Biogas

TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
LPTP ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
MAGANG ENERGI DAN PERTANIAN ORGANIC  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF

KAMPUNG ...
 
AGENDA PENINGKATAN KERJA SAMA LPTP DENGAN KLH
Selama tiga hari LPTP,  ACIAR, Dinas ...
TRAINING PENGEMBANGAN PANGAN DAN ENERGI BERKELANJUTAN
SUSDEC SELENGGARAKAN SEKOLAH COLLABORATIVE RESEARCH
KUNJUNGAN PEMKAB  PONOROGO
PERUMUSAN WORKPLAN LPTP 2010
Inna lillahi wa inna illaihi rojiun. Dari Allah dan ...
LPTP SELENGGARAKAN RAKER  DI TAWANGMANGU



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Berita » Program Pemulihan Dini Terhadap Korban Gempa Jawa Barat

Program Pemulihan Dini Terhadap Korban Gempa Jawa Barat
 
Posted : Tue, 29 December 2009 - 10:55 (628 views)

Program Pemulihan Dini Terhadap Korban Gempa Jawa Barat
Pada awal bulan September 2009 sebagian wilayah Jawa Barat diguncang gempa tektoknik berkekuatan 7.3 SR. Gempa dirasakan kuat terutama di wilayah Jawa Barat bagian selatan seperti di Kabupaten Ciamis, Cianjur, Tasikmalaya dan Garut. Selain menelan korban jiwa gempa itu juga menyebabkan ribuan warga masyarakat mengungsi akibat rusaknya tempat kediaman mereka.
 
Rusaknya pemukiman sebagian warga masyarakat  membawa implikasi  terancamnya kesehatan dan kehidupan ekonomi masyarakat. Kehidupan higienis mengalami degradasi  karena lebih banyak berada di tempat pengungsian. Begitu pula kehidupan ekonomi warga mengalami kondisi stagnan karena rusaknya faktor produksi dan rumah warga.  Rehabilitasi pada berbagai sektor sebagai upaya pemulihan dari bencana memang terus dilakukan namun membutuhkan proses waktu cukup lama mengingat kerusakan dari gempa di Jawa Barat itu cukup besar.
 
Tempat hunian sebagai pengganti tempat tinggal warga masyarakat  yang hancur dihantam bencana diperlukan di wilayah bencana. Gempa tektoknik yang menghancurkan bangunan permanen dan semi permanen memang membuat masyarakat harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Membangun sendiri rumah yang hancur pasca gempa tidak mudah bagi korban bencana. Ketidaksiapan untuk membangun sendiri itu membuat kebanyakan warga berada di tempat lain secara bersamaan.
 
posSupport dari pihak lain agar korban bencana memiliki kembali tempat tinggal dibutuhkan pasca bencana terjadi. Adanya tempat hunian atau tempat tinggal ini juga menghindarkan warga dari mengungsi. Dengan terdapatnya tempat tinggal maka masyarakat memiliki privacy serta dapat menata kembali kehidupannya setelah diporakporandakan gempa. Terdapatnya hunian juga dapat mencegah merosotnya kesehatan masyarakat.
 
Meskipun pemerintah telah merespon dengan memberi   bantuan dan melakukan  rehabilitasi namun  bantuan dari pihak lain masih diperlukan. Ini mengingat jumlah warga masyarakat yang harus diberi bantuan cukup banyak.  Selain itu pemulihan dari akibat bencana sangat kompleks. Untuk itulah peran pihak lain dalam membantu memulihkan ekses dari bencana ini sangat dibutuhkan.
 
Mempertimbangkan kebutuhan itu maka Oxfam bekerja sama dengan LPTP melakukan kerja sama dalam sebuah  program pemulihan dini terhadap korban gempa Jawa Barat. Pada program itu terdapat dua kegiatan yang akan dilaksanakan. Yang pertama dilakukan pembangunan 700 hunian sementara untuk korban gempa di Kabupaten Ciamis Jawa Barat dan yang kedua pembangunan sarana sanitasi dan kegiatan promosi kesehatan di Kabupaten Cianjur.
 
LPTP menugaskan 2 orang staf untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Untuk pembangunan shelter sebagai tempat hunian sementara staf LPTP yang terlibat adalah Amin. Selama lima bulan Amin akan mengelola pembangunan hunian sementara di Kabupaten Ciamis. Sedangkan Titik akan fokus dalam program pembangunan sarana sanitasi dan promosi kesehatan di Kabupaten Cianjur.
 
Sasaran dari kegiatan pembangunan temporary shelter  adalah pemenuhan hak atas tempat hunian sementara yang layak kepada para korban gempa di Jawa Barat. 700 buah hunian sementara diharapkan terbangun dalam tempo 5 bulan di Ciamis. Tempat hunian itu disesuaikan dengan standart lingkungan di lokasi. Pelaksanaan kegiatannya dengan melibatkan partisipasi aktif warga masyarakat penerima manfaat. Di samping itu warga masyarakat diharapkan menerima transfer pengetahuan mengenai pembangunan temporary  shelter.
 
Dalam hal yang menyangkut kesehatan, program yang dijalankan diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan mencegah penularan penyakit karena kondisi sanitasi dan air yang buruk. Pembangunan sarana kakus dalam jumlah yang memadai diperlukan di lokasi hunian sementara. Hal lain yang diharapkan tercapai adalah  rehabilitasi fasilitas sarana penyediaan air bersih. Air bersih merupakan kebutuhan vital dalam kondisi apapun. Air bersih ini memiliki support yang tinggi dalam menunjang terwujudnya taraf hidup yang higienis.  
 
limbahMasalah lain yang diharapkan teratasi  adalah  puing limbah gempa. Di lokasi yang habis dilanda gempa mudah dijumpai limbah gempa. Limbah gempa ini karena situasinya sering dibiarkan menumpuk. Kondisi begitu membuat tumpukan limbah gempa menjadi sarang serangga atau hewan lain yang dapat menjadi sumber penyakit. Tumpukan limbah gempa juga dapat mengganggu lingkungan.
 
Agar tujuan dari kegiatan tercapai maka beberapa kegiatan  dilakukan tahap demi tahap. Untuk sektor hunian sementara kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah konsultasi dengan stakeholder setempat, menyusun perencanaan teknis, menyelenggarakan ToT kepada CO, melakukan sosialisasi, pembangunan temporary shelter, melakukan koordinasi, pembuatan sistem monitoring dan lain-lain yang di asumsikan perlu. Untuk kegiatan yang menyangkut kesehatan juga terdapat beragam kegiatan yang dilakukan secara bertahap seperti melakukan sosialisasi kepada masyarakat, mengorganisir dan memobilisasi masyarakat, melakukan koordinasi, monitoring dan lain-lain yang dianggap mendukung pencapaian tujuan program.
 
Program-program  itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan warga masyarakat korban gempa yang urgen membutuhkan tempat hunian dan juga memotivasi kehidupan yang sehat di  lokasi bencana. Dengan memiliki shelter sebagai tempat tinggal meskipun sifatnya sementara namun setidak-tidaknya mampu memberi privacy dan perlindungan kepada warga masyarakat. Dari situ diharapkan masyarakat mampu menata kembali kehidupannya secara bertahap. Tingkat produktivitasnya diharapkan mengalami kenaikan dan pola hidup yang lebih higienis dijalankan kembali. Pola kehidupan seperti semula sebelum gempa diharapkan kembali, bahkan secara bertahap diharapkan lebih baik lagi.


Copyright © 2008 - 2010 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design