Biogas

TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
LPTP ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
MAGANG ENERGI DAN PERTANIAN ORGANIC  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF

KAMPUNG ...
 
AGENDA PENINGKATAN KERJA SAMA LPTP DENGAN KLH
Selama tiga hari LPTP,  ACIAR, Dinas ...
TRAINING PENGEMBANGAN PANGAN DAN ENERGI BERKELANJUTAN
SUSDEC SELENGGARAKAN SEKOLAH COLLABORATIVE RESEARCH
KUNJUNGAN PEMKAB  PONOROGO
PERUMUSAN WORKPLAN LPTP 2010
Inna lillahi wa inna illaihi rojiun. Dari Allah dan ...
LPTP SELENGGARAKAN RAKER  DI TAWANGMANGU



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » Desa Dampingan LPTP

Desa Dampingan LPTP
 
Posted : Wed, 07 July 2010 - 16:32 (256 views)

Desa Dampingan LPTP
 
PESTA RAKYAT DESA KETRO
Enampuluh persen dari 237 juta penduduk Indonesia bermukim di pedesaan. Jumlah desa di Indonesia lebih dari 67 ribu. Jadi lebih banyak rakyat Indonesia yang tinggal di desa daripada di kota.  Selama ini desa sering ditatap romantis oleh banyak orang. Mereka menganggap pada desa terdapat kedamaian,  kesederhanaan, kebaikan serta keindahan panorama.  Namun jumlah rakyat miskin yang tinggal di desa lebih banyak daripada di kota.

Pasca deklarasi kemerdekaan RI, upaya membangun desa yang terencana telah dilakukan.  Regulasi yang menyangkut desa diadakan dengan maksud mempermudah pembangunan masyarakat desa. Hingga sekarang pun pembangunan desa terus dilakukan meskipun kadang tersendat dan kerap dikalahkan kepentingan kota. Dengan berjalannya otonomi daerah maka pembangunan masyarakat desa lebih difokuskan pada empat bidang. Pertama peningkatan ekonomi rakyat, kedua transformasi teknologi, ketiga peningkatan kesadaran hukum rakyat desa dan keempat membangun demokrasi di tingkat desa.

Desa memang perlu dibangun dari segala arah. Partisipasi pihak mana pun dalam membangun desa dan dalam bentuk apa pun sangat dibutuhkan. Pembangunan dan hasilnya diharapkan dapat dinikmati oleh seluruh warganya sebagai proses edukasi untuk merubah sikap mental penduduk menjadi masyarakat yang partisipatif dan mendayagunakan sumber daya yang ada secara maksimum.

LPTP  sejak tahun 1978 telah berpartisipasi membangun masyarakat desa.  Jejak partisipasinya terlihat pada banyak desa tidak hanya di Jawa namun juga banyak yang di luar Jawa. Kali ini LPTP setelah cukup lama mendampingi masyarakat Desa Ketro Kabupaten Pacitan, mengajak masyarakat di desa itu berpesta.  Bukan pesta penuh hura-hura namun pesta yang melibatkan partisipasi masyarakat desa.
 
Sejak pagi sudah banyak anak-anak dan ibu-ibu yang berkumpul di pos desa Ketro. Dengan wajah gembira mereka mulai memenuhi tempat duduk yang sudah tersedia. Memang pagi itu, tepatnya tanggal 29 Juni 2010, warga Desa Ketro bekerjasama dengan PT. SUSDEC LPTP menggelar Pesta Rakyat.
 
1_lombaRangkaian acara pesta rakyat Ketro  diawali dengan lomba olahan makanan sehat dari umbi-umbian. Para peserta adalah ibu-ibu dari berbagai dusun dan RT di Desa Ketro. Mereka membawa hasil kreasi masakan dari umbi-umbian yang masih banyak dibudidayakan  desa. Ada 28 jenis olahan makanan umbi-umbian yang tertata rapi di meja siap untuk dilombakan. Ada makanan olahan dari singkong yang dibuat getuk, nogosari, tiwul, kolong, rengginan dan lain-lainnya. Ada juga yang berasal dari umbi bothe atau kimpul, yang dibuat getuk dan makanan ringan seperti stick dan taro. Tampilannya pun sangat menarik dan mengundang selera.
 
Untuk penjurian PT Susdec LPTP menetapkan  4 orang sebagai juri, yaitu 2 orang dari tokoh masyarakat, 1 orang dari pemerintah desa dan 1 orang dari LPTP. Kriteria penilaiannya adalah dari cita rasa, segi ekonomisnya  dan kreatifitasnya. Para juri berkeliling mencicipi makanan yang dilombakan dan mulai memberikan nilai.
 
