Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
Home » Artikel » BEREBUT PANGAN DENGAN KERA

BEREBUT PANGAN DENGAN KERA
 
Posted : Thu, 11 October 2012 - 12:59 ( 3330 views)

BEREBUT PANGAN DENGAN KERA
Siang itu sekitar pukul dua siang, dengan cuaca yang tampak cerah aku bersama seorang kawan memulai perjalanan dari paga (satu nama Desa di Kec. Paga,  Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur), menuju Dusun Wolonio Desa Fatamari di Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende. Dengan menggunakan sepeda motor, kami menempuh perjalanan selama  empat puluh lima menit,  dengan jarak tempuh  delapan belas kilometer dari Desa Paga. Melewati jalan negara antar Kabupaten Ende-Sikka, dengan aspal yang nampak mulus seperti jalan di Jawa.
 
Setelah sampai ke Desa Wolosambi , jalan berganti dengan batu kali yang disusun nampak tak beraturan, masih sekitar lima kilo meter lagi menuju Desa Fatamari. Sampai di pusat Desa Fatamari, kami melanjutkan perjalanan menuju Dusun Wolonio. Walaupun hanya berjarak satu kilo meter dari pusat Desa Fatamari, tetapi diperlukan perjuangan untuk menuju dusun Wolonio  dimana kami harus melewati jalan tanah setapak  dengan medan menanjak. Yang hanya bisa dilewati sepeda motor dan jalan kaki. Yang memerlukan waktu 30 menit. Ketika jalan menanjak, salah satu teman harus jalan kaki, sepeda motor tidak kuat melewati jalanan  yang menanjak & berbatu, jika dipaksakan kiri jalan jurang menanti.
 
panorama_ladang_copy
 
Sampai di tempat tujuan, kami bertemu dengan  Pak Bone  beliau merupakan Kepala Dusun Wolonio. Dusun yang terletak pada ketinggian 600 meter diatas permukaan laut, di huni sebanyak  43 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 178 jiwa terdiri dari 87 jiwa laki-laki dan 91 jiwa perempuan. Terdapat sebuah sekolah dasar (SD) dan sebuah kapela di jalan masuk Dusun, perumahan penduduk yang berkontruksi dinding kayu dan atap seng  banyak ditemukan, terdapat pula satu rumah adat  dengan ciri atap yang tinggi.
 
 
 
Penduduk Dusun Wolonio sebagian besar berprofesi sebagai petani komoditi, mereka menanam kakau dan kemiri sebagai tumpuan utama ekonomi, sedangkan tanaman seperti padi ladang, ubi dan jagung  mereka tanam sebagai cadangan pangan. Tetapi untuk hasil saat ini belum bisa maksimal dikarenakan permasalahan hama yang menyerang tanaman mereka, salah satu hama yang saat ini banyak merugikan masyarakat adalah  kera.

jalan_desa_copyMenurut pandangan dari masyarakat bahwa kera  turun dan menyerang tanaman dikarenakan saat ini banyak masyarakat yang melakukan penyelewengan adat, sehingga kera di perintahkan untuk merusak tanaman mereka. Tetapi perlu di kajian lebih lanjut kenapa kera menyerang tanaman masyarakat, apakah dikarenakan sumber makanan di habitatnya sudah mulai berkurang?, jumlah populasi  kera yang semakin banyak?, ataukah wilayah kera yang  menjadi sempit?. Selain itu perlu untuk mengenali jenis kera, prilaku penyerangan, intensitas, pola perkembangan biakan, serta upaya-upaya masyarakat dalam mengatasi hama kera.

