Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » Membangun Sistem Ketahanan Desa Dari Risiko Perubahan Iklim, Kerusakan Lingkungan dan Pengurangan Risiko Bencana

Membangun Sistem Ketahanan Desa Dari Risiko Perubahan Iklim, Kerusakan Lingkungan dan Pengurangan Risiko Bencana
 
Posted : Wed, 15 August 2012 - 13:10 (3936 views)

Membangun Sistem Ketahanan Desa Dari Risiko Perubahan Iklim, Kerusakan Lingkungan dan Pengurangan Risiko Bencana
Sejak awal  Juni 2012 team LPTP berada di NTT, tepatnya di Kabupaten Sikka dan Ende. Lima orang yakni Anton, Ilham, Sulis, Trasno dan Ade telah mulai membangun basis dan  melakukan berbagai hal dalam melaksanakan program pengurangan risiko bencana. Team yang ada dibantu oleh fasilitator lokal dan disupport juga oleh program advisor, program manager, office finance dan manajemen database.

Sampai dengan  November 2013 nanti team LPTP akan mengembangkan  sistem ketahanan desa  dengan fokus pemenuhan kehidupan yang berkelanjutan dari risiko perubahan iklim, kerusakan lingkungan dan pengurangan resiko bencana. Program ini hasil kerjasama dengan Cordaid. Program ini di NTT akan dilaksanakan pada dua kabupaten yakni Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka.  Untuk  kabupaten Ende dilaksanakan  di Desa Fatamari dan Desa Watuneso, Kecamatan Lio Timur.  Sedang  di Kabupaten Sikka dilaksanakan  di Desa Bu Utara, Kecamatan Tanawawo serta Desa Masebewa di Kecamatan Paga.

Berdasarkan Hazard Map BNPB, Kabupaten Ende dan Sikka ditetapkan sebagai zona merah dengan ancaman kebencanaan sangat tinggi. Jenis ancamannya multi hazard yaitu gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan angin rebut. Kawasan NTT merupakan kawasan rentan  krisis pangan. Kawasan pertanian subur sangat terbatas dan sangat rentan terhadap resiko dampak perubahan iklim dan disaster.

Kerusakan dahsyat sering terjadi pada lahan pertanian dan perkebunan yang ditimbulkan oleh angin ribut, serangan hama dan penyakit tamanan. Dampak perubahan iklim juga sudah dirasakan oleh masyarakat terutama di kawasan hulu (dataran tinggi) yakni tidak menentunya datangnya musim hujan dan musim kemarau serta angin ribut. Akibatnya petani sering merugi karena gagal tanam.

Desa lokasi program LPTP ini berada di daerah aliran sungai (DAS) yaitu dua desa di kawasan DAS Watunesso dan dua desa di kawasan DAS Kaliwajo. Desa-desa lokasi program merupakan satu kesatuan DAS mulai dari daerah tangkapan air kawasan hulu sungai (catchment area) sampai dengan hilir. Sebagai sebuah pendekatan kawasan ekosistem, kawasan hulu dan hilir merupakan satu kesatuan yang terintegrasi.

untitled3Desa-desa tersebut dipilih sebagai lokasi kegiatan setelah melalui pengkajian mendalam.  Kriteria yang digunakan untuk seleksi desa adalah dengan melihat posisi desa berada dalam kawasan DAS yang strategis dengan keragaman ekosistem hulu (forest area), ekosistem budidaya (river catchment area) dan ekosistem hilir (coastal area).  Selain itu juga memperhatikan sejarah bencana dan frekuesi kebencanaanya cukup tinggi serta ancaman resiko perubahan iklim secara realistik. Juga memperhatikan kecenderungan terjadinya  kerusakan ekosistem kawasan DAS, tingkat kerentanan masyarakat tinggi.  Desa calon lokasi juga dinilai memiliki potensi kapasitas yang memungkinkan untuk dikembangkan dan diperkuat. Selain itu accessibility, contacts, acceptability dan efektivitas  implementasi di desa tersebut.

