| PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA |
| |
Posted : Tue, 15 December 2009 - 15:36 (979 views)
Bancana alam sering tak terduga datangnya. Secara tiba-tiba bencana bisa datang tanpa diprediksi. Saat ada bencana terjadi kepanikan, ketakutan dan ketidakberdayaan pada masyarakat. Ketidakmampuan melakukan sesuatu untuk meminimalkan risiko bencana sering terjadi di lokasi bencana. Kerugian yang diakibatkan oleh bencana yang terjadi semakin besar dan semakin menambah derita korban.
Masyarakat Indonesia di berbagai daerah akrab dengan bencana alam sejak zaman dulu. Kesuburan sebagian besar tanah Indonesia ternyata diiringi dengan potensi bencana yang besar. Di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua masyarakatnya sering tertimpa bencana baik itu gempa bumi, gunung meletus, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lain-lainnya.
Kuantitas bencana alam yang termasuk tinggi di Indonesia itu menjadikan urgen membangun komunitas yang siaga terhadap bencana di berbagai tempat. Komunitas itu diharapkan tanggap menyikapi bencana yang tiba-tiba terjadi di berbagai wilayah yang rentan bencana. Dengan demikian dapat meminimalkan risiko dari bencana.
Sejak bencana tzunami melanda Aceh tahun 2004 dulu, LPTP secara aktif ikut berpartisipasi dalam kegiatan penanggulangan risiko bencana. Sebelum itu berbagai kegiatan yang menyangkut penyelamatan lingkungan dan pemetaan daerah rawan bencana longsor sering dilakukan seperti pada program Pidra di Pacitan. Bencana gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 dan banjir pada tahun 2007 semakin memperkaya pengalaman LPTP dalam kegiatan tanggap darurat bencana dan penanggulangan risiko bencana.
Kegiatan penanganan risiko bencana di berbagai kantung wilayah rentan bencana terus dilakukan LPTP hingga sekarang bekerja sama dengan mitranya. Salah satu kantung wilayah rentan bencana yang baru selesai menjadi tempat kegiatan penanggulangan risiko bencana adalah Desa Sengon Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten.
Selama satu bulan LPTP bekerja sama dengan YCAP mengajak masyarakat untuk belajar bersama dalam upaya peningkatan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan kebencanaan. Satu bulan sebenarnya waktu yang sangat pendek namun keterbatasan waktu itu dimanfaatkan semaksimal mungkin agar tujuan dari kegiatan tercapai dan memberi manfaat yang besar pada masyarakat.
Desa Sengon merupakan salah satu desa yang pernah dilanda bencana pada tahun 2007. Luas wilayahnya 233 ha, terdiri dari 112 ha sawah dan ladang, bangunan umum 11 ha, jalan 34 ha dan kuburan 5 ha. Mayoritas mata pencaharian penduduk pertanian Yang lain bekerja disektor pertukangan, pegawai swasta, pedagang dan jasa. Topografi desa terdiri dari perbukitan dan dataran rendah.
Desa ini merupakan desa yang rentan terhadap ancaman bencana, terutama bencana banjir dan tanah longsor. Wilayah desa berada di lereng perbukitan. Wilayah yang berada di dataran rendah rawan banjir. Berdasarkan informasi penduduk intensitas bencana mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring perubahan tata ruang di wilayah ini. Bentuk-bentuk ancaman bencana meliputi tanah longsor, banjir dan krisis air saat musim kemarau.
Desa Sengon termasuk rentan dalam beberapa hal disebabkan belum adanya kebijakan tata ruang desa dan rencana pembangunan jangka panjang dalam pengelolaan sumberdaya alam. Alih fungsi lahan bisa terjadi setiap saat dan dapat menimbulkan dampak buruk. Masyarakat dan pemerintah desa belum memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam bidang PRB (Penanganan Risiko Bencana). Selain itu perempuan dalam perencanaan dan pengambilan kebijakan strategis penanganan kedaruratan dan PRB tidak banyak keterlibatannya. Pemerintahan desa juga belum memiliki strategi dan kebijakan PRB. Kegiatan DRR yang diselenggarakan LPTP bersama YCAP selama bulan November lalu untuk menggali dan mengembangkan potensi desa dalam menghadapi situasi bencana. Terdapat banyak potensi yang dapat dikembangkan di sini. Secara tradisional masyarakatnya memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan kedaruratan meskipun masih terbatas. Di desa ini juga cukup banyak organisasi–organisasi sosial dan keagamaan di tingkat desa tetapi belum terorganisir menjadi kekuatan dalam gerakan PRB. Budaya gotong royong, toleransi dan semangat keswadayaan berjalan cukup baik dan ini menjadi kekuatan penting dalam penanganan bencana di masa depan. Selain itu secara spiritual masih banyak kepercayaan dan tradisi ritual untuk menghormati alam dalam menjaga kelestariannya, meskipun saat ini sudah mulai pudar terutama di kalangan generasi muda.
