Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » In Memoriam Founder LPTP

In Memoriam Founder LPTP
 
Posted : Wed, 26 December 2012 - 13:55 (1854 views)

 In Memoriam Founder LPTP
LPTP kembali berduka. Salah satu founder LPTP memenuhi panggilan Illahi. Bambang Agussalam yang biasa disebut BAS memenuhi takdirnya menghadap Illahi pada hari Kamis tanggal 20 Desember 2011 sekitar jam 11 malam. Sebelumnya almarhum menderita sakit dan dirawat di RS Cipta Mangunkusuma Jakarta. Khabar duka itu segera menyebar ke komunitas LPTP. Tak urung banyak sahabatnya yang terkejut.

Jenazah almarhum pagi-pagi benar diberangkatkan dengan ambulan menuju desa kelahirannya di Desa Balegondo Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan Jawa Timur. Saat orang baru selesai menjalankan ibadah sholat magrib, jenazah almarhum sampai di rumah duka, rumah ayah bundanya. Anak istrinya mengantarkannya.

Satu mobil rombongan takziah LPTP yang  lebih dulu datang segera menyambutnya bersama masyarakat desa. Bersamaan dengan itu juga datang dua mobil rombongan takziah LPTP yang lain yang segera berbaur melaksanakan sholat jenazah bersama dengan masyarakat setempat.  Selesai sholat jenazah, Budianto yang merupakan adinda almarhum memberikan sambutan sebentar kepada para takziah. Budianto melepas kakaknya dengan ikhlas dan berharap almarhum dimaafkan jika ada kesalahannya.

4_bas__sambutan_01
 
Di mata keluarga, almarhum dikenal sebagai saudara paling tua dari enam bersaudara yang dianggap baik dan penyabar.  Meskipun berdomisili di Jakarta, almarhum terkadang menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya menengok  ibu dan adik-adiknya. Di mata Budianto dan saudaranya, almarhum merupakan kakak yang selalu memberi semangat dan sering memberi pencerahan di saat mengalami kesulitan. Budianto meyakini kakaknya merupakan orang yang baik dan berharap jika ada kesalahan semasa hidupnya para sahabatnya berkenan memaafkannya.
 
 
Selesai sambutan dari keluarga, dari LPTP diberi kesempatan memberikan sambutan. Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS yang merupakan wakil ketua pengembangan SDM dan kelembagaan Dewan Pembina LPTP memberikan sepatah kata sambutan.

“Keluarga besar LPTP merasa kehilangan dengan kepergian Saudara Bambang Agussalam,” demikian di katakan Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS yang juga rektor UNS. “Namun jasa dan karya-karya almarhum akan selalu dikenang oleh para generasi penerus yang mengenalnya. Pada keluarga kami mendokan semoga selalu tabah dan sabar. Sakitnya almarhum suduh diusahakan kesembuhannya namun Allah punya rencana lain terhadap almarhum. Kita tentu berharap seluruh putra-putrinya  bisa meneruskan cita-citanya yang mungkin ada yang  belum terlaksana.”

5_bas_peristirahatan
 
Lebih lanjut Prof. Dr. Ravik Karsidi mengatakan, “Teman-teman dari Jakarta dan Bengkulu yang tidak bisa mengantarkan almarhum  tadi berpesan pada saya bahwa mereka ikut bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian almarhum. Kita  yakin almahum akan masuk surga dan dikumpulkan dengan para suhada.”

Setelah itu jenazah langsung dimakamkan di pemakaman keluarga di desa. Kawan-kawan almarhum dari LPTP dan dari desa mengantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir.

 
 
*

Kepergian Bambang Agussalam itu membuat orang yang mengenalnya kembali terkenang ke masa lalu. Selain almarhum Marsudi Sudjak dan almarhum Muzain Abdulwahab, almarhum BAS memiliki peran besar dalam pendirian LPTP. Ketiganya merupakan founder father LPTP.

Pada tahun 1978 beberapa orang muda  mendiskusikan sesuatu yang bisa dipakai untuk beraktivitas konkrit di masyarakat. Sesuatu itu harus  mampu memberikan sumbangan signifikan pada masyarakat dalam bentuk apa pun. Salah satu dari mereka adalah Bambang Agussalam.

Sebuah wadah yang terorganisir dengan baik menjadi sesuatu yang dibutuhkan untuk itu. Lewat organisasi itu diharapkan dapat menjadi tempat berkarya melakukan kerja sosial mencapai kemakmuran bersama masyarakat. Namun tidak mudah untuk mewujudkan itu.

2_bas
Setelah melalui berbagai proses diskusi cukup panjang, pada tanggal 10 November 1978 dideklarasikan LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) yang pada masa itu beralamat di Jalan Radio Dalam Gang Haji Zain Jakarta Selatan. LPTP ini diharapkan dapat menjadi wadah atau tempat berorganisasi yang dapat merealisasi idea aktivis-aktivisnya. Organisasi baru itu segera melakukan sosialisasi agar diketahui masyarakat luas. Aktivisnya  juga membuat jadwal bertemu dengan beberapa tokoh NGO di antaranya adalah bertemu dengan Dawam Raharjo (LP3ES) dan mendapat respon positip.
 
