Posted : Wed, 07 July 2010 - 16:32 (254 views)
Enampuluh persen dari 237 juta penduduk Indonesia bermukim di pedesaan. Jumlah desa di Indonesia lebih dari 67 ribu. Jadi lebih banyak rakyat Indonesia yang tinggal di desa daripada di kota. Selama ini desa sering ditatap romantis oleh banyak orang. Mereka menganggap pada desa terdapat kedamaian, kesederhanaan, kebaikan serta keindahan panorama. Namun jumlah rakyat miskin yang tinggal di desa lebih banyak daripada di kota.
Pasca deklarasi kemerdekaan RI, upaya membangun desa yang terencana telah dilakukan. Regulasi yang menyangkut desa diadakan dengan maksud mempermudah pembangunan masyarakat desa. Hingga sekarang pun pembangunan desa terus dilakukan meskipun kadang tersendat dan kerap dikalahkan kepentingan kota. Dengan berjalannya otonomi daerah maka pembangunan masyarakat desa lebih difokuskan pada empat bidang. Pertama peningkatan ekonomi rakyat, kedua transformasi teknologi, ketiga peningkatan kesadaran hukum rakyat desa dan keempat membangun demokrasi di tingkat desa.
Desa memang perlu dibangun dari segala arah. Partisipasi pihak mana pun dalam membangun desa dan dalam bentuk apa pun sangat dibutuhkan. Pembangunan dan hasilnya diharapkan dapat dinikmati oleh seluruh warganya sebagai proses edukasi untuk merubah sikap mental penduduk menjadi masyarakat yang partisipatif dan mendayagunakan sumber daya yang ada secara maksimum.
LPTP sejak tahun 1978 telah berpartisipasi membangun masyarakat desa. Jejak partisipasinya terlihat pada banyak desa tidak hanya di Jawa namun juga banyak yang di luar Jawa. Kali ini LPTP setelah cukup lama mendampingi masyarakat Desa Ketro Kabupaten Pacitan, mengajak masyarakat di desa itu berpesta. Bukan pesta penuh hura-hura namun pesta yang melibatkan partisipasi masyarakat desa.
Sejak pagi sudah banyak anak-anak dan ibu-ibu yang berkumpul di pos desa Ketro. Dengan wajah gembira mereka mulai memenuhi tempat duduk yang sudah tersedia. Memang pagi itu, tepatnya tanggal 29 Juni 2010, warga Desa Ketro bekerjasama dengan PT. SUSDEC LPTP menggelar Pesta Rakyat.
Rangkaian acara pesta rakyat Ketro diawali dengan lomba olahan makanan sehat dari umbi-umbian. Para peserta adalah ibu-ibu dari berbagai dusun dan RT di Desa Ketro. Mereka membawa hasil kreasi masakan dari umbi-umbian yang masih banyak dibudidayakan desa. Ada 28 jenis olahan makanan umbi-umbian yang tertata rapi di meja siap untuk dilombakan. Ada makanan olahan dari singkong yang dibuat getuk, nogosari, tiwul, kolong, rengginan dan lain-lainnya. Ada juga yang berasal dari umbi bothe atau kimpul, yang dibuat getuk dan makanan ringan seperti stick dan taro. Tampilannya pun sangat menarik dan mengundang selera.
Untuk penjurian PT Susdec LPTP menetapkan 4 orang sebagai juri, yaitu 2 orang dari tokoh masyarakat, 1 orang dari pemerintah desa dan 1 orang dari LPTP. Kriteria penilaiannya adalah dari cita rasa, segi ekonomisnya dan kreatifitasnya. Para juri berkeliling mencicipi makanan yang dilombakan dan mulai memberikan nilai.
Setelah penilaian dari juri, para peserta lomba makanan sehat diminta untuk menceritakan proses pembuatan makanan olahannya, mulai dari bahan dasarnya apa saja, berapa biaya yang dibutuhkan dan bagaiama penyajiannya. Sebagian besar ibu-ibu menceritakan dengan antusias, namun ada juga yang terlihat malu-malu menceritakan pengalamannya.