Dari hasil diskusi dengan masyarakat jika dirunut sejarahnya. Kera mulai menyerang tanaman masyarakat pada tahun 1980,jalan_desa2_copy dimulai dengan satu pasang kera.  Kera tersebut berkembang biak di sekitar ladang masyarakat yang berbatasan langsung dengan wilayah tempat hidup kera, dikarenakan kera dengan mudah mencari makan. Tahun berganti tahun ketika populasi kera berkembang biak semakin banyak (meledak),  dan sumber makanan menipis. Maka  beberapa pasangan kera  tersebut  turun membentuk kelompok baru untuk mencari sumber makanan di ladang-ladang masyarakat yang lain, bahkan sampai menuju perkampungan. Sampai saat ini berdasarkan informasi yang kami peroleh dari masyarakat, di Desa Fatamari jumlah kelompok kera mencapi 30 kelompok dengan rata-rata per kelompok 50 ekor kera, jadi bila dihitung jumlah populasi kera mencapai 1.500 ekor sampai dengan tahun 2012.

Kera yang menyerang tanaman masyarakat di Desa Fatamari mempunyai cir-ciri ekor panjang dan bulu coklat. Di Indonesia biasa disebut dengan kera ekor panjang dan merupakan satwa liar,  yang statusnya diatur berdasarkan undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya, dan PP No. 7 Tahun 1999, Macaca fascicularis merupakan jenis satwa yang tidak dilindungi, serta masuk kategori satwa dalam Apendiks II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam.

Menurut Chrockell dan Wilson (1977) dalam Santosa (1996), monyet ekor panjang banyak dijumpai di habitat-habitat yang terganggu khususnya daerah riparian (tepi sungai, tepi danau, atau sepanjang pantai) dan hutan sekunder areal perladangan. Selain itu terdapat pula di rawa mangrove. Monyet ekor panjang adalah salah satu jenis spesies yang dapat berdaptasi dengan keadaan lingkungan dan iklim yang berbeda.  Di Dusun Wolonio banyak terdapat wilayah riparian dan areal perladangan  sehingga menjadikan tempat yang cocok bagi kera ekor panjang.

Menurut pengalaman dari masyarakat, kera tersebut sering menyerang lahan pada saat pagi dan sore hari dengan sistem berkelompok. Tanaman yang sering diserang  jagung, padi, ubi, pisang, kakao dan kelapa. Sedangkan tanaman kemiri tidak begitu disukai kera ekor panjang, biasanya mereka hanya akan merusak tanaman itu dengan memetik dan membuangnya. 

Menurut informasi dari masyarakat,  terdapat beberapa pohon yang menjadi makanan kera yang disediakan oleh alam antara lain, fole moke (buah enaou)  biasanya ,mereka kupas kulit luar, kemudian  isap buanya  , pohon enaou muda  yang tumbuh mereka cabut dan makan daun mudanya , muku re e (sejenis pisang hutan), kaju heju (kayu yang berbuah),  putere (buah mirip durian) jumlah ketersedian pohon tersebut sekarang berkurang di huta. Selain itu kadang masyarakat juga menjumpai kera di pinggir sungai mencari udang. Tetapi sekarang ini kera lebih menyukai tanaman masyarakat seperti  ubi-ubian, jagung,  padi, dan kakao.

Sedangkan menurut Romauli (1993) dalam santosa (1996) monyet ekot panjang merupakan satwa frugivorus atau pemakan buah. Jenis pakan lain berupa serangga, bunga rumput, jamur tanaha, molusca, crustacean, akar, biji dan telur burung. Sedangkan menurut Chivers (1974) dalam Santosa (1996) Ficus spp. Merupakan makanan paling penting bagi kera dan monyet di alam. Hal ini karena ficus spp. Terdapat dihutan dan dapat berdaun muda sepanjang tahun serta berbuah 2-3 kali setahun.

Dampak dari serangan hama kera berpengaruh terhadap turunnya hasil panen tanaman kakao mencapai 75%, sedang tanaman padi, jagung mengalami penurunan sampai 90% sehingga mengancam ketahanan pangan masyarakat. 