 
Sambil belajar dan bekerja kegiatan LPTP pada awalnya adalah  melakukan diskusi dan studi tentang model-model pembangunan, berusaha melakukan komunikasi intensif  dengan negara-negara donor dan lembaga sejenis di Eropa & AS. Selain itu juga melakukan penerjemahan buku TTG, kajian dan uji coba TTG. Beberapa bulletin, leaflet dan  brosur dibuat serta disebarluaskan.

Pada  awalnya organisasi itu belum memiliki struktur yang rapi karena masih mencari format organisasi yang tegas. Namun pengurus yang baru bisa segera dibentuk meskipun sangat sederhana. Mereka yang menjadi pengelola pada rintisan awal itu adalah Marsudi Sudjak (direktur), Muzain Abdulwahab (sekretaris) dan Bambang Agussalam pada biro teknik & penelitian.

Setelah hampir dua tahun berdomisili di Jakarta, LPTP pindah ke Surakarta. Kepindahannya itu dengan alasan untuk lebih mendekatkan diri pada komunitas yang akan dilayaninya.  Sejak  tanggal 12 Maret 1980,  LPTP pindah berdomisili di Surakarta. Di kota ini  BAS mengajak kawan-kawan lainnya untuk bersama-sama menjalankan LPTP, salah satunya Bagong Efendi Syarif. Aktivis-aktivisnya kebanyakan juga berasal dari kota ini. Pada saat di Surakarta itu  mulai  dipenuhi beberapa legalitas LPTP.

Meskipun   perlahan namun LPTP semakin menampakkan bentuknya dan semakin  menarik minat beberapa orang terutama dari UNS untuk ikut bergabung. Dari cikal bakal organisasi yang begitu sederhana itu ternyata LPTP mampu bertahan hingga lebih dari tiga dasawarsa hingga sekarang ini.

6_kegiatan_lptp_1999Almarhum BAS memang tidak selamanya berada di LPTP. Ia lebih banyak berada di Jakarta bekerja sebagai konsultan. Ia sempat menjadi direktur LPTP pereode yang kedua yakni pada tahun  1982 hingga 1984.

Pada tahun 1999 almarhum menjadi dosen di Akademi Teknik Adiyasa. Yang bersangkutan juga menjabat sebagai ketua PSPL (Pusat Studi Pengembangan Lingkungan) di Adiyasa. Beberapa kegiatan akademik dan riset pernah dilakukannya semasa di Adiyasa diantaranya adalah menjadi anggota team ahli dalam riset kerusuhan Solo yang dilakukan oleh LPTP.
 
 
Hubungannya dengan mahasiswa Adiyasa baik dan mentransformasikan budaya iptek pada para mahasiswa. Ia menjadi pendamping yang baik dari para mahasiswa teknik mesin dan teknik lingkungan pada masa itu. Bahkan ia menjadi tempat bertanya para dosen Akademi Teknik Adiyasa masa itu.

Di mata para yuniornya ia merupakan figur yang rendah hati, relijius dan memiliki semangat kerja yang tinggi. Meskipun termasuk salah seorang pendiri namun sikapnya bersahaja dan selalu memotivasi yuniornya untuk bekerja keras. Seringkali ia menjadi tempat konsultasi bagi para sejawatnya atau para yuniornya. Ia sangat menyukai berdiskusi dan sering lupa segala-galanya jika sedang berdiskusi.

Salah satu kegemaran almarhum adalah membaca. Ia merupakan figur kutu buku yang melahap buku-buku lokal maupun terbitan luar negeri. Referensi dari pendapatnya sangat bagus karena bacaannya yang luas itu. Kerap kali pendapatnya mampu memberi pencerahan dan membuka jalan dari kebuntuan.

3_bas_bersama_sahabat_lamanyaKegilaannya  pada buku itu memotivasi dirinya menjadi penulis. Pada waktu masih di Akademi Teknik Adiyasa beberapa artikel pendeknya dimuat di Solo Pos dan Bengawan Pos yang terbit di Solo. Jika yang bersangkutan membuat karya tulis baik itu artikel maupun makalah selalu memunculkan gagasan baru. Referensi dari tulisannya juga sangat kuat dan bagus.

Sejak tahun 2009, almarhum bersama Dawam Rahardja dan Bahcrul Ulum Zuhri menjadi anggota dewan komisaris PT Susdec LPTP. Beberapa kali almarhum di tengah kesibukannya sebagai konsultan di Jakarta menyempatkan diri hadir mengikuti rapat-rapat di PT Susdec LPTP. Jika berkunjung ke Solo inilah almarhum selalu menyempatkan diri untuk pulang ke desanya.

Kini almarhum telah pergi mendahului para sahabatnya.  Selamat jalan Mas Bambang Agussalam………………………….


***


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design