Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
Home » Artikel » Sustainable livelihood Pasca Erupsi Merapi

Sustainable livelihood Pasca Erupsi Merapi
 
Posted : Tue, 26 June 2012 - 06:24 ( 2565 views)

Sustainable livelihood  Pasca Erupsi Merapi

Pemulihan Sumber Mata Pencaharian Penduduk Melalui Pengelolaan Pertanian dan Peternakan Skala Mikro Secara Terpadu dan Berkelanjutan

Desa  Glagaharjo berada di wilayah Kecamatan Cangkringan, Kabupaten, Sleman, DIY. Desa ini  berada pada Kawasan  Rawan Bencana (KRB) III. Jaraknya hanya  sekitar 4 – 7 km dari puncak Gunung Merapi. Luas wilayah desa 795 ha, dengan peruntukan 765 ha lahan pertanian, perkebunan dan hutan rakyat, sedangkan 30 ha merupakan pemukiman. Desa ini secara administratif terbagi dalam 10 dusun dengan jumlah penduduk 3.560 jiwa atau 1.157 KK, (laki 1.710 jiwa, perempuan 1.850 jiwa).

Erupsi  Merapi pada tahun 2010 menimbulkan kerusakan yang sangat parah pada desa  ini. Seluruh  penduduk desa  diungsikan pada waktu itu. Erupsi itu menimbulkan dampak penderitaan berat bagi warga masyarakat desa tersebut.

Pasca erupsi Merapi bekerjasama dengan UNDP, LPTP melaksanakan program pemulihan sumber mata pencaharian penduduk melalui pengelolaan pertanian dan peternakan di Desa Glagahharjo Sleman.   Program fokus  dilaksanakan pada 3 dusun  yakni  Dusun Srunen, Dusun Kalitengah Lor dan Dusun Kalitengah Kidul. Tiga dusun ini dipilih karena menghadapi masalah sumber penghidupan.

Untuk  memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari terutama bahan pangan, air bersih, dan energi, masyarakat di tiga dusun itu harus membeli. Sementara jumlah uang yang dimiliki sangat terbatas.  Kalaupun  ada penggunaannya lebih diutamakan untuk pembangunan rumah yang terbakar atau roboh akibat ekses dari letusan Gunung Merapi.

Sebenarnya tiga dusun itu memiliki potensi cukup besar dalam mensupport penghidupan mereka. Lahan  pertanian ada meskipun waktu itu sebagian besar tertimbun abu vulkanik.  Hasil  umbi-umbian terutama ganyong dan garut juga ada. Begitu pula ternak dan limbah ternak yang cukup banyak  bisa menjadi sumber pupuk organic. Apabila semua itu dikelola dengan baik akan memberi manfaat praktis, ekonomis dan dalam jangka panjang bisa menjadi landasan yang kuat untuk pemulihan sumber pencaharian yang lebih besar.

2_pemulihan_merapiPertimbangan  lain dipilihnya tiga dusun tersebut juga karena  pertimbangan kebijakan  peruntukan kawasan yang ditetapkan pemerintah daerah. Berdasarkan Peraturan Bupati Sleman No 20 tahun 2011 pada pasal 6,   wilayah Padukuhan Srunen, Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul ditetapkan dalam KRB (Kawasan Rawan Bencana) III  yang harus direlokasi dan tidak boleh untuk hunian.  Kegiatan yang diperbolehkan adalah pengembangan penanggulangan bencana, pemanfaatan sumberdaya air, hutan, pertanian lahan kering,  ilmu pengetahuan, konservasi, penelitian dan  wisata alam.  Dengan merujuk pada Peraturan Bupati tersebut kegiatan yang direncanakan LPTP sudah mempertimbangkan kegiatan yang direkomendasikan dalam peraturan tersebut yaitu  pertanian lahan kering (sayuran dan umbi-umbian), pengembangan rumput pakan ternak, penanaman tanaman turi  dan pengelola pupuk organik.

Kemudian yang kedua pertimbangan kemanusian. Setelah erupsi mereda,  penduduk kawasan itu kembali ke desanya namun pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti  pangan, air bersih dan ekonomi tidak terjamin. Kebutuhan itu begitu mendasar sehingga perlu ada pemecahan segera.

Selain itu juga memperhatikan pertimbangan praktis.  Intervensi  infrastruktur yang akan dilakukan tidak ada yang bersifat permanen. Infrastruktur  yang  akan diadakan  adalah rumah produksi pupuk organik   dan penampungan air limbah rumah tangga yang tidak permanen dan dirancang bisa dengan mudah dipindahkan ke tempat lain bila terjadi relokasi pemukiman penduduk. Bentuk–bentuk intervensi yang lain yang mendukung peruntukan kawasan yakni penanaman hijauan pakan ternak dan tanaman keras yang mendukung kegiatan konservasi.  Juga ada penanaman sayuran dan pembuatan pupuk organik untuk mendukung kegiatan pertanian lahan kering.  

