Posted : Wed, 07 April 2010 - 19:27 (672 views)
TRAINING PENGEMBANGAN PANGAN DAN ENERGI BERKELANJUTAN Dua staf LPTP menyelenggarakan pelatihan pengembangan pangan dan energi berkelanjutan di Tanimbar Kei dan Evu di kawasan Maluku Tenggara. Kedua staf itu, Rahadi dan Zamzaini, selama seminggu berada di daerah terpencil tersebut dan mengajak masyarakat untuk belajar bersama hal-hal yang menyangkut pangan dan energi berkelanjutan.
Tanimbar Kei merupakan pulau kecil yang terletak di Maluku bagian tenggara. Penduduknya tidak banyak dan pola hidupnya masih sederhana dan sarat dengan nilai tradisional. Secara administratif Tanimbar Kei berada di bawah Kabupaten Maluku Tenggara. Kabupaten Maluku Tenggara sendiri pusat pemerintahannya berada di Langgur.
Begitu sampai di lokasi kedua sraf LPTP menuju kantor Nen Masil di Langgur yang merupakan ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Di situ mereka melakukan diskusi dengan pegiat Nen Masil. Dari Nen Masil yang terlibat dalam diskusi adalah Fritz, Lisa, Vegy dan Ully. Dari diskusi itu dapat diketahui gambaran wilayah program di Tanimbar Kei. Hasil dari diskusi juga menyepakati agenda pelatihan yang akan diselenggarakan dalam minggu ini.
Berbagai sarana pendukung telah disiapkan untuk keperluan kegiatan seperti ATK, bahan praktek biogas dan tungku hemat energi serta lain-lainnya. Untuk sampai ke lokasi pelatihan perjalanan di bagi dua, satu kelompok berangkat naik speedboat dan satunya lagi menggunakan perahu besar karena harus membawa berbagai peralatan pelatihan. Tanimbar Kei yang menjadi lokasi kegiatan merupakan pulau kecil dan wilayahnya terbagi dalam dua kampung, yaitu Kampung Tua dan Kampung Muda. Kampung Tua dihuni oleh anggota masyarakat pemelihara adat. Di situ berdiam pemangku-pemangku adat dalam rumah adat yang sarat dengan warna tradisionalnya. Kondisi lahan di Kampung Tua ini didominasi batu karang. Untuk Kampung Muda dihuni oleh warga keturunan masyarakat adat dan pemangku pemerintahan. Lokasi Kampung Muda ini berada di bawah Kampung Tua dan kawasannya berpasir.
Tanimbar Kei merupakan wilayah dengan jumlah penduduk tidak padat. Meskipun demikian keramahan penduduknya terlihat nyata dari tegur sapa yang dilontarkan oleh mereka. Antara satu bagian dengan bagian lain dihubungkan dengan jalan berlapis cor beton. Di sepanjang jalan itu di kiri kanannya terdapat para-para yang digunakan untuk menjemur rumput laut.
Di wilayah Kampung Tua suasananya asri. Untuk menuju ke Kampung Tua harus melalui jalan setapak mendaki dengan kemiringan tajam. Bangunan tua terdapat di kampung ini dan dipelihara dengan baik. Juga terdapat kuil tua yang menjadi tempat ibadah warga masyarakat di situ. Lingkungan yang dijaga kelestariannya membuat kawasan itu rindang dan sejuk.
Untuk mencukupi kebutuhannya akan energi, penduduk desa ini menggunakan kayu bakar. Dari riset yang dilakukan diketahui setiap keluarga membutuhkan tiga ikat kayu bakar setiap harinya untuk keperluan memasak. Dengan jumlah keluarga sebanyak 100 KK maka dalam satu hari dibutuhkan 300 ikat kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan energi untuk keperluan memasak. Keluarga itu juga masih harus membeli minyak tanah untuk mensuport kebutuhan memasaknya. Sedang untuk keperluan sayuran mereka membelinya dari pulau lain. Rata-rata paling sedikit keluarga di situ harus mengeluarkan sepuluh ribu rupiah setiap harinya untuk keperluan memasak. Untuk membantu masyarakat mengurangi beban anggaran energy itu maka dilakukan pembuatan tungku hemat energi. Tungku ini dibuat bersama peserta pelatihan dan warga setempat. Tungku hemat energi ini mudah dimanfaatkan dan dikembangkan sendiri oleh warga masyarakat.
Pada pelatihan itu juga dilakukan uji kompor dengan bahan dari biji kemiri dan kopra. Sebelumnya kompor ini biasa menggunakan biji jarak sebagai pengganti minyak. Dengan bahan bakar kopra ternyata menghasilkan sumber panas yang lebih besar. Untuk mendidihkan satu liter air hanya diperlukan waktu antara 5 sampai 7 menit. Sedang jika menggunakan biji kemiri waktu yang diperlukan untuk mendidihkan air antara 5 sampai 10 menit.
Dari uji coba yang dilakukan bersama masyarakat dapat diketahui bahwa satu ons kopra dapat menyala antara 9-15 menit. Kalau menggunakan biji kemiri dapat menyala hingga 16 menit. Harga kopra juga jauh lebih murah di banding harga minyak tanah. Harga 1 Kg kopra di Tanimbar Kei hanya Rp 1.750,- Dengan demikian penggunaan bahan bakar dari kopra ini mampu menekan anggaran pengeluaran energi masyarakat Tanimbar Kei. Penggunaan kayu bakar sebagai sumber energi ini perlu dikurangi karena boros kayu dan rentan terjadi kebakaran. Kebanyakan kayu ini digunakan pada tungku biasa sehingga energi panas menyebar ke mana-mana dan tidak bisa efektif dimanfaatkan. Penggantian dengan tungku hemat energi lebih efisien pemanfaatan panasnya. Pembuatan tungku hemat energi ini bisa dilakukan dari bahan batu karang yang melimpah di sekitar situ.