Selesai proses tersebut, makanan olahan umbi-umbian tersebut dilelang. Harganya dibuat murah, antara Rp. 500 – Rp. 5.000, bahkan ada yang digratiskan oleh ibu-ibu tersebut. Suasana pun makin ramai saat ibu-ibu berebut untuk membeli makanan sehat tersebut. Makanan yang gratis juga tak kalah ramai diperebutkan oleh para pengunjung yang rata-rata adalah para ibu dan anak-anak.
Rangkaian acara selanjutnya adalah diskusi tentang makanan sehat dan proses penyediaan pangan desa dengan budidaya padi model SRI. Acara ini diselenggarakan di gedung RT setempat. Warga desa yang datang cukup banyak. Acara dimulai dengan pemutaran film ‘dilarang makan kerupuk'. Sebuah judul yang mengundang rasa ingin tahu orang. Kemudian peserta diajak diskusi tentang pangan sehat yang dapat dibuat sendiri dengan harga murah, pengaruh makanan sampah atau junk food pada tubuh manusia dan bagaimana kita memanfaatkan sumber pangan lokal yang ada di desa. Kegiatan diskusi ini dipandu oleh Zamzaini, fasilitator senior dari LPTP. Zamzaini mengajak peserta untuk diskusi bagaimana memenuhi pangan lokal khususnya padi dengan cara budidaya padi model SRI (System of Rice Intensification). Mulai dari sejarah SRI, cara budidayanya sampai hasil yang didapat menjadi topik diskudi yang menarik warga desa Ketro. Acara diskusi bersama ini berakhir pada pukul 13.00 WIB.
Sore harinya acara dilanjutkan dengan lomba menggambar tingkat SD dengan tema kebencanaan. Ada sekitar 20 anak yang mengikuti lomba ini. Dengan wajah ceria dan sambil bercanda dengan teman-temannya, mereka menggambar diatas kertas putih yang dibagikan panitia. Anak-anak yang tidak mengikuti lomba juga terlihat senang melihat teman-temannya menggambar. Dengan peralatan gambar yang sederhana mereka mencoba menggambar tentang bencana yang ada di sekitar mereka.
Puncak acara pesta rakyat Desa Ketro adalah pentas seni pada malam harinya. Banyak penonton yang datang, baik dari Desa Ketro sendiri maupun dari desa lain seperti Desa Kalikuning, Desa Sanggrahan dan lain-lainnya. Bahkan sejak sore penduduk yang ingin menonton sudah mulai berdatangan dengan berjalan kaki, bersepeda dan ada juga yang mengendarai motor. Di pinggir jalan yang kosong ada juga warga yang menggelar dagangan. Pengisi acara pada pentas tersebut adalah warga Desa Ketro sendiri. Tua muda dan anak-anak semua ikut berpartisipasi. Ada yang mengisi dengan tarian, ludruk, hadrah, menyanyi dan lain-lain. Acara dimulai dengan tarian anak-anak, nyanyian anak-anak, sambutan panitia, sambutan dan pembukaan oleh Kepala Desa Ketro dan Kepala Desa Kalikuning. Pembacaan hasil lomba menggambar dan lomba makanan sehat juga disampaikan pada acara itu. Selanjutnya hiburan kesenian ludruk, hadrah dan musik dangdut secara bergantian tampil pada malam itu.
Pesta itu meriah dan membuat gembira masyarakat. Pesta itu mengundang partisipasi masyarakat seluruh desa. Pesta rakyat ini juga menjadi media kampanye penyadaran masyarakat dalam pengurangan risiko bencana. Untuk itulah pesta rakyat ini mengusung tema KITA BISA MENGURANGI RISIKO BENCANA. ***
|