Pertimbangan yang lain adalah pertimbangan strategis. Pada pertimbangan strategis ini bentuk  programnya sebagian besar merupakan investasi peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan sumberdaya masyarakat (pengetahuan maupun keterampilan)  yang akan bermanfaat bila masyarakat direlokasi ke tempat lain.  

3_pemulihan_merapiPertimbangan strategis ini kemudian memotivasi untuk mengembangkan program pemulihan sumber penghidupan masyarakat melalui pertanian, peternakan secara terpadu dan berkelanjutan. Tujuan yang ingin dicapai dari program ini adalah meningkatnya kapasitas petani, peternak dan kelompok perempuan dalam mengelola sumberdaya pertanian dan peternakan untuk mempercepat proses pemulihan sumber mata pencaharian. Hasil yang diharapkan dari pendekatan ini adalah  terpenuhinya kebutuhan sayur dan cadangan bahan pangan berbahan baku umbi-umbian. Kegiatan  yang diselenggarakan adalah melakukan pelatihan pada kelompok tani perempuan tentang budidaya sayur organik di ahan pekarangan dan memfasilitasi pemanfaatan air limbah rumah tangga untuk menyirami tanaman sayur di musim kemarau. Selain itu juga memfasilitasi proses budidaya sayur organik dilahan pekarangan, melatih dan memfasilitasi budidaya tanaman umbi-umbian sebagai cadangan bahan pangan,  pembuatan tepung ganyong serta  aneka makanan berbahan baku umbi-umbian dan memfasilitasi pengelolaan hasil-hasil produksi sayur organik dan aneka makanan.

Untuk memenuhi kebutuhan akan hijauan pakan ternak dilakukan pelatihan  dengan melatih kelompok petani tentang produksi pakan ternak sehat dan berkualitas dan memfasilitasi produksi pakan ternak sehat dan berkualitas. Untuk pemenuhan kebutuhan pupuk organik dilakukan melalui pemanfaatan kotoran ternak dan limbah organik. Itu  untuk peningkatan kesuburan lahan pertaniannya. Untuk itu diadakan pelatihan yang diikuti kelompok petani tentang produksi pupuk organic dan memfasilitasi proses produksi dan aplikasi pupuk organik.

Agar tujuan itu dapat tercapai dilakukan beberapa pendekatan:

  • Partisipartory action research.
  • Sekolah lapang pertanian dengan mengutamakan penguatan kapasitas teknis, management dan sosial.
  • Menggunakan kelompok-kelompok sosial yang telah ada dan berfungsi efektif seperti kelompok tani, PKK, kelompok ternak, dan lainnya.
  • Penerapan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya alam (kelayakan ekonomi, kepraktisan dan keamanan secata teknis, diterima secara sosial, dan ramah lingkungan).

Program-program yang dilaksanakan akan memberi manfaat pada beberapa kelompok masyarakat. Untuk program pengembangan pertanian jumlah penerima mafaat langsung sebanyak  8 Kelompok Wanita Tani (KWT),  dengan jumlah  anggota  164 petani. Sedangkan  penerima manfaat tidak langsung sebanyak 601 orang dengan perincian 302 laki dan 299 perempuan.  

Tabel 1. Penerima manfaat program pertanian

No

Nama Kelompok

Alamat

Jumlah Anggota (P)

Jumlah Anggota Keluarga

Laki

Perempuan

Total

1

Tani Subur

Kalitengah Lor

21

35

40

75

2

Tani Makmur

Kalitengah Lor

20

37

33

70

3

Ngudi Rejeki

Kalitengah Kidul

20

39

33

72

4

Ngudi Makmur

Kalitengah Kidul

20

32

35

67

5

Ngudi Rejeki

Srunen

21

43

38

81

6

Ngudi Lestari

Srunen

21

48

38

86

7

Sedyo Manunggal

Gading

20

39

41

80

8

Srikandi Bangkit

Jetis Sumur

21

30

40

70

 

Jumlah

164

302

299

601

Sedangkan penerima manfaat dari program pengolahan aneka makanan  berbahan baku umbi-umbian adalah 3 kelompok tani wanita. Jumlah anggotanya 49 petani dan penerima manfaat tidak langsung sebayak 184 petani dengan perincian 100 laki-laki dan 84 perempuan.