Dalam melaksanakan program strategi yang dikembangkan dengan melakukan pengorganisasian dan memfasilitasi masyarakat dan pemerintah desa secara intensif. Pimpinan program dan fasilitator lapangan sepenuhnya  tinggal di desa lokasi program. Fasilitator akan membentuk dan menfasilitasi village field school di semua dusun sebagai wadah pembelajaran masyarakat dan mobilisasi sumberdaya lokal. Di samping itu juga memfasilitasi inisiasi-inisiasi masyarakat dan pemerintah desa dalam melakukan inovasi, adopsi dan adaptasi cara-cara dan teknologi tepat guna terutama dalam hal:

  1. Meningkatan produktivitas lahan pertanian untuk membangun ketahanan pangan melalui peningkatan produksi, diversifikasi produksi dan pengolahan sumber-sumber pangan lokal serta perbaikan pola budidaya tanaman lokal yang low exsternal input.
  2. Mengembangan energy alternative untuk menjamin ketahanan energi melalui peningkatan pemanfaatan sumber-sumber energi alternatif yang tersedia ditingkat lokal dan menurunkan penggunaan sumber-sumber energi fosil.
  3. Memperbaiki kerusakan ekosistem kawasan DAS dengan meningkatkan fungsi    kawasan resapan air (water catchment area) sehingga dapat menurunkan tingkat ancaman bencana banjir dan tanah longsor serta memproteksi sumber-sumber air konsumsi maupun irigasi. Caranya dengan memfasilitasi masyarakat dan pemerintah desa untuk menata kembali tata ruang desa dengan menyusun  masterplan tata ruang desa dan menyusun rencana konservasi desa, serta melakukan tindakan-tindakan konservasi dengan melakukan inovasi, adaptasi dan adopsi teknologi tepat guna.
  4. Mengintrodusir model pendidikan alternatif dengan menggunakan media popular untuk mendorong proses pembelajaran masyarakat yang efektif dan tepat guna serta memproduksi guideline-guideline teknis dan manua-manual pembelajaran riset partisipatif, manual-manual analisis, dan manual-manual participatory management terkait.
  5. Mempromosikan dan mengadvokasi pengalaman-pengalaman masyarakat dalam membangun sistem resilience berbasis sustainable livelihood ke stakeholder terkait.
Pendekatan dan  metodologi (approach and methodology)  untuk pelaksanaan program sebagai berikut :

a. Membangun Desa Tangguh
Membangun desa tangguh hakekatnya adalah menata kembali tatanan sosial budaya dan tatafungsi lingkungan yang selama ini menyebabkan timbulnya potensi resiko bencana. Desa tangguh dicirikan oleh:
  • Adanya  pemahaman warga desa mengenai potensi resiko.
  • Adanya kesadaran dan komitmen kolektif warga desa dan pemerintah lokal untuk menyusun rencana PRB(Pengurangan Resiko Bencana) desa.
  • Adanya tim atau komite desa untuk PRB.
  • Adanya kebijakan desa mengenai strategi dan rencana PRB.
  • Berjalannya aksi-aksi inovatif masyarakat untuk PRB dengan mengoptimalkan sumberdaya lokal.
  • Dimiliki dan dijalankannya sistem monitoring dan evaluasi PRB.
  • Terbangunnya forum/kelembagaan yang fungsional dan permanen dalam mengurangi resiko bencana.
  • Adanya kemampuan berkolaborasi dengan organisasi lain dalam PRB.
b. Mengembangan metode partisipatif.
untitled4Proses program pengembangan desa tangguh akan menggunakan metode, teknik dan media partisipatif antara lain: penelitian partisipatif (participatory research), dengan menggunakan teknik dan tools seperti pemetaan partisipatif, teknik analisa kecenderungan perubahan (trend and change), teknik analisa sejarah perubahan (historical analyses), teknik penelusuran (transect), teknik analisa hubungan kelembagaan (diagram venn), teknik analisa kesejahteraan (wealth ranking)  dan teknik-teknik partisipasi lainnya yang relevan.

c. Pengembangan sekolah lapang
Metode pendekatan sekolah lapang merupakan pendekatan utama dalam memfasilitasi proses kegiatan di lapangan. Dalam memahami dan penerapannya di lapangan tentang pentingnya pengelolaan ekosistem lingkungan melalui pendekatan analisis agroekosistem lahan bagi masyarakat pedesaan. Untuk itu dibutuhkan sarana dan prasarana melalui kegiatan proses belajar yang dibangun dari realitas lapangan dan masyarakat dampingan program. Pendekatan ini memungkinan peserta program akan terlibat secara aktif mulai riset partisipatif, uji coba, penerapan dan monitoring evaluasi dan refleksi.  Dari situ  akan lahir petani–petani ahli di desa. Ini yang akan memberikan pembelajaran bagi masyarakat desa setempat.

