Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
LPTP ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
NGO SULSEL MAGANG DI ...
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
LPTP Menatap dunia dengan cara berbeda

Home » Artikel » Angi Ria dari Ujung Sikka

Angi Ria dari Ujung Sikka
 
Posted : Mon, 16 September 2013 - 05:54 ( 3127 views)

Angi Ria dari Ujung Sikka
Kearifan Dalam Menyikapi Bencana
Dusun Gaikiu terletak di desa Bu Utara Kecamatan Tanawawo sekitar 75 km  arah barat daya kota Maumere. Dusun itu dikeliling ladang dan terletak di kawasan hutan. Sulistyo, salah seorang team LPTP yang sedang melaksanakan program LPTP di kawasan NTT mendatangi sebuah lepa (pondok di ladang) untuk menemui Yosep Wondo, lelaki ramah paruh baya yang menjadi mosalaki (ketua adat) suku Tana Senda. Tidak mudah untuk sampai ke situ. Ia harus menempuh perjalanan cukup panjang  dengan jalan kaki. Ia harus melalui jalan setapak rindang penuh pohon kemiri, pohon aren yang mulai berbuah dan rumput ilalang yang tingginya melebihi tinggi tubuhnya.

Orang luar tak ada yang menyangka desa indah yang penuh kedamaian ini akrab dengan bencana angi ria (angin kencang). Secara arif penduduk desa ini berusaha bersahabat dengan bencana angi ria yang rutin datang ke desa itu.   Berikut adalah paparan dari perjalanan Sulistyo yang baru saja menemui mosalaki  suku Tana Senda tentang desa terpencil yang memiliki kearifan dalam menyikapi ancaman bencana yang rutin datang ke desa itu (Red).

Yosep Wondo (50 tahun) merupakan ketua adat suku Tana Senda. Lelaki paruh baya itu ramahlepa dan selalu menyambut tamunya dengan senyum dari bibir yang  memerah karena kegemarannya mengunyah sirih pinang yang dilakukannya sejak remaja. Hari-hari Yosep Wondo lebih banyak dihabiskan di lepa berukuran 3 kali 1,5 meter. Lepa itu dibuat panggung berketinggian 2 meter dan beratap alang-alang. Dindingnya dari bambu dan terletak di tepi ladang dan sawah keluarga besarnya. Isterinya, Maria Setu berusia 50 tahun baru saja memunguti buah kemiri yang  jatuh dari pohon di sekitar pondoknya. Pohon kemiri yang sudah mulai berbuah itu usianya sekitar 6-7 tahun. Jumlah pohon kemiri yang dimiliki keluarga Yosep sekitar 20 pohon dan tersebar di tanahnya.
 
Yosep bercerita kalau tahun ini panennya cukup baik dibanding dengan tahun kemarin. Padi dan jagung di sini ditanam secara berselang-seling. Sekitar  1 meter jaraknya dari jagung dibawahnya ditanami padi ladang. Menurutnya tahun kemarin angin kencang yang melanda desanya merusak tanaman pangan dan komoditi yang dimiliki warga.
 
ketua_adat_01
 
Menurut Yosep, desanya setiap tahun dilanda angin kencang. Mereka menyebutnya  angi ria. Angin kencang terjadi sekitar bulan Desember sampai Maret bahkan April. Angin kencang biasanya terjadi satu sampai tiga jam tanpa henti setiap harinya, bisa terjadi malam atau siang selama sebulan penuh. Angi  ria ini terjadi sejak nenek moyangnya dahulu tanpa diketahui kapan mulai ada.
 
 
Secara geografi Desa Bu Utara terletak di  Lintang Selatan S 8°42’846  - S 08°43’276 dan Bujur Timur E 121°57’545 – E 121°58’176 dengan ketinggian dari 601 – 1090 meter dari permukaan air laut. Hampir seluruh desa merupakan bentangan alam yang berbukit-bukit. Pemukiman  masyarakatnya bergerombol sebagaimana desa lain.
 
Saat menjelang musim angin kencang tiba, masyarakat bersiap diri dengan memberikan beban pada atap rumahnya dengan kayu besar, bambu, batako, pipa–pipa besi dan sebagian dengan batu-batuan. Di  setiap sudut rumah tampak pengikat rumah dari kawat, tali dan rotan yang diikatkan dengan kayu penopang rumah. Tali-tali itu diikatkan pada patok yang terbuat dari kayu atau bambu yang ditancapkan ditanah.
 
Untuk  rumah panggung, tiang atap rumah diberi tali rotan atau ijuk yang diikatkan pada papan kayu dan ditindihkan pengamanan_rumahdengan batu yang besar di bawah rumah. Semua  itu dilakukan untuk mengurangi risiko roboh atau terbangnya atap rumah ketika angin menerjang pemukimannya. Batu besar sebagai pemberat papan kayu itu biasanya disebut batu kape. Orang  luar akan takjub dan heran  melihat pola pengamanan rumah seperti itu. Itu terjadi antara bulan Desember sampai Maret saat musim angin kencang.
 
