Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
Home » Artikel » Menata Kehidupan Kembali Pasca Erupsi Merapi

Menata Kehidupan Kembali Pasca Erupsi Merapi
 
Posted : Thu, 01 March 2012 - 16:31 ( 2629 views)

Menata Kehidupan Kembali Pasca Erupsi Merapi
Budidaya Tanaman Sayur Berkelanjutan
 
Sebelum erupsi Merapi pada tahun 2010, penghidupan masyarakat Desa Glagaharjo, khususnya Dukuh Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, Srunen, Gading dan Jetis Sumur, Kecamatan Cangkringan Yogyakarta,  ditopang dari hasil pertanian, hutan rakyat dan usaha sapi perah. Ketiganya merupakan sumber pendapatan utama masyarakat padukuhan itu.
 
Secara keseluruhan luas lahan pertanian di 5 dusun itu ada 102 ha. Jumlah itu termasuk tanah tegalan yang dimiliki warga desa. Setelah erupsi merapi, dari keseluruhan lahan pertanian yang ada di 5 dusun tersebut, 15 % lahan sudah dilakukan pembersihan secara swadaya dan ditanami aneka tanaman. Sejumlah  8,63 ha ditanami palawija, 13,8 ha tanaman keras, 0,58 ha umbi-umbian dan sayuran, 5,75 ha pisang dan 0,25 ha pakan rumput.  Belum semua luas lahan terkelola dengan baik. Belum terkelolanya itu disebabkan terbatasnya sumberdaya untuk pembersihan lahan dan penyediaan bibit serta pupuk. Selain itu selama ini kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga  sebagian besar membeli dari luar desa, padahal potensi lahan yang dimiliki  masing-masing dusun belum dikelola secara optimal.  
 budidaya_pertanian_2
Untuk ternak sapi saat ini yang  dimiliki masyarakat desa masih muda dan  belum memproduksi susu. Ternak sapi itu  baru siap produksi sekitar 3 – 4 bulan lagi, dengan catatan pakan ternak cukup tersedia dan berkualitas. Sementara menunggu masa produksi susu sapi tersebut, untuk mempertahankan hidup saat ini penduduk menggandalkan penghasilan dari menjual kayu bakar yang dikumpulkan dari sisa-sisa tanaman kayu  yang mati terbakar terkena awan panas saat erupsi Merapi dulu.
 
Menghadapi realita tersebut sebagian ibu – ibu menginisiasi mengelola lahan pekarangan dengan  budidaya tanaman sayuran dan tanaman umbi–umbian. Dipilihnya jenis tanaman itu  dengan pertimbangan  mudah tumbuh dan  relatif tahan terhadap iklim setempat. Itu  sebagai alternatif penyediaan bahan pangan sehari-hari. Hasilnya diharapkan dapat menopang keberlanjutan kehidupan, karena untuk pengembangan pertanian skala luas dalam waktu dekat tidak memungkinkan bisa dilakukan karena lahan pertanian rusak total tertimbun abu vulkanik setebal 50 cm.
 
Berdasarkan realita hasil awal proses belajar bersama masyarakat, Lahan pekarangan rumah memiliki potensi besar untuk dikelola guna memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari.
 
Dari kondisi itu kemudian disepakati diselenggarakan Pelatihan Livelihood Kelompok Tani Wanita Budidaya Tanaman Sayuran Organik.  Tujuannya meningkatkan wawasan dan ketrampilan kelompok tani perempuan dalam budidaya sayur dengan konsep optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan yang ramah lingkungan. Outputnya diharapkan dapat mengurangi beban biaya belanja rumah tangga terutama kebutuhan sayuran.
 
budidaya_pertanian_3Dalam pelatihan ini menerapkan pendekatan partisipatif- pembelajaran orang dewasa (POD), sehingga tercipta proses belajar yang dinamis, pengalaman petani (indegenaous knowledge), memiliki peranan yang cukup besar dalam menentukan proses dinamika pelatihan, dan peran fasilitator menciptakan dinamika, proses penggalian pengalaman dari seluruh peserta. Kemudian peserta diajak bersama-sama untuk menilai dan mengkaji pengalaman yang telah diperoleh. Selanjutnya dikembangkan prinsip-prinsip pembelajaran pengalaman dan pada tahap akhir menerapkan prinsip-prinsip yang telah diperoleh untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan.
 
Materi pokok  pelatihan, menekankan perhitungan belanja kebutuhan konsumsi rumah tangga, strategi pengurangan belanja sayuran keluarga dengan memanfaatkan pekarangan keluarga. Pemetakan lahan pekarangan untuk ujicoba belajar kelompok tani wanita dengan pendekatan sekolah lapang, manajemen pengorganisasian kelompok tani wanita
 
Pelaksanaan pelatihan dan tempat penelitian belajar bersama dilakukan pada Kelompok Tani Wanita budidaya sayur berkelanjutan di Kecamatan Glagaharjo yaitu :  
  • Dukuh Kalitengah Lor - Kelompok Wanita Tani Subur & Kelompok Wanita Tani Makmur.
  • Dukuh Kali Tengah Kidul - Kelompok Kalitengah Kidul 1 & Kelompok Kalitengah Kidul 2.
  • Dukuh Srunen - Kelompok Srunen 1 & Kelompok Srunen 2
  • Dukuh Gading - . Kelompok Wanita Tani Sedyo Manunggal
  • Dukuh Jetis Sumur - .Kelompok Wanita Tani Srikandi Bangkit
budidaya_pertanian_4Selama proses ujicoba belajar bersama kelompok tani wanita, dipahami bagaimana melakukan pengamatan tanaman, hama & penyakit yang dilakukan setiap minggu, bagaimana membedakan hama & musuh alami, prinsip & teknik budidaya sayuran yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
 
Dengan pemanfaatan lahan pekarangan penduduk  bisa mengurangi belanja konsumsi keluarga dari sayuran sebesar 12,5 %, yang dapat digunakan untuk tabungan menata kehidupan kembali yang lebih baik melebihi sebelum erupsi merapi.

Team Recovery Of  Community Income Resources Through Integrated And Sustainable Micro Scale Agriculture And Farming Cultivation LPTP-UNDP – Purwono Yunianto
 
 ***
lptp_01
 
undp
 
 


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design