Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » Launching Program IPWD ( Integrated Pusur Watershed Development)

Launching Program IPWD ( Integrated Pusur Watershed Development)
 
Posted : Thu, 14 November 2013 - 14:48 (2327 views)

Launching Program IPWD ( Integrated Pusur Watershed Development)
Hari Senin, tanggal 4 November 2013, LPTP  melakukan launching program IPWD. Program IPWD merupakan program pengembangan kawasan sub Das Kali Pusur hasil kerjasama LPTP dengan Danone Aqua. Program ini pada tahap awal dilaksanakan di tiga desa yaitu Desa Mundu, Polan dan Sudimoro yang berada di kawasan sub Das Kali Pusur. Ketiga desa itu berada di Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten. Pada hari itu, LPTP sengaja mengundang beberapa orang perwakilan dari tiga desa tempat kegiatan nanti akan dilaksanakan.

Beragam warga yang hadir dalam acara itu. Perangkat  pemerintahan Kecamatan dan aparat pemerintahan desa hadir di rumah joglo tempat LPTP selama ini bermarkas. Paling banyak adalah warga tiga desa yang tergabung dalam kelompok tani. Mereka tergabung dalam  kelompok Margo Mulyo, Usaha Tani, Marsudi Makmur 1 dan 2, kelompok Tani Makmur, Sri Mulyo, P3A Ngudi Makmur, Rejeki Agung, Setyo Budi Utomo, Daya Guna, Rukun Agawe Sentosa, Bangun Dadi, Bina Tani, Makmur Lestari dan  Pangudi Rejeki. Ada 58 orang yang hadir dalam acara itu.
 
Tidak seperti acara launching di supermarket yang penuh hura-hura, agenda launching program ini diselenggarakan secara bersahaja. Acara ini lebih bersifat menjelaskan tentang rencana program pada perwakilan masyarakat di tiga desa serta pada perangkat pemerintahan setempat.
 
Agenda launching ini dibuka oleh Sulistyo yang merupakan bendahara Yayasan LPTP pada pukul 10 siang. Sambil membuka acara, ia mengenalkan tiga orang yang akan memaparkan program kerja IPWD dan microfinance itu. Mereka adalah Sony Sukada dari Danone Aqua, Ahmad Mahmudi yang merupakan ketua BP YLPTP dan Surur Wahyudi yang akan menangani program micro finance nanti.
 
Sony Sukada dari Danone Aqua mengatakan bahwa kerjasama Danone dengan LPTP diawali pada  tiga desa dulu. Dalam  melaksanakan program ini dilakukan pendekatan yang berbeda, bukan pendekatan makro 02_ipwdtapi dengan pendekatan mikro. Pengalaman Danone Aqua yang dulu lewat pendekatan makro ada hal-hal kecil yang sebenarnya penting menjadi terlupakan.
 
Bersama dengan LPTP akan dilakukan pilot project dengan pendekatan terpadu pada tiga desa lokasi kegiatan. Di Desa Polan pendekatannya dengan pertanian terpadu. Di desa ini semua sumber daya lokal akan dimanfaatkan.  Kalau di Desa Sudimoro pendekatannya lebih pada pengembangan tanaman jagung secara terpadu. Di sini akan dikaitan dengan pengembangan biogas sebagai sumber energi alternatif. Di desa ini terdapat banyak ternak sapi yang limbahnya bisa dimanfaatkan untuk biogas. Sedang untuk Desa Mundu dilakukan konservasi terpadu.
 
“Program yang dikembangkan dalam pilot project ini pendek-pendek supaya bisa mengukur hasilnya. Jangka waktu pilot project ini 6 bulan. Dengan begitu kita bisa segera tahu apa yang kita rencanakan dapat tercapai dalam 6 bulan ke depan. Setelah itu akan dimulai program pereode berikutnya,” demikian disampaikan Sony Sukada.
 
03_ipwd
 
Selesai paparan ringkas dari Sony dilanjutkan oleh Mahmudi yang merupakan ketua Badan Pengurus Yayasan LPTP. Ia mengajak warga yang hadir mengenang daerah Klaten yang memiliki sejarah masa lalu yang indah sebagai salah satu daerah penghasil beras. Sebagai daerah yang pernah menjadi penghasil beras maka warganya perlu untuk bergerak maju kembali dengan fokus pengembangan sumber-sumber pangan, sumber air dan pengembangan energi alternatif.
 