Metode yang telah dikembangkan LPTP selama ini disebut “metode apa ini”. Sekolah lapang yang diprediksikan akan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat yaitu sekolah lapang pertanian organik, sekolah lapang energi alternatif, sekolah lapang konservasi tanah dan air serta sekolah lapang pangan sehat.

Unsur-unsur utama yang harus ada dalam setiap sekolah lapang adalah learning group, facilitator proses, research process (topical), field laboratory (experimentation) dan learning media serta dokumentasi proses.

untitled5Antar sekolah lapangan yang ada di desa dan antar desa akan dibangun jaringan pembelajaran (linking and learning) melalui even pembelajaran yang di LPTP disebut field day. Field day ini akan berisi proses-proses monitoring, evaluasi dan refleksi serta kerjasama antar sekolah lapangan seperti saling mensupport dalam memenuhi kebutuhan benih/bibit tanaman,  saling memfasilitasi proses sosial, saling mensupport dalam proses riset.

Jaringan  pembelajaran antar sekolah lapangan di tingkat desa dan kecamatan ini bisa  merupakan embrio “sekolah transformasi sosial” yang akan dikembangkan dalam jangka panjang.  Melalui pendekatan sekolah lapang diharapkan tidak terjadi hubungan atas bawah (struktural) antara petugas lapangan dan masyarakat peserta program. Petugas bersama–sama masyarakat membangun proses belajar berdasarkan kesejajaran dan kebersamaan dengan pendekatan utama dialog kritis.

d. Pengorganisasian Berbasis Bukit
Bukit merupakan satu  kesatuan terkecil kawasan DAS ( Daerah Aliran Sungai). Bukit memiliki fungsi lingkungan yang sangat penting. Kerusakan bukit akan sangat mempengaruhi ekosistem kawasan. Karena itu sangat penting mendorong masyarakat di sekitar bukit untuk mengelola bukit sesuai dengan prinsip-prinsip sustainable environment. Pendekatan ini akan mendorong komunitas setiap bukit di dalam kawasan ini  bertanggungjawab pada pengelolaan bukit tersebut. Dari situ akan terjadi gerakan pengelolaan bukit dan secara otomatis kawasan DAS akan terkelola dengan sendirinya.   
 
e. Advokasi  
Pendekatan advokasi yang dilakukan diawali dengan penelitian secara komperhensif tentang ancaman, kerentanan, dan kapasitas yang berkaitan dengan DRR-CCA-EMR.  Kemudian dilanjutkan dengan memperkuat dan membangun sistem ketahanan desa. Setiap tahapan akan melibatkan pemerintah lokal, sehingga pemerintah akan mendapatkan pembelajaran dari proses ini. Dengan pendekatan itu maka pemerintah termotivasi untuk mengadopsi dan mereflikasi tahapan–tahapan dalam memperkuat sistem ketahanan desa di dalam proses pembangunan di wilayahnya dan memperkuatnya  dengan peraturan–peraturan desa. 
 
f. Gender mainstraiming
untitled6_02Perempuan memiliki kedekatan fungsional dengan sektor-sektor yang secara langsung terkait dengan isu bencana, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem seperti mencari dan memanfaatkan kayu bakar dari kebun dan hutan, pengembilan air bersih, pengelolaan lumbung padi, pengelolaan lahan tegalan dan sawah, perlindungan anak dan sektor lainnya. Untuk itu pengarusutamaan gender dalam program PRB sangat penting. Strategi yang  dijalankan adalah melibatkan sebanyak dan seintensif mungkin setiap proses kegiatan mulai dari produksi media kampanye peningkatan kesadaran warga terhadap PRB, pembentukan tim inti PRB, pemetaan dan analisa resiko bencana, penyusunan strategi dan kebijakan PRB desa, pelatihan-pelatihan dan pelaksanaan aksi-aksi inovatif PRB. Jadi peningkatan organisasi atau kelompok perempuan menjadi prioritas dalam program ini.

