Posted :
Wed, 16 December 2009 - 13:52
(
856
views)
PEMETAAN KEBUTUHAN ENERGI DESA Sebuah Kajian Energi Pedesaan di Kabupaten Sigi & Donggala Provinsi Sulawesi Tengah
Tulisan ini merupakan sebuah catatan perjalanan di Sulawesi Tengah. Selama seminggu lebih penulis menjelajah di beberapa desa di Sulawesi Tengah dan belajar bersama masyarakat, melihat serta menghitung konsumsi energi dalam menunjang kehidupan sehari-hari masyarakat di sebuah desa. Dari situ kemudian diketahui estimasi berapa anggaran yang harus dikeluarkan masyarakat sebuah desa untuk memenuhi kebutuhan akan energinya.
Proses penjajagan kajian energi pedesaan ini dilakukan untuk memetakan kebutuhan pemenuhan energi dan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat pedesaan dalam memenuhi kebutuhan energi sehari-hari terutama untuk kegiatan ekonomi maupun sosial. Juga dampak-dampaknya dari upaya itu seperti apakah ada potensi-potensi pengembangan energi berkelanjutan baik yang menyangkut sumberdaya alam (environmental capital), sumberdaya sosial (social capital), sumberdaya manusia (human capital), sumberdaya fisik (infrastructure capital) maupun sumber daya ekonomi (financial capital). Selanjutnya menyusun rekomendasi strategis untuk pengembangan desiminasi energi berkelanjutan di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.
Kajian energi pedesaan dilakukan mulai tanggal 2 – 11 November 2009 dengan menggunakan pendekatan participatory rural appraisal (PRA). Lokasi yang dijadikan kajian energi pedesaan adalah Desa Toro Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi, Desa Kotarindau Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi, Desa Powelua Kecamatan Banawa Tengah Kabupaten Donggala dan Desa Limboro Kecamatan Banawa Tengah Kabupaten Donggala.
Sebelum melakukan kajian di desa, diadakan diskusi tukar pengalaman tentang energi pedesaan di LBH Perkumpulan Bantaya – Palu, yang dihadiri oleh teman-teman LPA Awam Green (Bung Budi, Bung Deni, Bung Syahrun), Perkumpulan Karsa (Bung Antok, Bung Bardi ), Forum Informasi Kampung Desa Limboro (Bung Kiki, Bung Razak, Bung Rijal, Bung Fadli, Bung Aiman), Bung David – Jalin (Jaringan Film), Bung Foler (Perkumpulan Pemuda Kotarindau) dan Perkumpulan Bantaya (Bung Hedar Laudjeng, Bung Jamlis Lahandu, Mbak Marche, Bung Fathur). Usai diskusi dilanjutkan pemutaran film dokumentasi LPTP tentang proses belajar bersama masyarakat yang berkaitan dengan pengembangan teknologi energi pedesaan dan pengelolaan sumberdaya alam.
Tanggal 3 – 4 November 2009, melakukan kajian energi pedesaan di Desa Toro, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, ditemani rekan-rekan LPA Awam Green (Komunitas Bantaya) – Bung Budi, Bung Deny dan Bung Anto. Kajian dilakukan lewat Fokus Discucion Group (FGD) dengan Kepala Desa Toro Bapak Mulianto Lagimpu, perangkat desa, Kepala Tua (mantan kepala desa), Pak Said Tolao (Tondo Ngata – Penjaga Hutan) dan penelusuran wilayah Desa Toro. Dari hasil diskusi bersama-sama jika dihitung diketahui bahwa biaya belanja untuk pemenuhan kebutuhan energi masyarakat yang digunakan untuk memasak, penerangan, transportasi, mesin produksi pertanian serta jenis energi yang digunakan masyarakat desa Toro sebagi berikut :
- Minyak tanah digunakan untuk memasak dengan teknologi kompor dalam satu tahun menghabiskan pengeluaran Rp 504.000.000 dari 280 unit kompor yang ada. Dalam satu hari menghabiskan 1 liter dengan harga setempat Rp 5.000. untuk penerangan dengan teknologi lampu pelita yang menghabiskan 0,25 liter / hari. Diperkirakan yang masih punya 25% dari 551 KK (belum punya listrik) dalam satu tahun menghabiskan pengeluaran Rp 61.650.000 dan dengan teknologi lampu petromak yang masih ada sekitar 10 % dari 551 KK digunakan saat listrik PLN padam yang rata-rata bisa 4 kali per minggu dan saat pesta pernikahan, syukuran, duka, hari besar keagamaan, menghabiskan 2 liter per malam sehingga total menghabiskan biaya belanja dalam satu tahun Rp 46.200.000.
