Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
Home » Artikel » MANAJEMEN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI

MANAJEMEN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
 
Posted : Tue, 05 June 2012 - 08:47 ( 2894 views)

MANAJEMEN  PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Penyusunan Recana Induk Konservasi Tanah Desa (RKTD)

Tulisan ini merupakan salah satu pengalaman Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP-Surakarta) dalam mengelola konservasi pada DAS Grindulu Pacitan. Pada waktu itu LPTP menginisiasi Penyusunan Rencana Induk Konservasi Tanah Desa (RKTD) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Grindulu. DAS Grindulu merupakan salah satu DAS di Kabupaten Pacitan yang memiliki tingkat kekritisan peringkat pertama. Desa-desa  yang berada dibagian hulu DAS ini adalah Desa Jetis Lor, Desa Mujing, Desa Sempu, Kecamatan Nawangan dan Desa Petungsinarang Kecamatan Bandar.

RKTD merupakan dokumen rencana induk jangka pendek (5 tahun) yang disusun secara bottom up oleh petani suatu desa untuk kegiatan konservasi di tingkat desa. Tujuannya menyusun dokumen perencanaan konservasi tanah     jangka pendek secara partisipatif ini agar dapat menjadi panduan masyarakat dalam menjalankan berbagai aktiviatasnya, menjadi panduan dalam menyusun perencanaan pembangunan pemerintah desa dan pihak – pihak lain untuk mengelola konservasi di desa tersebut.

RKTD pada dasarnya menyusun rencana semua kegiatan konservasi tanah dan air yang harus dilaksanakan di desa dan untuk memperoleh dukungan kegiatan dari Kabupaten atau pihak – pihak lain, agar program dapat dilaksanakan keberlanjutanya.

Metodologi penyusunan RKTD dengan menghimpun dan memadukan partisipasi seluruh stakeholder dengan mengembangkan rakitan teknologi stabilisasi lahan dan usaha tani konservasi dengan merekayasa biofisik yang sesuai dengan kondisi setempat (specific location), yang mampu mengendalikan erosi dan sekaligus memberikan hasil yang tinggi.

rktd2Strategi dasar  yang dilakukan dengan cara SLKT (Sekolah Lapangan Konservasi Terpadu), yang berperspektif dan dengan memperhatikan faktor ekologi, ekonomi, budaya, pengembangan pusat belajar dan penguatan kelembagaan masyarakat.

Ekologi  adalah pengelolaan sumberdaya alam yang ada harus mempertimbangkan keseimbangan ekosistem, baik dengan memadukan antara pilihan tindakan berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat, dan manfaat bagi masyarakat (sosial, ekonomi, lingkungan) secara berkelanjutan. Baik dalam hal pilihan komoditas maupun teknis penanganan.

Ekonomi adalah pengembangan sumber–sumber pendapatan bagi masyarakat, dalam arti tidak harus memunculkan sesuatu yang baru tetapi dengan mengembangkan pengalaman dan potensi sumberdaya alam yang dimiliki. Pengembangan ternak, pengembangan usaha skala rumah tangga, dan pengembangan tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi tetapi tidak merusak ekosistem kawasan merupakan salah satu pilihan yang akan dikembangkan. Dengan strategi ini tidak harus memulai dari awal, karena kalau memulai dari awal dengan sesuatu yang baru akan membutuhkan waktu yang lama. Tetapi yang perlu dilakukan sekarang adalah memaksimalkan pengalaman yang ada dan memfasilitasi hal–hal yang itu sangat penting dibutuhkan tetapi selama ini belum terfasilitasi. Tetapi bukan sesuatu yang baru itu tidak perlu tetapi seiring dengan perkembangan itupun akan muncul.  Apabila ini dilakukan maka percepatan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat akan dapat tercapai.

Sosial Budaya :  Pengembangan kader–kader yang memiliki kemampuan teknis dan non teknis, yang mampu mengorganisir, memobilisasi dan melakukan upaya–upaya pengelolaan sumberdaya alam secara mandiri ini sangat penting. Karena dengan pengembangan kader ini transfer pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat luas akan bisa dipercepat. Dengan adanya kader ini maka keberlanjutan dan keberhasilan program akan dapat terjamin.