 
“LPTP ingin dijadikan kawan dekat dalam belajar dan bekerja bersama dengan petani. Kami ingin mengajak bersama bekerja dan belajar, mengatasi hama dan meningkatkan produksi serta meningkatkan sumber daya yang ada,” demikian disampaikan Mahmudi.  
 
LPTP dalam melaksanakan program IPWD ini melakukannya dengan pola pendekatan yang biasa dilakukannya. Pendekatan yang digunakan LPTP tidak  mengajari,  mendekte atau memberi, tapi   dengan  berbagi pengalaman, pengetahuan dan sekaligus membuat contoh-contoh dengan kelompok-kelompok yang ada seperti dengan kelompok tani, kelompok ternak atau kelompok usaha.
 
04_ipwd“Program yang akan dikembangkan LPTP intinya ada dua,” lanjut Mahmudi.  “Yang pertama, LPTP hadir untuk mengajak secara secara bersama-sama memperbaiki sistem ekologi di kawasan ini. Berdasarkan penelitian, daya dukung semakin menurun baik kuantitas maupun kualitasnya. Padahal dulu Klaten terkenal sebagai gudang beras. Kita akan belajar bersama untuk meningkatkan kembali sumber daya yang ada. Kemudian yang kedua bagaimana meningkatkan system ekologi dengan meningkatkan sumber-sumber penghidupan  yang dalam waktu pendek ini akan fokus pada tiga hal. Tiga hal itu, pertama yang berkaitan dengan sumber-sumber pangan, yang kedua berkaitan dengan sumber-sumber air dan yang ketiga pada energi.”
 
Selama tiga bulan sebelum ini, LPTP sudah memulai membangun jaringan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang ada di wilayah tiga desa. Di Desa Mundu membangun jaringan dengan  kelompok-kelompok tani dan ternak. Bahkan sudah merintis terdapatnya kelompok tukang yang memiliki keahlian membangun biogas. Di Desa Mundu dan Sudimoro sudah ada biogas sebagai percontohan. Biogas itu tukangnya dari desa itu sendiri.
 
Hama tikus selama ini memang memusingkan dan merugikan petani. Dalam kaitan memecahkan persoalan tikus itu, LPTP  bekerja bersama kelompok tani merencanakan melahirkan petani yang  ahli tikus. Mereka akan memahami habitat tikus, populasi tikus dan memahami predator lokal tikus. Salah satu predator tikus adalah burung hantu. Ada burung hantu yang makanannya khusus tikus. Di Polan nanti direncakan ada pusat pembelajaran dan penangkaran burung hantu sebagai musuh alami tikus. Di LPTP ada satu orang ahli burung hantu  yang sudah mengembangkan model ini di Demak dan Purwodadi. Semuanya berhasil. Dari waktu ke waktu bisa meningkatkan penurunan serangan hama tikus.
 
Di Desa Polan  basis kegiatan yang direncanakan adalah pertanian padi. Di situ nanti akan ada SL (Sekolah Lapang) intensif. Pada SL intensif  ukurannya bukan berapa kali pertemuan tapi apakah kemampuan petani berkembang, apakah ada penurunan hal-hal yang negatif.  Juga akan ada penangkaran benih-benih lokal.  Nanti akan ada laboratorium petani dalam upaya penurunan serangan hama.  Juga ada pengembangan pestisida organik. Petrisida ini bisa dikembangkan sendiri oleh para petani. Selain itu juga akan ada agencia hayati. Kelompok tani dan pemerintah desa sudah menyediakan lahan untuk pembelajaran petani secara intensif dan juga laboratorium serta tempat pertemuan-pertemuannya.
 
05_ipwdPada  Desa Sudimoro, basis kegiatan yang direncanakan pengembangan budidaya jagung. Masyrakat desa ini memiliki pengalaman dalam budidaya jagung. Sejak bulan Juni, LPTP  mengembangkan lahan uji coba tanaman jagung dengan kelompok tani di desa itu. Masyarakat sudah melihat hasil dari uji coba itu. Di Desa ini direncanakan juga ada pembelajaran mengenai ternak. LPTP nanti akan membantu pengelolaan ternak yang lebih optimal terutama dalam pengelolaan limbah ternaknya. Berdasarkan pengalaman LPTP, kalau satu keluarga petani memiliki 4 ternak sapi sudah bisa memiliki sumber energi alternatif biogas. Biogas ini bisa dimanfaatkan untuk memasak dan penerangan. Ia tidak perlu lagi membeli gas atau mencari kayu.  Cukup memasak dengan biogas saja.
 