Tanda-tanda Jika Kera akan menyerang yang dikenali masyarakat antara lain, merasa ngantuk, pagi hari ketika cuaca mendung atau rintik-rintik  hujan. Upaya yang dilakukan masyarakat antara lain menjaga kebun, cara tersebut dirasa kurang efektif karena mereka hanya pindah sesaat dan kemudian kembali lagi. Usaha yang lain dengan menjerat menggunakan tali seling tetapi harus cepat jika tidak dia bisa melepaskan diri. Meracun juga pernah dilakukan, tetapi tidak hanya kera yang mati hewan lain seperti musang pun juga jadi korban. Hanya selama dua bulan cara itu efetif, setelah itu mereka tidak mau makan dan hanya membolak-balik pisang dengan kayu. Semua upaya tersebut belum bisa mengatasi hama kera, bahkan menurut masyarakat, kera semakin merjalela dan terus merusak tanaman warga.

dengan_kepala_dusun_copySeperti  kisah pengalaman yang dilakukan oleh Pak Bone, seorang pemburu kera di Dusun Wolonio.  Pak Bone biasa Warga Dusun Wolonio menyapanya, dengan perawakan tinggi, kekar dan berambut keriting tampak sederhana dengan kaos biru  yang saat itu dikenakannya.  Pria yang merupakan Kepala Dusun itu , berusia sekitar 35 tahun, memiliki 4 orang anak dan seorang istri. Di rumah sederhana yang berdinding bambu, berlantai tanah dan beratap seng  beliau tinggal bersama keluarga menjalani aktifitas sebagai seorang petani kakao. Sudah sekitar enam tahun terakhir ini hasil dari ladangnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, hama kera yang menyerang tanaman kakao dan jagung yang dia tanam menjadi salah satu permasalahannya. Tetapi beliau tidak menyerah dengan keadaan tersebut, berharap bisa mengatasi hama kera, dengan keahlian berburu yang dimilikinya, dan membawa hasil panen yang menggembirakan. Dengan segelas kopi dan ditemani dengan sepiring ubi jalar, beliau mulai bercerita tentang pengalamannya dalam berburu kera.

Pertama kali berburu Pak Bone  menggunakan ketapel, dengan sejata tradisional itu, setiap pagi berangkat untuk menjaga ladang dari serangan kera hingga sore hari baru kembali pulang, tetapi belum ada kera yang didapatkannya. Merasa kurang efektif berburu menggunakan ketapel, beliau mengganti dengan panah, hasilnya masih belum berubah dalam sebulan Pak Bone hanya dapat satu ekor. Dengan tekat untuk mempertahankan sumber penghidupannya, beliau mengumpulkan uang untuk membeli satu senapan. Hasil dari senapan barunya, Pak Bone berhasil mendapatkan induk dan anak kera.

Waktu berburu pak Bone tidak pasti, jika makanan untuk babinya sudah tersedia, dan lahan sudah selesai dikerjakan, disaat waktu itulah beliau berangkat berburu. ”Dari pada duduk diam dirumah, siapa tau saja dapat daging, lagi pula dirumah tidak ada sayur, tidak ada lauk kalau harus turun ke paga kita harus siap uang,” katanya.

Jika ingin mendapatkan hasil yang banyak beliau berangkat berburu kera  agak siang, “kalau siang hari mereka kenyang sehingga larinya agak lambat,” katanya. Menurut pengalaman beliau kera di waktu  pagi dan sore mereka makan kalau malam mereka tidur.

Dengan menempuh perjalanan setengah kilo sampai tiga kilo disekitar hutan desa, sesekali melewati jalan pintas, beliau berharap bisa mengurangi populasi kera,  senapan angin yang dibawanya dan satu dus peluru seharag Rp 9.000 berisikan 95 butir  bisa digunakannya selama tiga kali berburu. “sebelum tuan kebun datang kami sudah jalan”, untuk berburu perlu stamina yang bagus jika kita mengejar kera tersebut  dan berhenti satu menit dia bisa lari jauh” (katanya).  Dari pengalaman beliau, sekali berburu biasanya mendapatkan 1 ekor, dan paling banyak 8 ekor. Beliau biasa berburu  dengan 3 orang kawannya, “di sini ada 3 orang yang ahli berburu” (katanya). Menurut  beliau, masyarakat di sini banyak yang memiliki keahlian dalam berburu, tetapi tidak ada yang memiliki alat, maksudnya “senapan”, termasuk Bapak Musalaki (pemimpin adat suku Lise) jago juga untuk memanah. Kadang kami jika libur Po’o (upacara adat sebelum musim tanam) puluhan masyarakat mengadakan kegiatan berburu.