Beneficiary
Program dengan jadwal kegiatan padat ini diharapkan memberikan manfaat jangka pendek maupun panjang kepada masyarakat, pemerintah lokal dan kepada PfR (Partners for Resilience) termasuk kepada LPTP selaku pelaksana program.
Penerima manfaat dari program ini sebagai berikut :
  • Masyarakat di empat  desa yaitu masyarakat  Desa Fatamari, Desa Watuneso, Desa Bu Utara dan  Desa Masebewa. Masyarakat keempat desa itu diharapkan  tahu dan paham akan jenis ancaman, kerentanan dan terjadi peningkatan kapasitas yang berkaitan dengan DRR-EMR-CCA  didesanya.  
  • Tingkat PfR (Patners for Resilience) Program. Pada tingkat Institusi LPTP  program ini memberikan manfaat dan meningkat kapasitas  staf LPTP sebagai pelaksana program PfR. Itu terutama dalam hal konsep menyusun  instrumen longitudinal riset. Selain itu staf mampu membedakan  berdasarkan penyebabnya serta menjadi tahu berbagai ancaman, kerentanan dan meningkatnya kapasitas berkaitan dengan  CCA (Climate Change Analisis), DRR (Disaster Risk Dereduction), EMR (Ecosystem Manajemen Restorasi).
  • Bagi PfR Member  akan memberikan manfaat pada 9 anggota jaringan program PfR (NLRD : PMI, CARE : PIKUL, KARINA,  CARITAS KEUSKUPAN MAUMERE, INSIST : MITRA AKSI, NEN MAS ILL, SRP PAYO-PAYO, FIRD,  WETLANDS : WIIP) terutama   tentang konsep, metodologi dan tindakan–tindakan mitigasi untuk pangan, air dan energi berupa manual/tool dan guideline teknis pengembangan adaptasi dan mitigasi untuk pangan, energi, konservasi air. Nantinya ini  akan disebarluaskan ke PfR member dan bisa diadopsi di wilayah programnya. Selain itu juga  tersedia base line data.
  • Bagi pemerintah program ini akan memberikan manfaat pada 4 Pemerintahan Desa, sehingga pemerintah desa menjadi paham akan ancaman, kerentanan dan kapasitas yang ada kaitannya dengan DRR-EMR-CCA.  Pemerintah Desa akan memiliki data base tentang DRR-EMR-CCA untuk menjadi bahan dalam perencanaan pembangunan ditingkat desa. Pemerintah juga akan paham teknik menyusun anggaran berbasis kapasitas.
  • Bagi kedua pemerintah kabupaten (Ende dan Sikka) akan semakin paham untitled7_03terhadap ancaman, kerentanan dan kerentanan DRR-EMR-CCA dikabupatennya masing–masing. Pemerintah kabupaten menjadi tahu kebijakan–kebijakan yang menyebakan peningkatan maupun menurunkan ancaman, kerentanan dan kapasitasnya. Pemerintah kabupaten dapat menggunakan data hasil penelitian untuk bahan menyusun kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah.  Pemerintah Kabupaten mendapatkan model membangun sistem ketahanan desa dari ancaman bencana, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. 
  • Bagi Kementerian Lingkungan Hidup dari program ini akan  mendapatkan informasi tentang indikasi–indikasi dampak perubahan iklim di tingkat desa, upaya adaptasi dan mitigasi tingkat komunitas untuk menyusun perencanaan.  Kementerian Lingkungan Hidup menjadi tahu  akan pentingnya penggalian data dan informasi di tingkat mikro (desa) yang  berkaitan dengan ancaman, kerentanan, dan kapasitas tentang CCA-DRR-EMR  untuk menyusun satu kebijakan dan perencanaan pembangunan. Kementerian Lingkungan Hidup sadar pentingnya mengintegrasikan CCA-DRR-EMR dalam melihat satu ancaman, kerentanan, dan kapasitas di satu wilayah atau negara. 
  • Selain itu program ini akan menghasilkan manual/tool dan guideline untuk dipromosikan internal dan ekternal organisasi. SKPD dan Balai DAS Provinsi serta Kementerian PU mendapatkan data  tentang CCA-EMR-DRR di kawasan DAS Kaliwajo dan Watuneso indikasi–indikasi dampak perubahan iklim tingkat desa, upaya adaptasi dan mitigasi tingkat komunitas untuk menyusun perencanaan.  Kementerian PU menjadi sadar akan pentingnya menggali data dan informasi ditingkat mikro (desa) berkaitan dengan ancaman, kerentanan, dan kapasitas tentang CCA-DRR-EMR  untuk menyusun satu kebijakan dan perencanaan pembangunan. Konsep pengelolaan kawasan DAS berbasis bukit dapat dijadikan model alternatif pengelolaan kawasan DAS. Program ini akan memberikan manual/tool dan guideline untuk dipromosikan internal dan ekternal organisasi. (Purwono Yunianto)

 

 

struktur_1_600
 

 

 ***



Copyright © 2008 - 2019 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design