Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » KAMPUNG PUUARA YANG MASIH BERTAHAN

KAMPUNG PUUARA YANG MASIH BERTAHAN
 
Posted : Mon, 16 September 2013 - 05:04 (2289 views)

KAMPUNG PUUARA YANG MASIH BERTAHAN
 
Team LPTP melakukan pemetaan rumah dan penduduk di Kampung Puuara, sebuah kampung tua yang semakin sepi karena ditinggalkan penduduknya. Kampung ini berada di kawasan terpencil di NTT. Dengan cermat,  Sulistyo salah seorang dari team LPTP yang bertugas di NTT ini  menelusuri, meneliti dan merekam kehidupan warga kampung Puuara di tempat terpencil dan sepi ini. Paparan selengkapnya dari tulisannya dapat di baca seperti di bawah ini. (Red)
 
 
 
Jumlah penduduk di Kampung Puuara tidak banyak Jumlahnya hanya 19 jiwa laki-laki dan 26 jiwa perempuan. Totalnya  hanya  45 jiwa. Dulu sebelum tahun 1992 jumlah rumah agak padat, namun sekarang hanya tinggal 7 rumah. Mereka banyak yang pindah di tempat lain meskipun masih di sekitar kampung Puuara. Kepindahan mereka karena ada kekhawatiran terjadi  gempa bumi yang dulu pernah dialaminya.
 
Penduduk kampung Puuara ada yang pindah ke  Kampung Huboua di desa Bu Utara. Ada  2 KK atau rumah yang pindah ke situ. Selain itu juga ada yang pindah  ke kampung Meja di desa Watuweti sebanyak  2 rumah. Yang pindah  ke kampung Tadhomage di desa Bu Utara 1 rumah, pindah ke kampung Rema di desa Bu Utara  2 rumah, ke kampung Watusipi di desa Bu Selatan sebanyak 2 rumah.

Kampung Puuara bisa dibilang tua. Saat penjajahan Belanda dan Jepang kampung ini sudah ada. Menurut  warga setempat, banyak orang tua dan nenek moyangnya saat itu dijadikan pekerja paksa  untuk membuat jalan di Paga. Belanda dan Jepang sampai ke kampung itu dengan menunggang kuda hasil rampasan di jalan. Belanda dan Jepang mengetahui adanya perkampungan itu dari mata-matanya yang biasa disebut Kapiten. Kapiten ini adalah orang lokal yang masih memiliki hubungan dengan kerajaan atau pejabat kerajaan waktu itu.

Untuk penerangan penduduk di kampung ini mengandalkan genset.  Terdapat dua rumah yang memiliki genset.  Untuk menyalakan genset ini diperlukan bensin 1 liter dengan harga eceran Rp. 7.000,- yang dibeli di kampung Ndoko Desa Bu Selatan yang jaraknya 2 km dan juga di kampung Gaikui yang jaraknya 3 km. Waktu menghidupkan genset ini mulai jam 7-9 malam. Di kampung ini tidak ada yang memiliki televisi dan radio. Genset ini tidak setiap hari dihidupkan, tergantung ketika memiliki uang.

Sedangkan kebutuhan akan air bersih warga diperoleh dari mata air Wona yang berjarak sekitar 2 km dari pemukiman. Harga selang sebagai sarana mengalirkan air cukup mahal. Waktu itu harga selang Rp. 2.500.000,- per gulung yang panjangnya 250 meter. Selang itu khusus didatangkan dari Surabaya. Secara fisik selangnya berwarna hitam seperti selang pembungkus kabel bawah tanah dan sangat keras.

Mata air tersebut tidak pernah kering. Waktu  musim kemarau  debit airnya memang turun namun tidak sampai kering. Sarana air bersih yang disalurkan oleh selang ½ dim yang waktu itu difasilitasi PLAN  tidak sampai pada bak air yang telah mereka bangun. Selang itu harus dibagi untuk mengalirkan air pada warga Kampung Wolobela yang merupakan kampung tetangganya. Akibatnya penyaluran air saat itu terhenti karena kurang panjangnya selang. Jarak selang yang mengalirkan air terakhir dengan bak air  hanyan sekitar 100 m. Kondisi baik air itu  sekarang  rusak dan tidak terawat.