- Bahan Bakar Solar digunakan untuk mesin produksi pertanian pengilingan padi. Jumlahnya 13 unit yang setiap hari kerja diperkirakan menghabiskan 25 liter dengan harga setempat Rp 6.000. Dalam satu tahun efektif difungsikan hanya 2 bulan serta menghabiskan belanja solar setahun Rp 117.000.000. Selain itu ada handtractor yang digunakan membajak sawah dan dalam satu hari kerja menghabiskan 10 liter. Dari 30 unit traktor efektif kerja 15 hari / musim tanam setiap tractor. Dalam satu tahun menghabiskan belanja solar Rp 54.000.000. Sedang bahan bakar mobil untuk transportasi dari 5 unit mobil setiap hari diperkirakan menghabiskan 10 liter / hari dan dalam satu tahun menghabiskan belanja solar sekitar Rp.81.000.000.
- Kayu bakar, digunakan untuk memasak dengan teknologi tungku. Dari 551 unit tungku dalam satu hari menghabiskan 1 ikat (30 pangkal). Jika dijual dengan harga Rp 5.000 / ikat dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja kayu bakar sekitar Rp 991.800.000.
- Bensin untuk bahan bakar sepeda motor digunakan untuk transportasi. Dari 200 unit sepeda motor diperkirakan menghabiskan bensin 4 liter setiap 5 hari dan digunakan di dalam desa dengan harga bensin di desa Rp 6000. Dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja bensin sekitar Rp 45.600.000. Diperkirakan 25 % dari 200 unit sepeda motor di desa setiap 3 hari keluar kota bisa beli bensin di SPBU, diperkirakan menghabiskan biaya belanja Rp 135.000.000. Selain itu digunakan menggerakan mesin genset untuk penerangan karena listrik PLN sering padam. Dari 23 unit menghabiskan bensin 15 liter setiap 7 hari dengan harga bensin setempat dan menghabiskan biaya belanja bensin setahun Rp 99.360.000.
Diskusi dilakukan hingga jam 23.30 WITA. Melelahkan namun menarik. Baru esok paginya mulai jam 08.00 dilanjutkan penelusuran wilayah sungai Bola yang diperkirakan memiliki potensi untuk pengembangan mikrohidro. Di situ dilakukan pengukuran debit air sungai, mencari lokasi untuk bak penenang, pengukuran panjang sungai hingga lokasi untuk bak penenang dan penghitungan ketinggian untuk turbin. Kegiatan lapang ini berakhir pada jam 17.30 WITA.
Pada tanggal 5 November 2009, dilanjutkan perjalanan ke Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi yang lama perjalanannya sekitar 3 jam. Perjalanan dilakukan dengan menggunakan sepeda motor. Setelah sampai dilokasi melakukan diskusi dengan komunitas pemuda pelajar petani Desa Kotarindau yang dikoordinir Bung Foler. Usai itu dilanjutkan penelusuran di wilayah desa. Setelah kepala Desa Kotarindau, Umar Gamal selesai menerima tamu dari Kecamatan, dilanjutkan diskusi bersama di kantor balai desa yang pelayanan pemerintahan desa buka 24 jam. Diskusi terfokus pada kondisi desa, perencanaan desa dan belanja energi di desa. Dari hasil diskusi diketahui perkiraan biaya belanja energi di desa kotarindau dengan menggunakan bahan bakar sebagai berikut :
- Minyak tanah, digunakan untuk memasak dengan teknologi kompor dalam satu tahun diperkirakan menghabiskan biaya belanja minyak tanah sebesar Rp 1.986.120.000. Rata-rata rumah tangga memilik 2 unit kompor. Dengan total rumah tangga 613 dan harga minyak tanah setempat Rp.4.500 maka cukup besar belanja minyak tanah yang harus dikeluarkan.