Tabel 2. Penerima Manfaat Program Makanan Olahan

No

Nama Kelompok

Alamat

Jumlah anggota  (P)

Jumlah  Anggota Keluarga

Laki

Perempuan

Total

1

Melati Merapi Bangkit

Kalitengah Lor

20

36

34

70

2

Bangkit Merapi

Kalitengah Kidul

14

30

22

52

3

Kelompok MO Srunen

Srunen

15

34

28

62

 

Jumlah

49

100

84

184

 

4_pemulihan_merapi

 

Untuk Penerima manfaat dari program peternakan dan pemanfaatan kotoran ternak untuk pupuk organic  sebanyak 3 kelompok ternak. Jumlah  penerima manfaat langsung 250 petani dan penerima manfaat tidak langsung 766 petani ( 274 laki, 246 perempuan). Jumlah  ternak sapi yang dimiliki keseluruhannya 413 ekor. Dari kegiatan itu  diharapkan mampu secara mandiri menyedikan pupuk untuk lahan yang dimiliki anggota kelompok ternak yang luasnya mencapai  74,7 ha.

 

 

Tabel 3. Penerima Manfaat Program Peternakan Dan Pemanfaatan Kotoran Ternak Untuk Pupuk Organik

NO

NAMA KELOMPOK

ALAMAT

JUMLAH ANGGOTA

JUMLAH  KELUARGA

JUMLAH TERNAK SAPI

LUAS LAHAN

(ha)

Total

L

P

1

Warga Rukun

Kalitengah Lor

82

272

141

131

127

36,4

2

Sumber Rejeki

Kalitengah Kidul

82

258

136

122

99

18,9

3

Hargo Makmur

Srunen

86

267

136

131

187

19,4

 

Dengan strategi program yang dikembangkan selama proses belajar mulai Oktober 2011 sampai dengan Maret 2012, memberikan dampak positif yang dirasakan masayrakat. Berdasarkan evaluasi bersama diketahui dari segi  aspek sosial  telah diaktifkannya kembali 5 Kelompok Wanita Tani (KWT)  di Dusun Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, Srunen, Gading dan Jetis Sumur.  Selain itu juga terjali komunikasi dan kerjasama ibu–ibu antar dusun. Juga terjalinnya komunikasi dan kerjasama bapak–bapak anggota kelompok ternak  antar dusun.  Kegiatan itu juga memberi implikasi penyebaran dan peningkatan pengetahuan di luar penerima program dan meningkatnya semangat gotong royong membersihkan lahan secara bersama-sama.

Pada aspek penyebaran pengetahuan, hasil proses belajar budidaya sayuran ditularkan dan diajarkan di luar anggota kelompok tani wanita.  Demikian  juga terjadi  penyebaran pengetahuan dan ketrampilan di luar anggota kelompok ternak dalam pembuatan silase, pembuatan dekomposer dari bahan lokal dan pembuatan pupuk organic.

Dari sisi aspek ekonomi dapat dianalisis dengan membudidayakan sayuran, dapat mengurangi belanja rumah tangga terutama dalam pembelian sayuran.  Dalam  satu tahun jika ditotal ada efisiensi anggaran belanja sebesar Rp.49.878.000,- Rata-rata belanja sayuran Rp.25.500/bulan/rumahtangga.  Dengan  jumlah anggota 164 rumah tangga/KWT maka budidaya sayuran secara mandiri di lahan-lahan mereka dapat menghemat belanja rumah tangga mereka.

5_pemulihan_merapi

 

Pada masa mendatang program penanaman hijauan pakan ternak akan lebih dikembangkan karena bisa melakukan efisiensi cukup besar. Diestimasi jika harga hijauan pakan ternak Rp. 2.500/ikat dan  diberikan 3 kali perhari dan dengan jumlah petani peternak 250 orang kalau dapat dicukupi sendiri akan dihasilkan efisiensi cukup besar dalam satu tahunnya.

 

Sedang dari sisi aspek lingkungan diterapkannya penggunaan pupuk organik secara lebih luas untuk budidaya berbagai tanaman. Penggunaan pupuk oragnik ini  lebih ramah lingkungan. Penggunaan pupuk organik ini juga  untuk  mengembalikan kesuburan lahan yang terkena material vulkanik. Sebelum program dilaksanakan rata–rata pH tanah 5, saat ini meningkat menjadi 6. Selain itu untuk keperluan konservasi dilakukan penanaman turi di berbagai tempat.

Dari aspek pembelajaran bersama (lesson learn) yang dikembangkan selama program dapat dilihat dari aspek manajemen program, yaitu penggalian informasi yang mendalam bersama-sama dengan masyarakat mengenai permasalahan, kebutuhan dan potensi masyarakat secara partisipatif. Itu akan membantu pelaksanaan program sesuai dengan rencana kerja kebutuhan masyarakat(bottom up planning).  