Setelah penilaian dari juri, para peserta lomba makanan sehat diminta untuk menceritakan proses pembuatan makanan olahannya, mulai dari bahan dasarnya apa saja, berapa biaya yang dibutuhkan dan bagaiama penyajiannya. Sebagian besar ibu-ibu menceritakan dengan antusias, namun ada juga yang terlihat malu-malu menceritakan pengalamannya.
 
Selesai proses tersebut, makanan olahan umbi-umbian tersebut dilelang. Harganya dibuat murah, antara Rp. 500 – Rp. 5.000, bahkan ada yang digratiskan oleh ibu-ibu tersebut. Suasana pun makin ramai saat ibu-ibu berebut untuk membeli makanan sehat tersebut. Makanan yang gratis juga tak kalah ramai  diperebutkan oleh para pengunjung yang rata-rata adalah para ibu dan anak-anak.
 
Rangkaian acara selanjutnya adalah diskusi tentang makanan sehat dan proses penyediaan pangan desa dengan budidaya padi model SRI. Acara ini diselenggarakan di gedung RT setempat. Warga desa yang datang cukup banyak. Acara dimulai dengan pemutaran film ‘dilarang makan kerupuk'.  Sebuah judul yang mengundang rasa ingin tahu orang.
 
Kemudian peserta diajak diskusi tentang pangan sehat yang dapat dibuat sendiri dengan harga murah, pengaruh makanan sampah atau junk food pada tubuh manusia dan bagaimana kita memanfaatkan sumber pangan lokal yang ada di desa. Kegiatan diskusi ini dipandu oleh  Zamzaini, fasilitator senior  dari LPTP.  Zamzaini mengajak peserta untuk  diskusi bagaimana memenuhi pangan lokal khususnya padi dengan cara budidaya padi model SRI (System of Rice Intensification). Mulai dari sejarah SRI, cara budidayanya sampai hasil yang didapat menjadi topik diskudi yang menarik warga desa Ketro.  Acara diskusi bersama ini berakhir pada pukul 13.00  WIB.
 
2_lomba_anakSore harinya  acara dilanjutkan dengan lomba menggambar tingkat SD dengan tema kebencanaan. Ada sekitar 20 anak yang mengikuti lomba ini. Dengan wajah ceria dan sambil bercanda dengan teman-temannya, mereka menggambar diatas kertas putih yang dibagikan panitia. Anak-anak yang tidak mengikuti lomba juga terlihat senang melihat teman-temannya menggambar. Dengan peralatan gambar yang sederhana mereka mencoba menggambar tentang bencana yang ada di sekitar mereka.
 
Puncak acara pesta rakyat Desa Ketro adalah pentas seni pada malam harinya. Banyak penonton yang datang, baik dari Desa Ketro sendiri maupun dari desa lain seperti Desa Kalikuning, Desa Sanggrahan dan lain-lainnya.  Bahkan sejak sore penduduk yang ingin menonton  sudah mulai berdatangan dengan berjalan kaki, bersepeda dan ada juga yang mengendarai motor.
 
4_pentas_seni_02Di pinggir jalan yang kosong ada juga warga yang menggelar dagangan. Pengisi acara pada pentas tersebut adalah warga Desa Ketro sendiri. Tua muda dan  anak-anak  semua ikut berpartisipasi.  Ada yang mengisi dengan tarian, ludruk, hadrah, menyanyi dan lain-lain.  Acara dimulai dengan tarian anak-anak, nyanyian anak-anak, sambutan panitia, sambutan dan pembukaan oleh Kepala Desa Ketro dan Kepala Desa Kalikuning.  Pembacaan hasil lomba menggambar dan lomba makanan sehat juga disampaikan pada acara itu. Selanjutnya hiburan kesenian ludruk, hadrah dan musik dangdut secara bergantian tampil pada malam itu.
 
3_pentas_seni
 
 
Pesta itu meriah dan membuat gembira masyarakat. Pesta itu mengundang partisipasi masyarakat seluruh desa. Pesta rakyat ini juga menjadi  media kampanye penyadaran masyarakat dalam pengurangan risiko bencana. Untuk itulah  pesta rakyat  ini  mengusung tema  KITA BISA MENGURANGI RISIKO BENCANA.
 
***


Copyright © 2008 - 2010 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design