Biogas

MESIN PERAJANG SAMPAH ORGANIK UNTUK PENGOLAHAN KOMPOS DI DIENG ...
TRAINING PEMBUATAN FILM DOKUMENTER UNTUK ...
LPTP ...
NGO SULSEL MAGANG DI ...
KOMUNITAS FILM DOKUMENTER PELAJAR
IN MEMORIAM FOUNDER FATHER  ...
PAMERAN TTG LPTP DI PACITAN KREATIF
YLPTP SELENGGARAKAN RAKER DEWAN PEMBINA DAN ...
Masalah utama yang ...
MEN-LH RAHMAT WITOELAR KUNJUNGI ...

Selama kurun waktu satu tahun ...
Sebagaimana tradisi LPTP, pada setiap bulan Romadhan ...
Pada ...
35 tahun bukan waktu yang pendek. ...
Hari Senin, tanggal 4 November ...
 Team LPTP melakukan pemetaan rumah ...
Waktu merupakan sekolah tempat kita belajar. Waktu ...
LPTP kembali ...
Pelatihan ...



View LPTP Stats

View LPTP Stats


 
Home » Artikel » Program Partners For Resilience (PFR)

Program Partners For Resilience (PFR)
 
Posted : Mon, 19 November 2012 - 05:26 ( 3395 views)

Program Partners For Resilience (PFR)
URAT NADI WATUNESO

Perjuangan Ibu Mendapatkan Air Kehidupan

Lio Timur – Ende. 2012. Kalurahan Watuneso, merupakan salah satu dari 4 desa Program Partners For Resilience LPTP, suatu hari ketika melakukan kajian Participatory Disaster Risk Assesment setelah semua lingkungan/dusun saya jelajahi, kulihat dan kuikuti seorang ibu menjunjung dua drigen di kepala dan kedua tanganya mengangkat dua drigen, diikuti seorang anak yang baru umur belasan tahun menjunjung satu drigen di kepala dan satu drigen di tangan. Drigen yang terisi lima liter air penuh yang baru diambil dari sungai yang lebih terlihat batu-batu kali dibandingkan dengan air mengalir. Mereka berjalan dengan tatapan mata kuat menempuh jarak lebih dari satu kilometer terus membawa air di dalam drigen. Sungai tempat mereka mengambil air hanya terlihat batu-batu koral dengan warna abu-abu terang, warna terang itu muncul karena sinar dan panas matahari yang diserap oleh batu koral tersebut. Batu-batu koral dengan ukuran sebesar mobil sedan sampai dengan ukuran kepalan tangan orang sewasa sangat jelas terlihat. Sungai ini memberikan pemandangan menarik dengan hamparan batu koral sampai mata jauh memandang.
 
Di antara bebatuan di pinggir sungai ada seorang ibu tua yang sedang memindahkan batu-batu koral yang kecil sehingga menjadi lobang kecil. Ternyata lubangperjuangan1 tersebut menjadi tempat penampungan air yang sedikit demi sedikit air akan terkumpul dari serapan dan siap untuk dimasukan dalam drigen. Air sungai yang masih tersisa mengalir tidak hanya untuk diambil untuk di masukan dalam lubang penampungan sederhana, akan tetapi ada juga digunakan untuk mandi dan mencuci oleh anak-anak dan perempuan yang rumahnya di sekitar sungai ini. Di sebelah sungai tersebut terdapat sawah dengan warna hijau dari beberapa petak. Teraliri air sedikit demi sedikit dari sungai penuh koral yang dibendung. Disungai ini juga terdapat traktor-traktor besar yang mengangkat batu-batu besar. Batu ini ditaruh di truk-truk besar untuk dipindahkan dari sungai ini ke tempat lain. Bendungan, lubang-lubang penampungan akan selalu didapati jika kita terus menelusuri sungai ini.
 