6_pemulihan_merapiPendekatan  Sekolah Lapang yang digunakan mendorong terbangunnya learning cyrcle masyarakat. Ini dimulai dari menemukan permasalahan, menganalisa, menemukan solusi, mempraktekkannya, mengevaluasi dan membuat perbaikan untuk solusi ke depan. Sedangkan konsep program yang berbasis pada sumberdaya alam dan kearifan lokal mengurangi ketergantungan dengan pihak luar dan mendorong percepatan pemulihan sumber-sumber pencaharian masyarakat serta menjamin keberlanjutan upaya-upaya pemulihan di masa depan.  

Konsep ini membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat terutama kaum perempuan. Konsep ini mendorong terjadinya keterpaduan secara teknis, ekonomis, lingkungan dan sosial sehingga terintegral dan efisien.  

Dari sisi aspek gender program ini mampu memberikan ruang dan wadah bagi keterlibatan perempuan dan laki-laki dalam program menata kehidupan kembali. Jumlah wanita dalam kelompok tani wanita yang direncanakan berpartisipasi aktif sebanyak 160 orang namun yang ikut sebanyak 164 orang. Untuk mengelola lahan yang tertutup abu vulkanik, anggota kelompok bergotong royong membersihkan lahan bersama-sama secara bergiliran. Peran domestik ibu–ibu yang biasanya kurang diperhitungkan dalam keluarga menjadi lebih berarti ketika ibu–ibu dapat membantu mengurangi belanja keluarga dari anggaran pembelian sayuran.

Pasca erupsi Merapi sumber bahan pangan local yang cepat tumbuh dan belum dikelola sebagai sumber bahan pangan seperti umbi-umbian ganyong dan  garut mulai mendapat perhatian. Masyarakat lokal di situ sudah mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan keahlian dalam pengolahan aneka makanan olahan.

Program  yang sudah dijalankan yaitu pertanian lahan kering (sayuran dan umbi-umbian) yang ditumpangsarikan dengan pengembangan tanaman pakan ternak jenis turi, penanaman tanaman sengon serta dilengkapi dengan penggunaan pupuk organik, merupakan alternatif bagi warga masyarakat di kawasan puncak Merapi itu untuk mendapat penghasilan jangka pendek yang tidak bertentangan dengan kebijakan peruntukan kawasannya.  

Pada aspek pengurangan resiko bencana terbangunnya adaptasi masyarakat terhadap bencana di sektor livelihood yang memanfaatkan potesni local yang ada. Masyarakat pada masing–masing dusun sudah memiliki Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) dan juga sudah memiliki Kontijensi Plan (Rencana Kesiapsiagaan) yang disusun sebagai standar prosedur jika terjadi bencana.  Masyarakat juga  sudah memiliki kesiapsiagaan dengan memanfaatkan potensi local untuk menata kehidupan kembali.

Dari sisi aspek ekonomi telah terjadi  diversifikasi mata pencaharian menjadi salah satu strategi untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan keamanan pangan masyarakat jika terjadi bencana terutama yang berdampak pada asset natural. Pengembangan  usaha makanan olahan telah dilakukan oleh ibu–ibu di lokasi program.

7_pemulihan_merapiSelain itu pemanfaatan lahan pekarangan untuk tanaman sayuran dan umbi–umbian (yang tahan terhadap erupsi Merapi) dilakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga terhadap kebutuhan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain. Pengurangan biaya produksi pertanian terutama untuk belanja pupuk akan meningkatkan kemandirian masyarakat serta menjaga keberlanjutan fungsi dan manfaat tanah. Sedang pemanfaatan dan pengolahan air limbah rumah tangga untuk irigasi, mengurangi belanja keluarga dari pembelian air untuk budidaya sayuran.

Begitu yang telah dilakukan team LPTP selama hampir 1 semester di tiga dusun di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman dalam program DRR yang fokus pada livelihood.  Pemulihan kehidupan yang terkena  ekses bencana memang perlu waktu lama, namun setidak-tidaknya perlu langkah awal yang nantinya akan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat sendiri. Team LPTP itu adalah Sumino sebagai penanggung jawab, Titik Suzana sebagai koordinator lapangan dan fasilitator yang terdiri dari  Sri, Iwan, Weny & Digdo. Selain itu juga ada Purwono Yunianto sebagai fasiliotator ahli pertanian. Program itu dijalankan oleh LPTP bekerjasama dengan UNDP.

 

***

 



Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design