Sebenarnya warga secara bersama-sama pernah berupaya menambah saluran air dari program PLAN itu dengan bambu agar sampai ke bak penampungan. Namun banyak bambu yang dirusak oleh anak-anak. Kondisi itu membuat warga enggan untuk memperbaiki saluran tersebut.

KEBERSIHAN DAN KESEHATAN
warga_kampung_puuaraUntuk kegiatan mandi dan BAB (buang air besar) masyarakat melakukannya di kebun atau di ladang. Kadang untuk anak-anak BAB dilakukan sekitar rumah saja. Limbah BAB anak itu langsung dimakan anjing dan babi peliharaannya. Sedangkan untuk kegiatan mandi orang dewasa dan anak-anak melakukan ketika sudah merasa kotor badannya atau 2-3 hari hari baru mandi. Mereka tidak memakai sabun dan gosok gigi.
 
Persalinan bayi di kampung Puuara tidak dibantu oleh bidan desa atau di rumah sakit. Kaum ibu yang akan melahirkan dibantu oleh Maria Aleksia (69 tahun) yang di kampung itu  sering disebut Dukun Kampung. Dia belum pernah diberikan pengetahuan dari kader posyandu atau dinas terkait dalam pendidikan persalinan bayi. Pengetahuannya diperoleh dari neneknya. Seingat dia sudah 7 bayi yang dibantu dalam kelahirannya dengan selamat semua. Pernah sekali dia menolong persalinan namun bayinya sudah mati dalam kandungan.

Untuk biaya membantu persalinan dia tidak pernah diberi uang, Kadang hanya diberi sirih pinang. Warga kampung itu semuanya memang masih memiliki ikatan kekeluargaan. Sedangkan untuk menjangkau Polindes desa di kampung Nuamuri yang berjarak 45 km harus ditempuh dengan jalan kaki dengan menyusuri bukit dan sungai. Di Polindes untuk pengobatan dan persalinan tidak dikenakan biaya apapun kecuali biaya pendaftaran sebesar Rp. 1.000,-  sekali saja. Rata-rata warga di kampung Puuara ini juga berobat ke Polindes atau membeli obat di Pasar Tedhumage Renggarasi. Obat yang sering dibeli adalah obat Insana, Antalgin, Parasetamol, Amoxilin. Harga obat itu sekitar 3  sampai 10 ribu rupiah. Penyakit yang sering dirasakan oleh warga seperti batuk, pilek, malaria, pusing dan diare ketika musim penghujan. Untuk obat tradisional mereka jarang sekali menggunakannya.

PENDIDIKAN
Anak-anak usia sekolah dasar di kampung Puuarai bersekolah di SD Wolobela di sebelah barat daya dengan menuruni bukit dan melewati sungai. Anak-anak itu untuk ke sekolah harus menempuh jarak 2 km dengan medan yang kemiringan 45 derajat dan waktu tempuh 1,5 jam ketika berangkat dan 2 jam untuk pulang. Ketika musim hujan tiba, Sungai Lika Songgo yang terletak di bawah perkampungan ini kadang banjir. Ketinggian airnya bisa mencapai  2 meter, sementara  lebar sungainya 5 meter. Hal ini membuat anak-anak yang bersekolah tidak bisa  bersekolah.

Di kampung ini terdapat  3 anak yang berhenti sekolah di kelas 3 karena jaraknya yang jauh. Biaya pendidikan untuk sekolah di SD negeri ini tidak dipungut biaya. Biaya dikenakan dengan pendekatan KK, misalnya satu KK memiliki 3 anak yang bersekolah di SD tersebut, maka KK tersebut membayar Rp. 5.000,- per bulan yang di bayar setahun sekali. Hal ini juga sama diterapkan jika ada KK yang memiliki 1 anak saja. Biaya itu dipergunakan untuk menggaji guru yang belum pegawai tetap atau PNS. Sedangkan untuk tingkat SMP anak dari kampung Puuara bersekolah di SMP di kampung Nuaria di desa Detubinga sebelah timur kampung.