Sungai ini berada di kelurahan Watuneso Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, tepat membelah kelurahan ini menjadi dua bagian. Masyarakat setempat biasanya mengatakan sungai ini adalah Lowo Lise. Lowo yang berarti sungai dan Lise merupakan nama Suku Lise. Lowo Lise ini merupakan paduan dari beberapa sungai yang menjadi satuperjuangan2 dari daerah perbukitan atas. Di kelurahan Watuneso ini sungai ini membentang sampai dengan 4,75 Kilometer dan di kelurah ini juga Lowo Lise in bertemu dengan Lowo Bu yang menciptakan sungai ini menjadi lebih lebar. Lebar sungai ini membuat Negara ini membangun dua jembatan untuk menghubungkan jalan Negara ini terus dapat dilewati. Muara dari sungai ini adalah laut yang berapa tepat di akhir perbatasan kelurahan Watuneso. Dari kampung Watuneso Wawo, watuneso Wena, Kolijana dan Hutanggala, masyarakatnya tidak akan terlepas dari lowo Lise ini. Air minum, memasak, mandi, mencuci, kebutuhan ternak, persawahan dan kebudayaan akan terus dibutuhkan masyarakat Watuneso. Masyarakat sangat senang dengan adanya sumur gali di lingkungan mereka, akan tetapi kesenangan masyarakat untuk mandi, mencuci di Lowolise tidak dapat digantikan.
 
Jika melihat interaksi manusia dengan sungai ini pada malam hari kita akan menemukan bapak tua akan melakukan membuka bendungan sungai. Bendungan sebelumnya pada siang hari airnya dialiri di sawah bagian atas, jika malam hari dibuka oleh bapak-bapak tua untuk dapat mengaliri sawah yang ada di bawah. Bersamaan dengan itu bapak tua tersebut telah meminta ijin kepada masyarakat yang diatas sungai untuk membuka bendungan selama satu malam agar sawah-sawahnya di bawah mendapatkan air. Kegiatan malam hari ini biasanya masyarakat ini mengatakan dengan mete air dan dilakukan jika air sungai sudah sedikit dan sulit.
 
perjuangan3Jika terus menelusuri sungai ini akan terus mendapati interaksi air, batu, lingkungan dengan manusia. Tetapi interaksi ini adalah interaksi yang tidak seimbang karena interaksi ini hanya salah satu yang membutuhkan yaitu manusia saja.  Meskipun interaksi tidak berimbang ini terus ada, sepertinya sungai ini selalu memberikan apa yang diinginkan oleh manusia di sekitarnya. Selalu dengan setia dan pasti memberikan kebutuhan air untuk penghidupan, batu dan pasir untuk pembangunan yang tidak pernah habis dan juga memberikan masyarakat disini pundi pundi uang untuk kehidupan dengan menjual batu-batu koral dan pasir yang ada. Meskipun sedikit demi sedikit kebutuhan ini terus berkurang. Batu-batu koral diambil dan dieksploitasi, lebar sungai terus berkurang air sudah pasti akan berkurang. Tetapi sungai ini selalu dengan mekanismenya mengembalikan dan merestorasi jalurnya setiap tahunnya.
 
Setiap tahunnya pada musim panas, Lowo Lise akan memberikan air sangat terbatas dan juga sampai tidak memberikan air pada masyarakat yang berada di bawah akan tetapi sungai ini memberikan mata air-mata air di muara sungai dengan kesegarannya bagi masyarakat di bawah. Pada tahun tertentu sungai ini mengembalikan jalur dan haknya dengan memberikan limpahan air yang sangat banyak dibarengi pasukan bebatuan dan pasir yang berlari dengan kencang dan dasyat, meskipun jalur dan jalannya melewati persawahan dan ladang masyarakat di dekat muara. Biasanya masyarakat menyebutnya Banjir besar seperti pada tahun 2002 dan Lowo Lise mengatakan ini adalah mekanisme untuk selalu menyediakan kebutuhan manusia dan masyarakat Watuneso akan selalu membutuhkan sungai ini karena sungai ini telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Watuneso.  

perjuangan4


#. Paga Beach, 28 November 2012 . Ade Irman Susanto -  Tulisan ini dipersembahkan untuk istri tercinta yg lagi hamil – di Yogyakarta dan mengenang ulang tahunya.


Copyright © 2008 - 2018 by LPTP surakarta, All right reserved.
Bali web design