Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » Program DRR Merapi :

Program DRR Merapi :
 
Posted : Thu, 31 January 2013 - 09:40 (3993 views)

Program DRR Merapi :
Penguatan Jaringan Forum PRB Desa
 
Pada penghujung tahun 2012, tim LPTP bekerja sama dengan IOM menyelenggarakan workshop pengelolaan jaringan FPRB (Forum Penanggulangan Risiko Bencana) desa. Workshop diikuti oleh wakil dari tiga desa yakni perwakilan dari Desa Umbulharjo, perwakilan Desa Kepuharjo dan perwakilan dari Desa Wukirsari. Semuanya berada di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman. Agenda utama dari workshop ini adalah melakukan koordinasi tim siaga bencana desa dengan tim promosi desa serta  sektor usaha sehingga tercapai kesepahaman yang tangguh secara ekonomi dan tangguh terhadap bencana.

Workshop yang diselenggarakan selama dua hari itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan komitmen tim siaga bencana dan tim promosi desa terhadap upaya-upaya PRB (Pengurangan Risiko Bencana). Lewat workshop itu diharapkan terjadi peningkatan kesadaran, pemahaman akan tanggung jawab tim dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan desa. Antara  tim siaga bencana desa dan tim promosi desa juga semakin memahami keterkaitan peran dan aktivitasnya dengan forum PRB desa. Dalam hal yang berkait dengan sektor usaha desa diharapkan terdapatnya jalinan dan kerja sama yang baik dalam usaha pengurangan risiko bencana.

Dengan workshop ini diharapkan terjadi penguatan forum DRR atau forum PRB. Para peserta yang mengikuti workshop diharapkan memiliki kemampuan membangun jejaring dalam  forum PRB. Selain itu para peserta diharapkan kian menyadari peran dari ketangguhan ekonomi desa dalam upaya penanggulangan risiko bencana di desanya. Juga menguatkan jejaring antar tim forum PRB desa.

1_narasumberWorkshop diselenggarakan dengan pendekatan partisipasif dengan mengapresiasi berbagai pengalaman peserta. Sharing pengalaman dan diskusi intensif di antara peserta dapat semakin menambah wawasan peserta dalam pengurangan risiko bencana.

Dari workshop selama dua hari ini diharapkan peserta semakin memahami peran penting forum PRB di tingkat desa, menyusun rencana aksi PRB dengan koordinasi BPBD, menjadi anggota komunitas yang peka, tanggap dan tangguh terhadap bencana, terdorong dan memiliki kemampuan berpartisipasi dalam PRB serta memahami konsep desa tangguh.
 
 
Narasumber yang hadir pada hari pertama workshop adalah dari BPBD Kabupaten Sleman dengan topik bahasan desa tangguh bencana berdasarkan Perka BNPB no 1 tahun 2012. Narasumber kedua dari Forum PRB DIY yang membahas aturan hukum keberadaan Forum PRB platform lokal pengurangan risiko bencana di tingkat desa.

Asih narasumber dari BPBD Sleman menyampaikan materi desa tangguh di kawasan rawan bencana. Menyikapi terjadinya banyak bencana di Indonesia, berbagai  kementerian membuat model desa tangguh. Sebenarnya prinsipnya sama. Maksudnya juga sama yaitu agar desa di kawasan rawan bencana memiliki ketangguhan terhadap risiko bencana.

“Desa yang didampingi LPTP seperti Umbulharjo  dan Kepuharjo  merupakan desa yang sudah tangguh menghadapi bencana Merapi. Mereka berkali-kali sudah menghadapi bencana dan praktek langsung saat bencana terjadi. Itu sebenarnya yang membuatnya tangguh. Berhadapan langsung dengan bencana dan mengalaminya membuatnya tahu bagaiamana menghadapi bencana. Pengalaman yang diterimanya membuatnya tangguh saat bencana terjadi. Itulah ketangguhan dua desa ini,” demikian di katakan Asih.

Untuk Desa Wukirsari karakternya beda dengan Umbulharjo  dan Kepuharjo. Desa ini merupakan 2_presentasidesa penyangga. Daerah  penyangga sama pentingnya dengan Desa Umbulharjo dan Kepuharjo. Mereka tetap siaga meskipun tidak langsung terkena bencana sebagaimana dua desa tadi. Sebagai desa penyangga, maka Wukirsari akan kedatangan tamu dari desa siaga seperti Umbulharjo dan Kepuharjo yang terpaksa mengungsi.

Pada sesi kedua tampil narasumber Danang Samsurizal dari Forum PRB DIY. Secara ringkas Danang menyampaikan  perlunya keterlibatan masyarakat dalam setiap penanggulangan bencana. Sebagai upaya dalam pelibatan masyarakat secara penuh ini muncul konsep desa tangguh. Dengan desa tangguh diharapkan warga masyarakat desa itu memiliki kemampuan menghadapi potensi ancaman bencana dan mampu memulihakan diri setelah tertimpa bencana.