Selama satu bulan team dari LPTP berusaha membangun pemahaman masyarakat di desa Sengon mengenai ancaman dan risiko tanah longsor serta tanah amblas di wilayahnya. Bersama masyarakat dan perangkat desa, team juga menyiapkan kader-kader lokal yang potensial untuk menggerakan partisipasi masyarakat dalam membangun gerakan mengurangi risiko kebencanaan. Masih dengan masyarakat, team juga melakukan pemetaan risiko bencana tanah longsor dan banjir secara partisipatif. Kegiatan ini juga berusaha meningkatan peran dan posisi strategis perempuan PRB desa serta mengembangkan aksi-aksi inovatif PRB masyarakat desa.
Membangun desa siaga bencana hakikatnya adalah menata kembali tatanan sosial budaya dan tata fungsi lingkungan yang selama ini menyebabkan timbulnya potensi risiko bencana. Hasil yang diharapkan adalah terwujudnya desa yang tangguh. Karakteristik dari desa begini ditandai dengan adanya pemahaman warga desa mengenai potensi risiko, adanya kesadaran dan komitmen kolektif warga desa dan pemerintah lokal untuk menyusun rencana PRB desa, adanya team desa untuk PRB, adanya kebijakan desa mengenai strategi dan rencana PRB, berjalannya aksi-aksi inovatif masyarakat untuk PRB dengan mengoptimalkan sumberdaya lokal, dimiliki dan dijalankannya sistem monitoring dan evaluasi PRB, terbangunnya forum/kelembagaan yang fungsional dan permanen dalam mengurangi resiko bencana dan yang terakhir adanya kemampuan berkolaborasi dengan organisasi lain dalam PRB.
Dalam implementasi program ini dengan memperhatikan partisipasi masyarakat. Masyarakat dimotivasi kesanggupannya mengikuti keseluruhan proses kegiatan. Masyarakat diberi pemahaman bahwa nanti yang memanfaatkan hasil yang dicapai adalah masyarakat sendiri. Orientasi dari kegiatan ini adalah memperkuat kemampuan dan otonomi kelembagaan lokal untuk menentukan pilihan-pilihan dan membuat keputusan mereka sendiri (asas subsidiarity). Di samping itu kegiatan ini memprioritaskan tradisi tolong-menolong dan gotong-royong warga dan menempatkan bantuan luar sebagai pelengkap, mengupayakan adanya pertanggungjawaban terbuka di kalangan warga sendiri maupun terhadap pihak luar yang mendukung. Juga memberikan prioritas pada kelompok-kelompok yang paling rentan terhadap terjadinya resiko bencana serta memperjuangkan terlindunginya hak-hak dasar warga. Selain itu menciptakan landasan bagi prakarsa dan kemandirian lokal dalam jangka-panjang serta meletakkan masyarakat dalam posisi sentral dan menentukan. Orang luar berperan mendorong, memajukan, melindungi dan memfasilitasi proses serta mengutamakan terbangunnya masyarakat belajar (community learning).
Yang berkaitan dengan gender mainstraiming juga mendapat prioritas dalam kegiatan ini. Di desa lokasi kegiatan, perempuan memiliki kedekatan fungsional dengan sektor-sektor yang secara langsung terkait dengan isu bencana, seperti mencari dan memanfaatkan kayu bakar dari kebun dan ladang, pengambilan air bersih, pengelolaan lahan tegalan dan sawah, perlindungan anak dan sektor lainnya. Untuk itu prioritas gender dalam program PRB sangat penting. Strategi yang akan dijalankan adalah melibatkan sebanyak dan seintensif mungkin dalam setiap proses dan bentuk kegiatan mulai dari produksi media kampanye peningkatan kesadaran warga terhadap PRB, pembentukan tim inti PRB, pemetaan dan analisa resiko bencana, penyusunan strategi dan kebijakan PRB desa, pelatihan-pelatihan dan pelaksanaan aksi-aksi inovatif PRB.