Untuk rumah panggung, tumpukan batu besar  digunakan untuk mengganjal kayu dan  itu  diikat dengan rotan serta tali ijuk. Batu itu berfungsi sebagai pemberat agar atap kayu tidak terbang saat dilanda angin kencang. Ada keyakinan bahwa batu kape yang diikat dengan rotan atau ijuk lebih kuat dibanding dengan patok yang diikat dengan kawat atau tali plastik sebagai pengikat rumah.

Kearifan local dalam membangun rumah
Bentuk bangunan rumah di desa Bu Utara sebagian besar sudah beratap seng. Sebanyak 252 rumah sudah beratap seng. Jumlah rumah panggung 80 rumah dan tidak panggung 172 rumah. Rumah panggung tersebar di setiap kampung dari 14 kampung yang ada di desa. Sedangkan rumah yang beratap seng 252 rumah dan beratap alang-alang 20 rumah saja.

Sebelum membangun rumah masyarakat Desa Bu Utara memiliki kearifan lokal dalam memilih dan memastikan kelayakan suatu tempat untuk bisa dibangun rumah atau tidak oleh pemiliknya. Caranya sederhana saja. Sebuah  botol diisi penuh air dan ditutup rapat. Botol itu kemudian dipendam ke dalam tanah di tempat dimana rumah akan dibangun. Sebelum lubang tempat botol itu ditutup dengan tanah, orang yang diberikan wewenang untuk menguburkan botol tersebut mengucapkan janji atau sumpah.
 
“Saya menguburkan botol berisi air penuh ini ke dalam tanah. Jika pada saatnya nanti botol ini diambil dan airnya tetap penuh, maka diizinkan untuk membangun rumah di tempat ini, tetapi jika airnya berkurang maka belum diizinkan untuk membangun rumah di tempat ini.”

rumah_panggungBegitu yang diyakini masyarakat daerah itu. Rentang waktu penguburan botol antara 1 minggu hingga 1 bulan. Jika nanti saat diambil kembali airnya berkurang, maka tempat tersebut tidak dapat dibangun rumah. Jika air dalam botol itu tetap penuh maka tempat itu diyakini nyaman bagi pemilik untuk membangun rumah. Keyakinan itu dipegang teguh oleh seluruh warga masyarakat desa itu.
 
Warga masyarakat desa juga memiliki kearifan lokal lain pada saat hendak membangun rumah yang dinamakan mbetha. Mbetha ini merupakan saat peletakkan batu pertama. Sedang untuk bentuk bangunan rumah, masyarakat menggunakan model 2 air dan 4 air.
 
Model 2 air maksudnya model atap dengan 2 sisi tempat jatuh air (air hujan) atau aliran air. Bentuk ini terbilang murah karena tidak butuh banyak biaya khususnya untuk beli seng, batu, semen, pasir dan kayu. Untuk model 4 air merupakan model atap dengan 4 sisi tempat jatuhnya air (air hujan) aliran air. Model ini biayanya besar tetapi keuntungnya bisa tahan terhadap angin dan banyak ventilasi sebagai tempat sirkulasi udara.

KEARIFAN MENYIKAPI BENCANA
Sebelum terjadi angin besar ada tanda-tanda baik dari alam yang bisa dilihat masyarakat atau dari mimpi orang-orang adat. Pertanda dari alam bisa dilihat dari adanya awan hitam yang membentuk garis panjang bergerak dari selatan ke utara dengan cepat dan gerimis pun mengiringinya. Awan hitam berbetuk garis panjang ini mirip sebuah lekuk ular panjang di langit.
 
Selain itu juga dapat dilihat dari hasil pertanian buah-buahan  yang ditanam warga. Buah-buahan sangat lebat, baik itu buah mangga, jeruk, alpukat serta bunga jagung yang lebat juga merupakan tanda dari alam kalau musim angin akan kencang sekali. Sedangkan dari para pemuka adat biasanya melalui mimpi. Ada  yang bermimpi bertemu dengan  rombongan atau seorang yang naik kuda hitam dari selatan ke utara. Yang bermimpi begitu tidak hanya dua atau tiga orang namun banyak orang terutama mereka yang masih memiliki keturunan darah adat.