PEREKONOMIAN
Warga di kampung di kampung Puuara  seluruhnya adalah petani pemilik sekaligus penggarap ladang atau kebun. Mereka memiliki lahan yang luasnya 1-3 hektar yang tersebar di sekitar pemukimannya. Namun ada juga yang lahannya  jauh dari pemukiman (sekitar 1-2 km). Mereka menggarap lahan dengan model ladang berpindah. Ladang berpindah ini biasanya mereka garap selama 3-5 tahunm, setelah itu mereka pindah ke lahan yang lain. Di  kawasan ini lahan yang dimiliki sangat luas dan lokasinya di daerah perbukitan. Menurut warga, untuk menggarap semua lahan  jika tidak dengan pola berpindah-pindah akan  menghadapi kendala tenaga dan waktu. Dalam pembukaan lahan baru, mereka membersihkan lahan yang akan ditanami  dengan cara menebang pohon dan membakar rumput yang tersisa.

ibu_warga_puuaraKomoditi yang mereka geluti adalah tanaman kemiri, kakao dan kopi. Sekarang harga kemiri berkisar Rp. 18.000,00/kg. Untuk harga kakao Rp. 12.000,00/kg dan kopi Rp. 20.000,00 per kg. Hasil ini  dijual pada pengepul di dusunnya. Setiap hari selasa pengepul menjual kembali pada pedagang Cina dari Maumere di Pasar Renggarasi. Di kampung ini tidak terdapat kios atau warung untuk keperluan sehari-hari seperti gula dan garam. Kios terdekat di kampung Gaikui dan Ndoko yang berjarak 1-2 km.

Di Kampung ini terdapat satu pondok pembuatan minuman beralkohol atau moke dari pohon aren yang dimiliki oleh Yohanis Thomas. Hasil moke ini dijual ke Pasar Renggarasi. Hasil pembuatan moke juga dibagi tingkatan kelas. Dari kelas 1 yang sering disebut kelas bakar nyala sampai kelas 4. Harga per botol ukuran 700 ml tergantung kelasnya. Satu botol antara  Rp.20.000,-  sampai Rp.50.000,-.

Untuk budidaya tanaman pangan, mereka menanam padi ladang merah dan hitam, jagung, kacang tanah, canthel (lolo), ubi kayu dan ubi jalar. Tanaman umbi-umbian untuk ketersediaan pangan mereka antara lain keladi (rose). Untuk tanaman sayuran seperti  daun ubi kayu, labo, lombok juga dibudidayakan. Di sini juga terdapat tanaman empon-empon seperti  jahe, kunyit dan lengkuas. Hasil panen mereka disimpan di lumbung (kebo) yang terdapat di sekitar rumah. Sekarang di kampung Puuara hanya tinggal 2 rumah yaitu Nikolaus Sele dan Yohanis Thomas. Sedangkan yang lain berada jadi satu dengan rumah induk.

ANCAMAN BENCANA
sulistyoSetiap tahun sebagaimana di  kampung yang lain, di desa Bu Utara, kampung Puuara juga dilanda angin kencang yang terjadi sekitar bulan Desember sampai April. Ancaman angin kencang itu sering membuat seng atap rumah terangkat atau terbang, namun tidak ada rumah yang rusak parah. Dahulu rata-rata rumah di sini rumah berbentuk panggung. Namun sekarang hanya satu rumah saja yaitu rumah Martha Dee. Ada rumah yang dahulunya panggung sekarang panggungnya hampir menempel di tanah sepertinya rumahnya  Nikolaus Sele, Domianus Bedo dan Revinus Dorus.

Ketika terjadi bencana angin, masyarakat menyimpan ubi kayu dan jagung untuk persediaan makan yang disimpan di lumbung dan di rumah. Persediaan itu terbatas 2 hari saja. Ketika terjadi bencana angin dan kebetulan persediaan pangan habis, mereka terpaksa mengambil ubi kayu, keladi di ladang dan kebun. Hanya kaum laki-laki dewasa yang mengambil ubi kayu di ladang atau kebun mereka karena mereka harus melawan angin kencang. Mereka sering khawatir angin kencang itu merobohkan pohon dan menimpa orang. Dalam pengolahan pangan ubi kayu dan jagung hanya di rebus dan dibakar saja.