Pengembangan pusat–pusat belajar yang dikelola oleh petani–petani kader menjadi satu hal yang sangat penting untuk melakukan perubahan sosial dan budaya masyarakat. Dengan adanya pusat–pusat belajar ini maka transfer informasi dan pengetahuan akan menjadi cepat tersebar. Disamping itu pusat–pusat belajar ini juga menjadi media pengembangan inovasi teknologi dan pengetahuan serta memberikan pembelajaran bagi masyarakat sekitar ataupun pihak lain.

rktd4Penguatan kelembangaan yang sudah ada menjadi kelembangaan yang fungsional, yang mampu mengorganisir semua kegiatan dikawasan tersebut merupakan salah satu hal yang penting. Sehingga karena kelembagaan ini merupakan wadah bagi kader untuk menyatukan langkah dalam satu kawasan dan wadah untuk sharing pengalaman antar pusat belajar. Dengan adanya kelembagaan yang kuat ini maka akan dapat mempengaruhi perubahan kebijakan yang tidak menguntungkan masyarakat dalam satu kawasan tersebut.

 

PROSES PENYUSUNAN RKTD

  • Tahap persiapan -  Memperkenalkan Konsep RKTD. Kegiatanya : Sosialisasi tingkat kecamatan, sosialisasi tingkat desa, sosialisasi tingkat dusun. Tujuanya menyamakan persepsi program penyusunan RKTD, lokasi program memenuhi persyaratan untuk RKTD, membuat kesepakatan pelaksanaan program penyusunan RKTD.
  • Tahap pelaksanaan penyusunan RKTD. yaitu :

 

Tahap pelaksanaan RKTD melalui langkah demi langkah. Langkah-langkah itu sebagai berikut :

Langkah pertama dengan melakukan  inventarisasi umum masalah dan stakeholder.  Tujuannya mengidentifikasi masalah-masalah utama di dusun dan memutuskan apakah erosi tanah merupakan masalaha yg cukup serius untuk dimasukan ke dalam RKTD. Mengidentifikasi kelompok stakeholder, sistem usahataninya dan situasi sosial ekonominya, dan peranannya dalam kegiatan pengelolaan lahan agar dapat memilih tindakan / upaya konservasi tanah yg tepat dan agar dapat menentukan peluang keberhasilan program

rktd5Langkah kedua - inventarisasi rinci tempat yang mempunyai masalah erosi. Tujuannya mengidentifikasi dan melakukan pengecekan lapangan pada tempat penting terjadinya masalah erosi dan mengumpulkan data lain yang diperlukan.

Langkah ketiga - mencari solusi indentifikasi dan evaluasi tindakan konservasi tanah. Tujuannya menyeleksi tindakan-tindakan / upaya konservasi tanah yang tepat, oleh petani, berdasarkan hasil diskusi mengenai keuntungan, kerugian dan dukungan yg tersedia.

Langkah keempat - penyusunan draft RKTD. Tujuannya  menyusun draft RKTD untuk melaksanakan kegiatan konservasi tanah ditempat maslah erosi dan memberikan rekomendasi-rekomendasi umum untuk wilayah sisanya.

Langkah kelima - penyusunan RKTD lengkap. Tujuannya  melengkapi RKTD dengan teks dan tabel-tabel serta dana dan bahan yg diperlukan.

Langkah keenam – penyusunan RKTD final / definitif. Tujuannya  mendiskusikan usulan RKTD final / definitif dengan petani Kelompok Tani Konservasi (KPK) / stakeholder. Memastikan bahwa petani / stakeholder memahami dan menyetujui RKTD yg final dan mengirimkannya untuk disetujui agar dapat dukungan juga, disahkan oleh desa sebagai perencanaan pembangunan konservasi di desa.

Langkah ketujuh - penggandaan dan pendistribusian laporan RKTD. Tujuannya menginformasikan kepada semua instansi yg terkait, memperoleh dukungan kegiatan konservasi.


HASIL IMPLEMENTASI RKTD

  • Tersusun 4 (Empat) Dokumen RKTD atau Rencana Konservasi Tanah Desa yang merupakan suatu dokumen rencana induk  (Master Plan) jangka pendek (5 tahun) yang disusun dari bawah (bottom-up) secara partisipatif oleh petani suatu desa untuk kegiatan konservasi tanah di tingkat Desa.
  • Dalam Penyusunan RKTD melalui dan melibatkan petani di 22 Dusun, 4 Desa di 2 Kecamatan
  • Terbentuk KPK (Kelompok Petani Konservasi) sebanyak  4 (empat) KPK ditingkat Desa dan 22 KPK ditingkat Dusun, dan 132 Koordinator Bukit. Tujuanya : Sebagai wadah pusat belajar petani ditingkat dusun. Tempat merencanakan, monitoring, evaluasi  kegiatan konservasi. Pengelolaan ekonomi kelompok. (simpan pinjam).