Ketika angin kencang mulai melanda ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan dilakukan oleh adat di desa. Di antaranya adalah tidak boleh mengenakan baju merah, menimbulkan suara-suara keras seperti memukul kayu, membunyikan musik dan tidak boleh berteriak teriak serta dilarang meninggalkan atau mengosongkan rumah. Jika ditinggalkan menurut keyakinanan masyarakat si angin merasa rumah tersebut tidak berpenghuni. Angin pun akan menerjangnya hingga luluh lantak. Selain itu warga tidak boleh ke ladang dan kebun, tidak boleh membawa parang dengan tanpa sarung atau penutup. Yang pasti warga tidak boleh meninggalkan rumah sekencang apapun angin bertiup. Warga juga tidak diperkenankan menunggangi menunggai kuda untuk  berjalan.  

porak_porandaSuara-suara keras yang ditimbulkan diyakini akan menjadikan angin lebih kencang. Suara  yang ditimbulkan oleh angin sudah besar dan dianggap angin ada yang menyainginya.  Sedangkan larangan tidak boleh berladang atau ke kebun dikhawatirkan akan terhempas angi na atau tertimpa pohon yang tumbang. Sedangkan parang yang tidak pakai sarung dinyakini merupakan tantangan untuk melawan nenek moyang angin yang sedang lewat.  Ada  juga yang menyakini jika tidak diberi sarung akan mendatangkan petir dan akan merenggut korban jiwa bagi yang membawanya. 

Ketika angin reda di setiap harinya, masyarakat langsung mengambil kebutuhan makan dengan mengambil sisa-sisa tanaman yang masih bisa dimakan dan tidak rusak oleh angin. Mereka juga melihat ternaknya yang diikat di ladang atau kebun serta mengambil air bersih. Biasanya tanaman yang diambil untuk makan dan dibawa ke rumah adalah umbi-umbian, misalnya talas, ubi kayu, ubi rambat. Ketika angin mulai kencang lagi, masyarakat bergegas kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga sambil membawa bahan makanan dari kebun.
 
Hampir semua persawahan yang digarap warga masyarakat dengan luasan 66,5 ha yang terdiri 44 ha sawah ladang dan 22,5 ha sawah pengairan rusak karena angin. Kerusakan semakin besar  jika angin datang ketika mulai panen.
 
Pada tahun 2012 tanaman pangan dan komoditi seluas 120 ha rusak yang terdiri dari kemiri, kakao, kopi, buah-buahan dan sayuran. Sebagian  masyarakat yang memiliki lumbung menyimpannya di lumbung sebagai cadangan makan jika terjadi bencana angin kencang. Sebagian lagi menyimpannya di rumah dalam sebuah kamar yang berfungsi sebagai gudang. Di desa ini terdapat 105 lumbung yang masih berfungsi. Bentuk dari bentuk lumbung seperti rumah panggung yang ukurannya 1 x 2 meter atau 1x 3 meter yang berdinding bambu dan beratap alang-alang. Lumbung dibangun di sekitar rumah atau di lingkungan ladang, sawah atau kebun. Lumbung  sangat berarti bagi masyarakat desa itu karena merupakan tempat menyimpan hasil panennya.
 
Namun sekarang masyarakat menyimpan bahan pangan dan cadangan pangan tersebut di dalam rumah yang mereka sebut gudang. Perubahan sikap masyarakat itu karena adanya pengalaman bahwa menyimpan di lumbung bias roboh dihempas angin,  alasan yang kedua biaya cukup mahal, alasannya berikutnya berkurangnya hasil panen yang disimpan di lumbung tersebut.  Secara praktis masyarakat menyimpannya di dalam rumah yang dekat dengan dapur dan mudah mengontrolnya jika ada cadangan pangan atau bibit yang rusak.
 
Masyarakat sekarang pada umunya menyimpan bahan pangan di dalam rumah dengan jumlah yang tidak sebanyak jika dibandingkan dengan warga yang memiliki lumbung. Persediaan pangan yang disimpan di dalam rumah hanya cukup untuk 1-2 minggu saja. Berbeda dengan yang memiliki lumbung, mereka menyimpan bahan pangan cukup sampai panen di musim berikutnya.
 
Pada Maret 2012 terjadi angin yang mengakibatkan rusaknya memasak_01tanaman pangan dan sebanyak 39 rumah roboh. Sebuah bangunan sekolah atap sengnya kabur terangkat. Ada 42 lumbung dan pondok di ladang roboh.  Sebuah gereja (kapela) seng sebagai atapnya juga kabur sejauh 50 meter. Banyak pohon-pohon yang tumbang di landang dan menghalangi jalan-jalan di desa sehingga akses ke desa lumpuh.
 
Budaya dalam menjaga angin tidak secara khusus dilaksanakan. Namun adat untuk mengurangi kencangnya angin, dengan memberikan sesaji kepada nenek moyang berupa  beras, sirih, pinang, bakau di batuan adat (mosamase di depan rumah adat) dilakukan oleh (mosalaki) ketua adat suku Tana Senda.
(Sulistyo)
 
sulis_2
 
***
 


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design