Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » Program DRR Merapi :

Program DRR Merapi :
 
Posted : Thu, 31 January 2013 - 09:43 (2289 views)

Program DRR Merapi :
Pelatihan Manajeman Barak dan Logistik

Salah satu program yang dilaksanakan oleh tim LPTP bekerja sama dengan IOM pada program DRR di kawasan Merapi adalah meningkatkan pemahaman dan ketrampilan dalam manajemen logistik (logistic handling) dan manajemen barak/shelter (camp management).  Peningkatan disesuaikan dengan standar minimum yang harus dipenuhi dalam upaya tanggap bencana yang dilakukan tim siaga desa.

Para  aktivis PRB tiga desa di kawasan Merapi yakni dari Desa Umbulharjo, Kepuharjo dan Wukirsari selama dua hari mengikuti pelatihan manajemen barak dan logistic di Hotel Eden II Kaliurang DIY. Beberapa narasumber dihadirkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta.

Secara khusus pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan penguasaan dalam pengelolaan logistic dan barak bagi tim siaga desa. Selain itu juga memahami tugas dan tanggungjawab dalam mengelola logistic dan barak. Juga agar terdapat sinergi antara kegiatan tim siaga bencana desa dengan forum PRB dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dalam situasi darurat bencana alam.

1_suasana_pelatihan_manajemen_barak_dan_logistikDari pelatihan ini diharapan mereka yang mendapat tugas mengelola logistik pada waktu terjadi bencana semakin memahami tugas-tugasnya, mampu mengidentifikasikan kebutuhan dasar pengungsi, mampu menginventarisir logistik, memahami alur distribusi logistik dan memahami pengelolaan gudang logistik. Sedangkan bagi mereka yang menekuni pengelolaan barak mampu mengidentifikasikan kebutuhan dasar barak, mengetahui standar minimum pengelolaan air bersih dan sanitasi barak pengungsi dan kebutuhan dasar lain di barak serta sarana penting lain yang perlu disediakan dalam barak atau shelter.

Pelatihan ini dipandu oleh fasilitator utama Iskadar Leman dan metode yang diterapkan adalah sharing pengalaman serta diskusi kelompok. Keaktifan peserta diutamakan. Beberapa narasumber dihadirkan untuk berbagi pengalaman yang diharapkan semakin memperkaya pengetahuan para peserta.

3_fasilitator_utama_dari_mpbiDalam pengantarnya, Iskandar Leman mengatakan bahwa hasil akhir dari pelatihan itu diharapkan para peserta mampu mengidentifikasi logistik sebagai kebutuhan dasar, menguasai teori dan praktik pengelolaan logistic, mampu mengidentifikasi jenis pelayanan yang harus tersedia  di barak serta mengidentifikasi sarana dan prasanar vital di barak.

Dalam manajemen logistic menyangkut produsen, distributor, pengecer, pemasok, logistic dan konsumen. Sedang sasaran dalam logistic menyangkut pengguna logistic, layanan yang tepat sesuai kebutuhan, jaminan mutu serta pelaksanaan yang penuh tanggung jawab. Secara khusus hirarki logistic berkaitan dengan operasional yang berhubungan pengaturan kendaraan, pemasok, pencatatan, paket jadwal, penyaluran, perawatan. Kemudian taktis yang berhubungan dengan transportasi, rancangan gudang, rencana penyimpanan dan model pencatatan. Selanjutnya menyangkut strategis yang berhubungan dengan manajemen rantai pasokan.

Untuk mengetahui seberapa jauh pengalaman masing-masing peserta dalam pengelolaan logistic diselenggarakan diskusi dan presentasi masing-masing kelompok. Masing-masing mengutarakan pengalaman baik yang diperolehnya dalam pengurusan logistic dan pergudangan serta kesulitan dan masalah penyimpanannya. Hasil dari diskusi kelompok itu kemudian secara bergantian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok.

Untuk memperluas pengetahuan para peserta dihadirkan narasumber dari BPBD Sleman yang pada waktu erupsi Merapi 2010 ikut menangani logistic dan barak pengungsi. Makwan dari BPBD secara ringkas menguraikan pengalamannya saat menangani logistic dan barak pengungsi di stadion Maguwoharjo pada erupsi Merapi tahun 2010 lalu. Makwan juga menyinggung standar minimal jenis logistik sesuai PERKA BPPB No 7 tahun 2008 yang menyangkut logistic pangan, non pangan, sandang, air bersih dan pelayanan kesehatan.

5_narasumber_dari_koremNarasumber selanjutnyan Yuli Eka dari FPRB menyampaikan pengalaman FPRB dalam tanggap darurat kebencanaan. Ia juga menyinggung sekilas perjalanan FPRB Jogya yang dibentuk setelah gempa Yogja 2006.