- Sedangkan untuk penerangan yang menggunakan pelita pada satu desa diperkirakan yang masih punya sekitar 20 % dari 613 KK dan ini menghabiskan 1 liter per minggunya. Selama satu tahun menghabiskan biaya belanja sebesar Rp. 26.568.000. Untuk lampu petromak diperkirakan yang masih punya sekitar 10 % dari 613 KK dan menghabiskan minyak tanah 1 liter perhari untuk penerangan 5-6 jam. Jika rata-rata 4 kali pemadaman listrik setiap minggunya maka perlu biaya belanja minyak tanah sekitar Rp. 52.704.000.
- Kayu bakar masih cukup banyak yang menggunakan. Kayu bakar ini digunakan untuk memasak dengan teknologi tungku. Dalam satu tahun jika dihitung menghabiskan biaya belanja kayu bakar sebesar Rp. 1.103.400.000 yang rata-rata dalam satu hari menghabiskan 1 ikat kayu bakar untuk 3 kali masak dengan harga Rp.5000 perikat .
- Solar, digunakan untuk pengilingan padi, dengan harga solar Rp.4.500 / liter. Dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja solar sekitar Rp. 13.500.000. Dari 2 unit pengilingan padi rata-rata menghabiskan 25 liter solar setiap hari dan dalam satu tahun efektif berfungsi sekitar 2 bulan. Handtractor untuk membajak sawah dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja solar sekitar Rp. 291.600.000. Ini dihitung dari 9 unit handtractor yang dalam satu hari menghabiskan 25 liter solar dan digunakan untuk 2 musim tanam setahun.
- Bensin, digunakan sebagai bahan bakar sepeda motor untuk transportasi. Jika rata-rata dalam satu hari menghabiskan 1 liter dari 458 unit sepeda motor yang ada didesa dengan harga bensin Rp.4.500 / liter (dekat dengan pombensin) maka dalam satu tahun diperkirakan menghabiskan biaya belanja bensin sebesar Rp. 741.960.000. Untuk menggerakan mesin genset sebagai listrik penerangan, menyalakan TV, radio, tape, karena tidak ada data yang lengkap diperkirakan didesa Kotarindau yang memiliki sekitar 20 % dari 613 rumah, dalam satu minggu diperkirakan menghabiskan bensin 15 liter jika rata-rata listrik PLN padam 4 kali dalam seminggu, dalam satu tahun diperkirakan menghabiskan biaya belanja bensin sebesar Rp. 398.520.000. Mobil digunakan sebagai transportasi dari 25 unit mobil didesa jika rata-rata menghabiskan bensin 10 liter perhari dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja bensin sebesar Rp. 405.000.000.
