP  yang mengembangkan berbagai program di lapangan.  Di antaranya adalah  program penataan lingkungan di Wonosobo, program penataan kawasan di Watuneso NTT, program penataan kawasan sub das Pusur di Klaten,” demikian disampaikan oleh Ahmad Mahmudi.

2_refleksi_01Selesai itu Prof. Dawam Rahardjo menyampaikan pemikirannya tentang pengembangan perekonomian rakyat. Disampaikan olehnya bahwa selama ini perekonomian dikuasai oleh asing. Kita tentu tidak berharap itu terjadi dan ingin perekonomian Indonesia dikuasai rakyat. Strategi yang bisa dikembangkan adalah dengan pola desa mengepung kota, memberantas setan desa dan kota. Pedomannya adalah trisakti yang pernah disampaikan dulu oleh Bung Karno. Tetapi itu dibalik mulai dari kebudayaan dulu. Kita  harus mengubah mainset dengan teori kebudayaan, misalnya harus memakai produk dalam negeri dan harus konsekuen.

“Kita yakin rakyat akan berperan dominan dalam industri kecil. Mesin kita ganti dengan tenaga manusia. Kita  kalahkan industri tekstil  dengan teknologi tradisional yang mampu mengalahkan industri masal dengan seni. Anak  kecil saja mampu menggambar batik dengan baik dan itu sebenarnya keuangglan kita. Kemudian kita eksport batik itu ke negara lain. Untuk  itu kta harus memiliki kepribadian yang kuat,” demikian disampaikan oleh Prof. Dawam Rahardjo.

Lebih lanjut Dawam mengatakan bahwa kita  jangan menanam padi di sawah  saja mengingat jumlah sawah semakin terbatas. Di  luar sawah misalnya di pekarangan, hutan, disela-sela kelapa sawit juga bisa ditanami terutama tanaman pangan non beras. Misalnya umbi-umbian. Kita harus bisa menciptakan pangan baru non beras. Kalau  kita rawat dengan baik, maka hasilnya akan baik pula. Misalnya iles-iles atau porang itu sangat disukai oleh orang Korea dan Jepang. Di Sulawesi orang diorganisir sedemikian rupa oleh swasta untuk menanam porang dan memang menguntungkan.

“Kita  harus mengorganisir diri tidak hanya bertanam porang, tetapi yang lain misalnya ganyong dan lain-lain. Kuncinya  harus diolah terlebih dahulu. LPTP harus bisa merekayasa alatnya dan menjual alat itu,” demikian disampaikan oleh Dawam Rahardjo.

“Menurut saya kita harus kembali ke khitoh lembaga ini,” kata Dawam lagi. “Gagasan  saya kita kembali ke khitoh Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan yakni kembali ke rakyat dan merebut perekonomian rakyat.”

Usai  pemaparan dari Prof. Dawam dilakukan diskusi panjang lebar. Menurut Irfan, apa yang disampaikah oleh Prof. Dawam Rahardjo selalu memberi inspirasi pada kita semua. Dengan  teknologi seperti itu kita sebenarnya sangat mudah mengembangkan rakyat di daerah, tetapi kita juga harus melakukan pendidikan bagi konsumen.

1_refleksiAgenda refleksi yang diisi dengan ceramah dari senior LPTP itu berlangsung sampai sore. Acara  itu kemudian diakhiri dengan potong tumpeng yang dilakukan oleh Dawam Rahardjo. Potongan tumpeng itu diberikan pada dua aktivis LPTP yang paling muda yaitu pada Sri Hayati dan Emi yang saat ini sedang menangani program LPTP di Polanharjo Klaten.

Usai itu dilanjutkan dengan makan bersama di halaman Balai Marsudi Sudjak LPTP. Seperti biasanya LPTP menyediakan beragam makanan dan minuman. Tengkleng sebagaimana biasa meskipun sudah disediakan tiga panci besar paling cepat habis diserbu oleh anggota komunitas LPTP.

Agenda refleksi sekaligus peringatan ulang tahun LPTP itu berjalan lancar. Habis magrib sebagian dari mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sebagian lagi masih melanjutkan diskusi dengan Prof. Dawan sampai tengah malam.

6_refleksi***7_refleksi
 


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design