Kegiatan DRR di desa Sengon ini diselenggarakan dengan metode partisipatif. Ini untuk memotivasi terealisirnya desa tangguh di wilayah kegiatan. Dalam upaya pengembangan desa tangguh ini menggunakan metode teknik dan media partisipatif yang antara lain menyelenggarakan aktivitas penelitian partisipatif (participatory research), teknik pemetaan partisipatif, teknik analisa kecenderungan perubahan (trend and change), teknik analisa sejarah perubahan (historical analyses), teknik penelusuran (transect), teknik analisa hubungan kelembagaan (diagram venn), teknik analisa kesejahteraan (wealth ranking) dan teknik-teknik partisipasi lainnya yang relevan.
Selama satu bulan, 20 orang warga masyarakat desa Sengon yang merupakan perwakilan dari berbagai unsur terlibat aktif dalam kegiatan ini. 20 orang itu terdiri 4 orang dari unsur pemerintah desa dan sisanya dari unsur tokoh masyarakat, pemuda dan masyarakat petani dari 4 dusun yang ada di desa Sengon. Masing-masing dusun mengirimkan 4 orang.
Metode yang digunakan dalam penyelenggaraan pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat di desa Sengon adalah ceramah dan diskusi, kaji urai dan hadap masalah. Untuk menjalankan metode tersebut digunakan alat bantu yaitu dengan teknik Participatory Rural Appraisal (PRA). Teknik ini familiar bagi para fasilitator LPTP.
Sedangkan fasilitator LPTP yang terlibat adalah Rahadi SPd yang merupakan direktur PT Susdec Adiyasa Surakarta, KHP Yunianto (Anton) staff Ahli SDA Pusat Pengembangan Pertanian dan Pangan Berkelanjutan LPTP. Ada juga Imam Syaifudin ST yang merupakan staf ahli kebencanaan LPTP, Eko Budiarto SE yang juga staf ahli kebencanaan LPTP. Juga Cahyo Mursito dan Ahmad Mustaqim yang merupakan staf ahli Pusat Pengembangan Audio Visual. Team LPTP yang mengendalikan kegiatan ini Bejo Sibet S.Sos yang merupakan team leader dibantu oleh Riyatik Puji Lestari. Selama satu bulan team ini bekerja keras mengelola beragam kegiatan di desa Sengon.
Dari beragam kegiatan yang berlangsung selama satu bulan itu telah dilakukan pelatihan dan pemetaan. Analisis dilakukan terhadap potensi bencana yang mungkin terjadi. Potensi bencana yang paling tinggi adalah banjir dan tanah longsor. Sedang penyebab dari bencana banjir adalah tanggul sering dan mudah jebol karena sepanjang badan tanggul adalah tanah berpasir. Minimnya vegetasi sebagai penguat tanggul dan tumbuhnya tanaman-tanaman di dalam sungai membuat air tidak lancar mengalir dan terjadi pendangkalan. Hal itu juga menjadi faktor penyebab banjir. Selain itu erosi ditambah banyaknya sampah yang menutup gorong-gorong juga memicu terjadinya banjir.
 Dampak bancana banjir yang terjadi setiap tahun itu hasil pertanian tidak maksimal karena sering gagal panen. Implikasi lainnya adalah penurunan kesejahteraan masyarakat. Apalagi banjir yang terjadi juga melanda pasar desa yang berarti mandegnya perekonomian rakyat. Ekses lain dari banjir adalah munculnya wabah penyakit kulit, diare serta nyamuk demam berdarah yang mengancam kesehatan masyarakat.
Hal-hal yang demikian itu yang menjadi pokok bahasan dalam kegiatan di desa Sengon bulan November yang lalu. Kapasitas masyarakat dalam menyikapi risiko bencana berusaha ditingkatkan. Masyarakat yang memiliki kemampuan mengantisipasi dan menangani risiko bencana diharapkan meningkat dari kegiatan ini. Segenap potensi desa yang ada dimotivasi pengembangannya dalam upaya mewujudkan komunitas desa yang memiliki kesiagaan terhadap risiko bencana. Jika itu berkembang dengan baik secara bertahap pada akhirnya akan terwujud desa tangguh yang siaga bencana. *** |