Posted : Thu, 30 July 2009 - 20:47 (1309 views)
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI LPTP
Pada hari Kamis tanggal 30 Juli 2009 Menteri Negara Lingkungan Hidup (Men-LH) berkunjung ke LPTP. Sebelumnya Men-LH di Lor Inn melakukan breakfast meeting dengan kalangan perbankan, pengusaha dan menyampaikan Green Economy serta memberi kuliah umum di UNS. Selesai acara itu sebelum ke LPTP, Men-LH meninjau biogas di Mojosongo Surakarta. Biogas itu dibangun di lingkungan industri tahu di Mojosongo Surakarta. Pembangunan biogas itu untuk mengatasi masalah limbah tahu dan dibangun atas kerja sama Kantor Lingkungan Hidup Surakarta dengan Adiyasa LPTP pada tahun 2007.
Kehadiran Men-LH Rahmat Witoelar di LPTP ini merupakan yang pertama kali. Men-LH didampingi isterinya, Erna Witoelar dan juga deputi KLH Gempur Adnan. Di LPTP, Men-LH selain melihat produk-produk rekayasa TTG (Teknologi Tepat Guna) LPTP juga melakukan dialog dengan pegiat LPTP dan beberapa undangan yang sengaja hadir di antaranya dari PW (Parilement Watch) simpul Surakarta. Dalam pengantar penyambutan tamunya, Rahadi yang mewakili Badan Pengurus Yayasan LPTP menjelaskan secara ringkas tentang LPTP dan program-program yang dijalankan oleh LPTP.
LPTP selama ini sudah sering menjalin kerjasama dengan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup RI (KLH). Sejak menteri Sony Keraf, Nabiel Makariem hingga Rahmat Witoelar kerjasama itu terus berlanjut. Semua menteri itu juga pernah berkunjung ke LPTP. Menteri Sony Keraf berkunjung saat ada pameran TTG di Adiyasa yang merupakan badan di bawah LPTP pada tahun 2002. Menteri Negara Nabiel Makarim tercatat paling sering berkunjung ke Adiyasa LPTP. Selama menjabat Men-LH RI, baik pada pereode pertama maupun yang kedua, berkali-kali Nabiel Makarim berkunjung ke Adiyasa LPTP. Men-LH Nabiel Makarim bahkan pernah membuka Kursus Amdal A yang diselenggarakan oleh PW (Parliement Watch) di Adiyasa pada tahun 2003. Kelahiran PW sendiri salah satunya dibidani oleh Adiyasa dan dideklarasikan di Solo.
Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup kerap melakukan kerja sama pembuatan biogas bagi industri kecil dengan Dewat LPTP. Biogas selain dikenal sebagai sumber energi alternatif juga dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat operasi industri. Kerja sama pembangunan biogas oleh KLH dengan Dewats LPTP di antaranya dilakukan di Palembang, Jakarta Selatan, Bojonegoro, Lamongan, Jepara, Sukoharjo, Banjarmasin, Tasikmalaya, Tegal dan Blitar. Hingga sekarang kerja sama pembangunan biogas itu terus berlangsung. Dewats LPTP memang badan usaha Yayasan LPTP yang khusus menekuni pengembangan biogas. Total dari tahun 80-an hingga sekarang LPTP telah membangun 767 unit biogas dengan volume 6 - 30 M3 yang tersebar di Jateng, Jatim, Aceh, NTT, Sulsel, DIY.
Selain itu Kantor Lingkungan Hidup Surakarta dengan support dana dari GTZ pernah menjalin kerja sama dengan Dewat Adiyasa yang merupakan badan usaha di bawah LPTP membangun IPAL di Kampoeng Batik Laweyan. IPAL ini untuk mengatasi risiko pencemaran industri batik di Laweyan Surakarta. IPAL ini hingga sekarang berfungsi dengan baik.
LPTP selama ini tidak hanya dikenal sebagai pengembang biogas, namun juga pengembang TTG. Rekayasa TTG berbasis kebutuhan masyarakat yang ramah lingkungan cukup banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain produk-produk TTG yang menyangkut pertanian dan pangan juga beberapa produk yang berhubungan dengan energi yang ramah lingkungan. Bentuk produk yang menyangkut bidang energi di antaranya adalah mesin pemeras biji jarak, kompor berbahan baku biji jarak, mesin perajang bahan organik, pengepres briket dan lain-lainnya.
Salah satu produk TTG Adiyasa LPTP yang dimanfaatkan oleh Kantor Menteri Lingkungan Hidup adalah mesin pengolah bahan sampah organik. Mesin perajang sampah organic ini didistribusikan ke Kota Surakarta, Sragen, Karanganyar, Kebumen, Gresik dan Surabaya dalam upaya support mengatasi problem sampah di beberapa kota. Mesin ini digunakan masyarakat untuk mempermudah mengolah bahan sampah organik yang menumpuk di berbagai lokasi untuk dijadikan pupuk kompos.
Sekarang Men-LH Rahmat Witoelar berkunjung ke LPTP untuk melakukan dialog dan melihat pameran TTG produk LPTP. Dalam sambutannya Men-LH mengatakan ia sangat berterima kasih dan bergembira bisa hadir di tengah lingkungan LPTP. Semangat dari para pegiat LPTP ini dihargai Men-LH. “Lembaga swadaya masyarakat seperti LPTP ini justru menjadi driver dalam pembangunan yang sekarang sedang dilakukan,” demikian di katakan oleh Men-LH Rahmat Witoelar.
Gempur Adnan yang merupakan salah satu deputi KLH RI menyatakan bahwa KLH sudah sejak lama melakukan kerja sama yang intensif dengan LPTP. “Teman-teman di LPTP banyak membantu pekerjaan KLH terutama pada biogas dan mesin pengolah sampah. LPTP expert di bidang itu. LPTP dalam program itu banyak bekerja di lapangan dan sangat menguasainya. Semangatnya luar biasa. Deputi-deputi lain diharapkan dapat melakukan kerja sama dengan LPTP.” Demikian di sampaikan Gempur dalam dialog di ruang sidang LPTP sore itu.
Berbeda dengan Men-LH Rahmat Witoelar yang baru pertama kali ke LPTP, Erna Witoelar sudah sejak lama mengenal dan sudah pernah berkunjung di LPTP. Mantan aktivis Walhi ini sudah sejak tahun 80-an mengenal LPTP. Menurut Erna, “Saya sudah kenal LPTP lebih dari 25 tahun. LPTP sejak lama melakukan hal-hal yang sekarang sedang in seperti TTG. TTG mempunyai kesempatan yang besar sekarang ini. Yang diperlukan negara berkembang sekarang adalah TTG.”
Usai melakukan dialog dengan pegiat LPTP dan mitra LPTP lain, rombongan Men-LH melihat produk TTG LPTP yang dipamerkan di halaman bengkel TTG LPTP. Mesin-mesin yang dilihat rombongan Men-LH di antaranya mesin-mesin perajang, kompor biji jarak, kompor bio etanol, kompor briket, mesin pengayak pupuk dan beberapa mesin yang dijalankan dengan minyak nabati. Usai menyaksikan demo beberapa produk TTG LPTP, Men-LH dan rombongannya menuju bandara kembali ke Jakarta.(edyo) |