Danang juga menyampaikan peran forum PRB dalam penanggulangan bencana. Peran forum PRB antara lain:
  • Penyusunan  rencana aksi daerah pengurangan resiko bencana dengan koordinasi BPBD.
  • Melakukan  pengarusutamaan pengurangan resiko bencana bagi semua pemangku kepentingan menuju komunitas yang peka, tanggap dan tangguh terhadap bencana.
  • Melakukan  kampanye kesadaran, kesiapsiagaan dan kemandirian kepada masyarakat dalam menghadapi resiko bencana.
  • Berpartisipasi  dalam pengawasan penyelenggaraan penanggulangan bencana.
3_diskusi
 
 
Danang menyinggung pentingnya jejaring social dalam penanggulangan risiko bencana. Jejaring itu bahkan dikembangkan sampai ke desa-desa yang merupakan daerah terdepan dalam risiko bencana Merapi. Di masing-masing desa dekat kawasan puncak terutama yang paling sering terkena dampak bencana Merapi dibangun lingkaran diskusi dan juga dibentuk vocal poin yang berperan penting dalam menyikapi risiko bencana Merapi.
 
 
 
“Sekarang di DIY sedang membentuk Jogja sebagai jejaring unggul dalam PRB. Maksudnya adalah suatu koordinasi actor atau pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana di DIY yang dengan ikhtiar terakhirnya berusaha mewujudkan dan mempromosikan praktik-praktik standar terbaik dalam PRB sehingga layak menjadi pusat pembelajaran bagi komunitas dan daerah lain,” demikian di katakan Danang dalam presentasinya.
 
DIKUSI DAN SHARING PENGALAMAN
Hari kedua dari workshop ini lebih banyak diisi dengan diskusi dan sharing pengalaman antar peserta. Bertindak selaku fasilitator adalah Rahadi dari LPTP. Masing-masing perwakilan desa mempresentasikan bentuk-bentuk kegiatan yang sudah dilakukan dalam hubungannya dengan PRB. Dengan sharing ini masing-masing perwakilan desa bisa memahami apa saja yang telah dilakukan oleh desa-desa tetangganya.
 
5_diskusi_kelompokMasing-masing desa menginformasikan perkembangan forum PRB di desanya, kegiatan yang telah dilakukan dan juga kendala saat melaksanakan kegiatan. Dukungan dari pemerintah desa meskipun ada namun belum seperti yang diharapkan. Kendala lain seperti kurangnya SDM, pemahaman tentang PRB yang masih kurang serta faktor dana juga disampaikan. Dari presentasi itu masing-masing desa bisa mengetahui perkembangan dari kegiatan tim siaga desa yang tergabung dalam Forum PRB desa.
 
 
Satu hal yang sama-sama dirasakan oleh peserta workshop bahwa pasca erupsi Merapi 2010 banyak sekali lembaga, institusi baik negara maupun swasta yang berdatangan ke desa. Masing-masing membawa beragam program. Desa pun menjadi sibuk mengikuti beragam kegiatan itu. Namun kondisi begitu juga menghabiskan energi dan waktu dari masyarakat desa sendiri. Masyarakat desa yang seharusnya membangun dirinya sendiri kerap terbawa arus mengikuti berbagai program yang kadang tidak relevan dengan kebutuhan desa.
 
Diskusi pada sesi yang kedua adalah pemaparan rencana peningkatan ketangguhan ekonomi serta menjabarkan peran tim siaga desa dan tim promosi desa. Ketangguhan ekonomi sangat diperlukan dalam situasi darurat bencana. Tanpa adanya ketangguhan semakin membuat masyarakat rentan dalam segala hal. Upaya-upaya untuk memperkuat ketangguhan ekonomi warga masyarakat diperlukan baik pada saat bencana maupun  pasca bencana. Meskipun ini bukan pekerjaan ringan namun beberapa langkah sudah dilakukan oleh warga masyarakat desa itu sendiri. Keberadaan tim promosi desa diharapkan semakin meningkatkan upaya ketangguhan ekonomi warga. Tim ini mempunyai tugas mengangkat dan mempromosikan potensi daerah lereng Merapi hingga memiliki nilai ekonomis lebih.
 
4_presentasi_02Cukup banyak yang diperoleh dari workshop selama dua hari ini. Semua  komponen yang ada dalam FPRB diharapkan dapat berjalan sinergis. Untuk itu perlu selalu ada koordinasi dan komunikasi, pembagian peran dan tanggung jawab yang tepat serta mekanisme pengambilan keputusan yang baik di Forum PRB desa.
 
Sebagai upaya peningkatan peran dalam jejaring pada forum PRB ini, narasumber dari FPRB DIY juga minta tim FPRB desa segera masuk dalam jejaring FPRB DIY. Untuk itu perlu ada tiga orang perwakilan dari masing-masing desa yang alamatnya akan dicatat dan mereka akan menjadi vocal point tingkat desa. Berdasarkan usulan warga masing-masing desa kemudian ditetapkan tiga orang yaitu Wiyono wakil dari Kepuharjo, Sriyono wakil dari Umbulharjo dan Joko Irianto wakil dari Desa Wukirsari.
 
Workshop dalam rangka pengutan jaringan FPRB desa itu berakhir saat hari sudah sore. Sebelum berpisah dilakukan foto bersama. Setelah itu para peserta kembali ke desanya masing-masing.

***


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design