Selanjutnya dari Korem 027 yang diwakili Letkol Indro memaparkan peran Korem dalam setiap bencana. Menurut Letkol Indro peran korem jika ada bencana adalah melakukan enanggulangan bencana alam tanah longsor, penanggulangan bencana alam banjir, penanggulangan  bencana gunung meletus, penanggulangan bencana alam kekeringan, pembinaan kemanan wilayah dan menyelenggarakan Bakti TNI.

Selesai presentasi itu masih dilakukan diskusi yang menarik para peserta untuk bertanya atau mengeluarkan pendapatnya. Diskusi itu berlangsung hingga menjelang magrib. Karena waktu yang terbatas maka setelah itu kegiatan pelatihan pada hari pertama diakhiri.
 
Hari Kedua
Pelatihan manajemen barak dan logistic hari kedua diawali dengan evaluasi ringkas hari pertama oleh perwakilah peserta. Sesi pertama hari kedua  membahas tentang Perka BNPB no 7 tahun 2008 tentang pedoman tata cara pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar dan Proyek Sphere tentang piagam kemanusiaan dan standar minumum dalam respons kemanusiaan.

Sphere meyakini bahwa penduduk terkena bencana atau konflik mempunyai hak atas hidup bermartabat, sehingga mempunyai hak atas bantuan Semua langkah yang memungkinkan harus dilakukan untuk mengurangi penderitaan manusiawi akibat bencana atau konflik.

7_diskusi_kelompok
 
Selesai pembahasan itu dilanjutkan dengan diskusi dan presentasi kelompok tentang barak. Bagaimana menentukan lokasi barak dan apa sajayang harus dilakukan untuk menjamin kemudahan akses bantuan, kebutuhan dasar apa yang harus ada dalam barak, apakah penyelenggaraan manajemen barak pengungsian berdasar pengalaman saat ini sudah memenuhi kriteria standar minimum dan apakah standar minimum dalam PERKA BNPB no 7 tahun 2008 dan Sphere bisa diaplikasikan dalam kegiatan manajemen barak saat ini  menjadi topic diskusi dalam sesi pertama ini.
 
 
Para narasumber kembali berbagi pengalaman. Narasumber dari BPBD Jateng melakukan presentasi. Materi yang disampaikan juga masih berkait dengan Perka no 7 tahun 2008. Kemudian dari Rekompak mempresentasikan tenang pembelajaran sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Masalah sanitasi sering terabaikan dalam pengungsian. Sering sanitasi ini dinomorduakan padahal sangat penting dan menyangkut kesehatan pengungsi. Itu yang menajdi topic bahasan dari Rekompak.

Dari Dinas Sosial Kabupaten Sleman menyampaikan tentang peran yang diambilnya pada saat terjadi bencana alam. Ada tiga fase peran Dinas Sosial yaitu fase kesiapsiagaan, fase tanggap darurat dan fase rehabilitasi dan rekonsiliasi. Secara umum ada tiga tugas pokok dinas social yang menyangkut kebencanaan yaitu logistic supplies, temporary shelter dan pendampingan social/psikososial.

Setelah dari dinas social dilanjutkan dari DKK Sleman yang menyampaikan pelayanan kesehatan. Pengalaman DKK Bantul cukup luas karena pernah terlibat dalam pelayanan kesehatan saat gempa Jogya dan erupsi Merapi.

Sementara dari AJI menyampaikan peran media sebagai penyampai informasi saat terjadi bencana. Jurnalis punya pengalaman dengan gempa pada tahun 2006 dan erupsi Merapi  tahun 2010. Media  massa ikut berperan serta menggalang bantuan baik itu berbentuk materi yang disalurkan ke korban bencana. Media massa juga mencoba mengkomunikasikan hal-hal yang dibutuhkan mereka yang menjadi korban.

8_menyusun_presentasiSesi terakhir pada hari kedua ini adalah penyusunan RTL (Rencana Tindak Lanjut)  masing-masing desa. Mereka yang sebelum berpencar gabung dengan desa lain kembali ke desanya masing-masing. Tiga kelompok yakni dari desa Umbulharjo, Kepuharjo dan Wukirsari kemudian  menyusun RTL.

Meskipun melelahkan namun agenda pelatihan itu bisa purna saat sore hari. Fasilitator pelatihan berharap apa yang diperoleh selama dua hari itu mampu meningkatkan kapasitas peserta dan semakin memudahkan dalam menjalankan tugasnya sebagai relawan. Demikian pula harapan dari LPTP dan IOM sebagai penyelenggara kegiatan pelatihan itu.
 

 
===


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design