Kalau di Mundu program yang dikembangkan adalah konservasi terpadu. Di kawasan ini terdapat gejala belum optimalnya pengelolaan lahan yang ada.  Perlu ada integrasi berbagai pengelolaan lahan yang ada. Jika ada ternak akan diintegrasikan dengan ternak. Di samping itu desa ini juga kaya dengan budidaya  umbi-umbian atau empon-empon. Rencananya jika produksinya baik, LPTP akan mengajak mereka belajar melakukan ekstrak. LPTP memiliki unit rekayasa TTG (Teknologi Tepat Guna) yang nantinya dapat membantu peralatan TTG dalam mengolah hasil  budidaya umbi-umbian itu.
 
Kegiatan pemetaan
Selain kegiatan pertanian, peternakan, konservasi dan energi, dalam program IPWD ini juga terdapat kegiatan membuat system database desa. Kegaitan  ini dimaksudkan untuk membantu pemerintah desa yang selama ini sering mengalami kesulitan dalam hal yang berhubungan dengan database.

Sering desa mengalami kesulitan saat harus menyiapkan data-data desanya secara detail dan cepat. Nanti bersama pemerintah desa dan masyarakat desa, LPTP akan membuat sistem database desa yang isinya mencakup  keselurahan apa saja yang penting yang ada di desa itu. Setelah selesai nanti akan diserahkan satu unit komputer untuk pengelolaan database kantor desa.  

Dalam penyusunann database desa ini partisipasi masyarakat dibutuhkan untuk memberikan informasi secara detail. Nanti akan ada warga yang dilatih bagaimana memetakan geospasial dengan GIS, input data dan cara operasionalnya.  Sistem ini nantinya secara terus menerus dapat di up date. Dengan adanya sistem database itu bisa dijadikan dasar bagi pemerintah desa untuk membuat perencanaan pembangunan jangka pendek maupun jangka panjang.
 
Micro finance
Micro finance dibentuk dengan memperhatikan wilayah sub DAS Kali Pusur yang memiliki potensi tinggi dalam pengembangan sektor pertanian, peternakan dan usaha kecil.  Lembaga keuangan ini diharapkan dapat membantu permodalan bagi masyarakat di kawasan itu. Tujuan utama dari micro finance ini yang pertama adalah menyediakan modal untuk membiayai kebutuhan modal usaha bagi masyarakat di wilayah sub DAS Kali Pusur. Kemudian yang kedua membantu tersedianya wadah bagi masyarakat untuk memudahkan akses terhadap permodalan sehingga usaha masyarakat semakin berkembang.

 
06_ipwd
 
Ada empat jenis layanan yang dikembangkan oleh micro finance ini pada tahap awalnya. Yang pertama layanan pinjaman atau pembiayaan untuk usaha pertanian, kedua layanan pembiayaan usaha peternakan, ketiga layanan pembiayaan usaha perikanan dan keempat layanan pembiayaan usaha berbasis rumah tangga (home industry) dan pedagang pasar.  Keempat layanan itu dianggap potensial untuk dikembangkan di kawasan sub DAS Kali Pusur.
 
 
 
Persyaratan untuk mendapatkan bantuan pembiayaan dari micro finance juga mudah. Warga masyarakat yang berminat cukup menyediakan  copy KTP, memiliki usaha dan ada agunan. Satu tambahan lagi, peminat juga harus menjadi anggota suatu kelompok baik itu kelompok tani, kelompok  ternak atau kelompok usaha lain. Untuk sementara ini micro finance berkantor di kantor kegiatan LPTP di Dusun Teseh Desa Wangen, Kecamtan Polanharjo Kabupaten Klaten. Mereka yang berminat terhadap micro finance ini bisa mendatangi kantornya setiap hari kerja, mulai Senin hingga Jumat.

****


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design