Dampak dari kegiatan yang dilakukan pak Bone berhasil untuk membuat kera takut bahkan sekarang jika ada warga yang membawa parang panjang kemudian diangkat maka kera akan lari “mereka kira itu senapan” (katanya). Nenek moyang dulu, selalu berburu di hutan setiap setengah tahun sekali, untuk mencari daging.   Pak Bone  sudah enam  tahun  terakhir ini berburu, tetapi kera juga belum berkurang atau kembali lagi ke habitatnya , “Mungkin karena  jumlah mereka (kera) sekarang sudah banyak, dan kita sudah jarang berburu kera, karena sekarang sudah mudah untuk dapatkan lauk di sini”,  kata Pak Bone, sambil menyeruput minuman kopinya.   Kera yang sering di dapatkan pak Bone berjenis kelamin betina, sampai saat ini, sudah sekitar 600 ekor kera yang beliau dapatkan, tetapi masih belum bisa meminimalkan serangan kera, “bahkan saat ini mereka semakin kasar merusak lahan masyarakat.” katanya.

Menurut pak Bone, sekarang kera sudah jarang ditemukan di hutan, yang berjarak tujuh kilometer  dari Dusun wolonio. Ketika beliau hendak berburu di hutan ,” bahkan kotoran kera tidak saya temukan di hutan, mungkin sekarang mereka senang tinggal di ladang penduduk karena mereka mudah mendapatkan makana yang enak,” katanya.

Harapan dari beliau, supaya ada komunikasi dari masyarakat yang terkena dampak dari serangan kera untuk melakukan kerja sama dalam mengatasi hama kera. Cara yang pak Bone lakukan diakui belum bisa mengurangi hama kera, tetapi paling tidak kera merasa takut dengan masyrakat, sehingga kebun sekarang sedikit aman dan bisa memetik hasilnya. Saran dari beliau, untuk melatih anjing masyarakat sebagai kawan untuk berburu, dan perasaan malas harus dirubah dengan meningkatkan kemampuan dalam berburu untuk mengatasi kera di wialayah desa fatamari.

Sering kali konflik antara hewan dan manusia dikarenakan perebutan lahan dan rusaknya ekosistem.  Populasi kera yang tidak terkendali dan ketersediaan sumber makanan yang tidak mencukupi, membuat kera  menyerang tanaman masyarakat. Ketika itu terjadi, maka akan berdampak  mengancam sumber pendapatan dan pangan masyarakat di suatu wilayah. Berburu adalah salah satu kapasitas yang mereka miliki untuk mengurangi dampak serangan kera, tetapi jika kegiatan tersebut menjadikan  kera punah, maka akan ada ekosistem yang terganggu. Langkah yang bijaksana untuk mengatasi permasalahan tersebut, dengan mengkonservasi habitat mereka dan menyediakan tanaman  sebagai sumber makanan kera. Diperlukan kesadaran bersama dan keterlibatan dari masyarakat dan pemerintah supaya konservasi yang dilakukan dapat berkelanjutan berharap kera bisa nyaman dihabitatnya dan masyarakat tidak terganggu kehidupannya.

Yang saat ini sedang dilakukan kajian penelitian bersama (PDRA) untuk pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat, dari hasil temuan ini yang akan menjadikan bahan belajar bersama di Sekolah Lapang (pendidikan orang dewasa).

Lio Timur, 5 Oktober 2012

ilham_01 
Ilham Syarifudin
Field Fasilitator Village Fatamari
Institute for Rural Technology Development – Surakarta
www.lptp.or.id
 
 ***


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design