Pada tanggal 25 Februari fokus pelatihan pada pengelolaan dan pemanfaatan lahan pekarangan. Sebelumnya lahan pekarangan yang ada tidak dimanfaatkan secara optimal. Pelatihan ini dimaksudkan untuk lebih memanfaatkan ruang-ruang pekarangan menjadi sumber sayur mayur rumah tangga. Tanah pekarangan dapat digunakan untuk budidaya tanaman sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, cabai dan lain-lainnya. Dengan demikian warga tidak perlu lagi membeli sayuran yang berarti juga mengurangi anggaran belanjanya.
Dalam kaitannya dengan pengembanan pekarangan, pada suatu bidang lahan sengaja digunakan sebagai model pengolahan sampah organik. Sampah organik ini akan diolah menjadi pupuk. Pupuk ini akan dipakai untuk mensupport pelaksanakan budidaya sayuran di lahan pekarangan. Ketercukupan akan pupuk akan memudahkan dalam mengembangkan lahan pekarangan.
Pengelolaan pekarangan sebagai tempat tanaman sayur di Tanimbar Kei perlu lebih dikembangkan untuk mencukupi ketersediaan sayur-sayuran pada keluarga di Tanimbar Kei. Pengembangan pekarangan ini perlu disupport dengan benih-benih sayur dari luar. Pengembangan pekarangan sebagai gudang sayuran segar ini bisa mengurangi anggaran belanja rumah tangga warga di Tanimbar Kei.
K egiatan pelatihan itu berjalan dengan lancar dan baik. Sikap masyarakat yang antusias untuk belajar mendukung kelancaran kegiatan pelatihan itu. Peserta pelatihan yang merupakan penduduk dari Tanimbar Kei menyambut gembira pelatihan itu dan menganggap pelatihan itu bisa membantu menyelesaikan masalah keseharian di lapangan. “Kami sejak lama menunggu adanya pelatihan ini. Bisa menambah pengetahuan dan membantu menyelesaikan masalah pekerjaan,” demikian kata seorang warga yang mengikuti training.
Seorang warga bahkan berminat pada pembuatan tungku hemat energi. “Ini bisa menghemat belanja energy kami,” katanya.
Untuk sumber energi yang berasal dari kompor berbahan biji jarak direncanakan untuk memodifikasi kompor agar sumber panas lebih efisien digunakan. Api yang banyak menjalar keluar akan dikurangi sehingga panas lebih tersentral pada sarana memasak. Seorang warga yang lulusan STM berniat memodifikasi kompor sehingga energi panas yang dihasilkan bisa lebih efektif dimanfaatkan.
Di Tanimbar Kei sebenarnya direncanakan untuk mengenalkan biogas sebagai salah satu sumber energi juga, namun ternak sapi kelihatannya tidak populer di daerah itu. Tidak adanya limbah ternak sapi itu membuat urung diperkenalkannya biogas pada masyarakat di daerah itu.
Setelah melakukan diskusi dan survei perencanaan, pelatihan dan pembangunan biogas di lakukan di daerah Evu. Pengadaan bahan baku biogas segera dilakukan. Bahan baku yang berupa limbah ternak diperoleh di hutan karena warga biasanya menempatkan ternaknya pada lokasi tertentu di hutan pada malam hari.
Pembuatan instalasi biogas plastik segera dilakukan di rumah Fritz, seorang warga Evu. Pembuatan ini diikuti oleh 10 orang warga Evu. Sambil melaksanakan pembangunan biogas dilakukan diskusi rencana pengadaan limbah ternak untuk mencukupi digester agar reaktor biogas itu bisa menghasilkan energi.
Selain biogas di Evu juga dilakukan uji coba kompor dengan bahan bakar dari kemiri dan kopra. Di Evu kemiri dan kopra melimpah dan bisa dimanfaatkan untuk bahan energi. Hanya di sini perlu dilakukan modifikasi kompor agar bisa digunakan untuk kemiri dan kopra yang bisa menghasilkan panas lebih tinggi di banding biji jarak.
Masyarakat di wilayah itu juga membutuhkan media-media belajar yang bisa memberikan pencerahan kepada warga. Keberadaan brosur atau leaflet dengan beragam tema baik itu pangan, pertanian, energi maupun pengurangan risiko bencana dibutuhkan dan dapat menambah pengetahuan masyarakat.
Satu hal yang dibutuhkan di situ adalah air bersih. Mereka yang tinggal di dekat kawasan pantai selama ini menggunakan air yang payau. Jika ada teknologi alternatif penyulingan air payau menjadi air bersih bisa menguntungkan warga di sini. Peserta belajar bersama ini 18 orang. 14 orang dari warga Evu dan Tanimbar Kei, 2 orang dari YNMI dan 2 orang dari LPTP. Selama seminggu mereka selalu bersama untuk belajar bersama. Mereka yang belajar ada yang petani, nelayan, ibu rumah tangga dan kalangan pemuda. Selama seminggu mereka dengan tekun belajar bersama untuk kebaikan bersama.***
|