Untuk bencana tanah longsor (kora bere) pernah terjadi tahun 1973 yang menewaskan 3 orang. Mereka yang menjadi korban bencana tanah longsor itu adalah Pada, Siwe dan Mbitu. Mereka berusia antara 26 tahun – 30 tahun. Tanah longsor tidak terjadi di pemukiman, namun terjadi di ladang atau kebunnya yang kebetulan di daerah sungai Muretre di bawah perkampungan. Tanah longsor ini terjadi di siang hari saat hujan lebat. Bencana itu terjadi  di bulan April 1973 dan masih diingat oleh warga kampung itu. Tanah longsor terjadi lagi pada tahun 1974 yang menewaskan Paulus yang kebetulan beradadi ladang. Bencana itu terjadai di siang hari saat musim hujan.

ibu_anak_warga_puuaraSelain tanah longsor dan angin, kampung Puuara pernah mengalami bencana kelaparan pada tahun 1978 sampai tahun 1980. Kelaparan terjadi karena tidak adanya persediaan pangan yang bias dimakan. Saat  itu memang terjadi musim kemarau yang sangat panjang. Berdasar ingatan warga, ada 70 orang menderita busung lapar baik anak-anak maupun orang dewasa. Untuk mengisi perut dan pangan, mereka memakan buah kolang-kaling (fole moke), keladi (rose), batang pisang (ares) dan ondo (ubi hutan) atau gadung. Cara mengolah buah kolang kaling atau fule moke hanya dibakar dan diambil isinya lalu dimakan. Cara mengolah keladi hanya direbus lalu dimakan. Sedangkan batang pisang diiris-iris kecil terus dijemur dan dibuat tepung. Untuk  gadung diiris-iris tipis terus direndam air garam selama 3 hari, lalu dicuci dengan air yang mengalir atau disungai dan dijemur dan kemudian direbus.

Saat terjadi bencana kelaparan waktu itu,  seorang romo dari Jawa Frans Sarjono melihat langsung kondisi di kampung dan sekitar dusun Wolobela. Hasil pengamatan disampaikan pada pihak-pihak lain di Jakarta. Tidak lama kemudian datang bantuan beras dengan helikopter setiap hari selama 6 bulan yang mendarat di depan kantor desa yang saat itu berada di dusun Wolobela. Helikopter datang dengan membawa berkarung-karung beras untuk desa-desa yang dilanda bencana kelaparan, misalnya  desa Bu Utara, desa Renggarasi, desa Detubinga, Desa Bu Selatan, desa Watuweti. Setiap rumah diberikan beras satu karung untuk satu minggu. Kemudian disusul tenaga medis dari gereja dan pemerintah yang datang untuk memberikan pelayanan kesehatan. Penyakit yang banyak terjadi saat itu penyakit ISPA, diare dan busung lapar.

Melihat kondisi ini, pemerintah pada tahun 1980 menawari masyarakat untuk program transmigrasi lokal ke Pati Sumba di Kabupaten Sikka di sekitar pantai utara di timur laut dan Irian Jaya. Namun tidak semua warga bersedia ikut program tersebut. Mereka beralasan tidak mau meninggalkan tanah nenek moyang.

Dari tahun ke tahun penduduk Puuara pindah dan tinggal di kampung lain. Ketika seorang warga Donbosko Mara beusia 28 tahun ditanya apakah  nanti kampung Puuara ini akan hilang karena ditinggalkan warganya, ia menjawab bahwa itu tidak akan terjadi.

“Tidak mungkin. Di tanah  ini ada leluhur kami,” jawabnya tegas sambil menunjuk ke sebuah makam orang tuanya di depan rumahnya.  

Jika sekarang ada orang yang pindah itu hanya ada 3 alasan saja. Pertama  karena alasan air, kedua listrik dan ketiga karena sarana jalan. Sementara untuk masalah pangan masih cukup berlimpah yang bisa diperolehnya dari  kampung yang lain. Sedang untuk akses jalan sudah diinisiasi warga dari kampung Nuamuri Desa Detubinga ke kampung Puuara. Untuk menuju kampung ini memang hanya bisa melalui jalan setapak melewati bukit, jurang dan sungai.
(Sulistyo)
 
sulis_2
 
***


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design