Komponen

Kec. Nawangan

Kec, Bandar

Jumlah

Mujing

Sempu

Jetis Lor

Petungsinarang

Jumlah KPK

5

5

6

6

22

Koordinator Bukit

48

38

26

20

132

Jumlah anggota

919

1.499

1.298

828

3.248 (orang)

Lahan kritis

357.4

310.3

562.34

442.38

1.672,42 ( ha)

 
Kegiatan KPK (Kelompok Petani Konservasi) Tahun ke-1, periode 2004 – 2005, yaitu:

  1. rktd7Pelatihan Kelompok Petani  Konservasi  (KPK) yaitu pengembangan Kebun Bibit Desa (KBD). Pelatihan Sipil Teknis, meliputi cara pembuatan dan pengelolaan lahan dan teras, pengelolaan SPA (saluran pengendali air) / kalen, pengelolaan BTA (Bangunan Terjunan Air) / DROP, Pelatihan dan pengembangan THE (Tungku Hemat Energi). Pelatihan  pengelolaan air dan pengelolaan air dalam bentuk pemipaan, pembangunan PAH  (Penampungan air hujan), pengelolaan belik (water cuptering). Pengelolaan ekonomi kelompok. Pengembangan bakteri untuk pupuk organik (pengomposan).
  2. Pengembangan Kebun Bibit Desa (KBD). Jenis benih yang dikembangkan untuk Kebun Bibit Dusun (KBD) termasuk tanaman serbaguna, memiliki fungsi sebagai penguat teras, sebagai pakan ternak, pupuk hijau, dan kayu bakar.
  3. Pengembangan Tungku Hemat Energi. Tujuan : menekan penggunaan kayu bakar, menghemat waktu dalam memasak, menjaga kesehatan dari sesak nafas dan mata perih.stratagi pengembangan kader–kader dimasing–masing kelompok petani konservasi (KPK)
  4. Pembangunan Sarana Air Bersih. Tujuannya menjawab kesulitan air bersih dimusim kemarau. Strategi yang dilakukan stratagi pengembangan kader–kader dimasing–masing kelompok petani konservasi (KPK) dengan memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki dan pengembangan kader. Keswadayaan masyarakat hampir 40% dari material berupa batu disediakan oleh masyarakat.  Hasil dari kegiatan ini telah terbangun konstruksi air bersih sebagai berikut : PAH, water cuptering, Pemipaan, Bak Distribusi
  5. Pengelolaan Perpustakaan Kelompok Petani Konservasi (KPK) di 22 KPK (kelompok Petani Konservasi) di 4 Desa, 2 Kecamatan. Perpustakaan itu  memiliki 30 Judul buku tentang konservasi, pertanian, perkebunan dan peternakan. Selain itu juga memiliki  11 judul leaflet (informasi teknis) tentang konservasi, perkebunan, peternakan, pengelolaan pupuk organic dan memiliki 2  buah poster tentang hutan rakyat, dan konservasi lahan serta memiliki 3 buah VCD tentang proses penyusunan RKTD, pengelolaan air berbasis masyarakat, pengembangan tungku hemat energi.
  6. Pengelolaan Ekonomi Kelompok Petani Konservasi (KPK). Dana KPK didapat dari Besarnya kswadayaan anggota KPK yang mendapat dana stimulan program GGWRM dalam implementasi sipil teknis (pembuatan SPA, BTA dan teras) dapat digunakan untuk kas KPK. Besarnya kas KPK tergantung dari kesepakatan masing-masing anggota KPK. Kas KPK digunakan untuk usaha simpan pinjam dan usaha ternak bergulir, ini tergantung dari kesepakan masing-masing anggota KPK. Setiap  KPK memiliki aturan kelompok sendiri-sendiri tergantung pada kesepakatan kelompok.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL

  • Mayarakat : Kelompok – kelompok KPK menjadi pusat belajar dan informasi, dimana didalamnya ada : petani ahli, lahan belajar, perpustakaan kelompok. Masyarakat termotivasi untuk memecahkan permasalahan sendiri, indikator tingkat partisipasi tinggi (terlibat dalam kegiatan dan pertemuan, penyediaan material dan tenaga)
  • Dampak terhadap kebijakan desa : RKTD menjadi bahan untuk musyawarah pembangunan desa RKTD untuk dijadikan peraturan desa dalam konservasi.
  • Pemerintah / Instansi terkait: RKTD diintegrasikan menjadi acuan dengan program terkait, dan masuk program GNKPA (Gerakan Nasional kemitraan Pengelolaan Air)

**rktd8*rktd9

Purwono

Yunianto

anton@lptp.or.id

 

 

 

 

Tulisan ini dipresentasikan pada forum Konsorsium Partners for Resilience (PfR) Indonesia – Sub Akademi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SSCBDA) ke-5, tanggal, 21 – 23 Mei 2012 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Indonesia



Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design