Pada hari berikutnya tanggal 6 – 7 November 2009, dilanjutkan perjalanan ke Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, yang kurang lebih 2,5 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor dari kota Palu. Perjalanan ditemani rekan-rekan LPA Awam Green dan Perkumpulan Bantaya. Karena masyarakat Desa Powelua yang menguasai bahasa Indonesia sedikit dipandu langsung oleh Bung Hedar Laudjeng ( Kepala Tua) sebagai penterjemah yang juga mantan kepala desa Powelua, yang menguasai sosial budaya, bahasa, geografi, perkembangan desa dan suasana kebatinan masyarakat Desa Powelua. Pada hari pertama selain penelusuran wilayah potensi desa, juga melakukan diskusi dirumah Pak Amdi dari hasil diskusi tersebut dapat dipetakan jenis bahan bakar dan teknologi yang digunakan dan perkiraan besarnya biaya belanja untuk energi di Desa Powelua sebagai berikut :
- Minyak tanah digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak dengan teknologi kompor yang terpetakan sebanyak 10 unit untuk 10 rumah tangga didusun IV (Durian Bali) dalam satu hari menghabiskan minyak tanah rata-rata 1 liter dengan harga setempat Rp.5.000. Dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja minyak tanah sebesar Rp. 18.000.000. Kalau digunakan untuk penerangan dengan menggunakan teknologi lampu pelita sebanyak 379 unit menghabiskan 1 liter minyak tanah untuk 10 hari dan dinyalakan jam 18.00 – 05.30 WITA maka dalam satu tahun mengeluarkan biaya belanja sebesar Rp. 68.220.000. Jika menggunakan teknologi penerangan lampu petromak diperkirakan yang masih punya 10 % dari 379 kepala keluarga (keterbatasan data yang akurat). Lampu ini biasa dinyalakan mulai jam 18.00 – 23.00 WITA. Jadi rata-rata dalam 10 hari menghabiskan minyak tanah 1 liter dan diestimasikan dalam satu tahun mengeluarkan biaya belanja minyak tanah sebesar Rp. 6.840.000.
- Kayu bakar digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak dengan teknologi tungku yang rata-rata dalam satu hari memasak 3 kali menghabiskan kayu bakar 1 ikat besar (= 7 ikat kecil). Jika harga kayu bakar perikat kecil Rp.1.250 dari 379 unit tungku maka dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja kayu bakar sebesar kurang lebih Rp. 1.193.850.000.
- Solar, digunakan sebagai bahan bakar genset untuk penerangan terpetakan 5 unit didusun Durian Bali dalam satu malam menghabiskan 3 liter solar untuk penerangan mulai jam 18.00 – 23.30 WITAsetiap hari. Dengan harga solar Rp.4.500 / liter, dalam satu tahun diperkirakan menghabiskan biaya belanja solar sebesar Rp.24.300.000.
- Bensin, digunakan sebagai bahan bakar genset untuk penerangan terpetakan yang memiliki sebanyak 7 unit didusun Durian Bali dan dalam satu malam menghabiskan rata-rata 3 liter untuk penerangan jam 18.00 – 24.00 WITA. Dengan harga bensin Rp.4.500 / liter dalam satu tahun jika dihitung menghabiskan biaya belanja bensin sebesar Rp.34.020.000. Selain itu digunakan untuk transportasi & jasa transportasi sebagai bahan bakar 3 unit mobil dan angkutan umum dalam satu hari kerja diperkirakan menghabiskan 20 liter dengan harga Rp.4.500. Jika dihitung dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja bensin Rp. 97.200.000. Untuk bahan bakar 14 unit sepeda motor untuk transportasi di Desa Powelua rata-rata menghabiskan bensin 4 liter setiap 2 hari maka dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja bensin sebesar Rp. 45.360.000. Sedang 1 unit sepeda motor untuk jasa transportasi (ojek) rata-rata dalam satu bulan hanya 20 hari kerja dan menghabiskan bensin 8 liter setiap hari kerja dan dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja bensin Rp. 8.640.000.
Besok paginya sampai sore dilakukan penelusuran sungai Solutere dan sungai Solulanja untuk mengukur debit air dan ketinggian sungai serta untuk mengetahui kelayakanya dalam pengembangan pembangkit listrik mikrohidro.
Setelah selesai dari Desa Powelua sore itu tanggal 7 November 2009 dilanjutkan perjalanan ke Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala yang menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit dengan menggunakan sepeda motor. Malamnya dilanjutkan diskusi dengan komunitas PIKOM (Pusat Informasi Kampung) Desa Limboro. Besok paginya tanggal 8 November 2009 mengadakan penelusuran wilayah dan diskusi tentang energi pedesaan. Baru pada siang sampai sore hari bisa ketemu dengan Sekretaris Desa Kota Rindau untuk mendiskusikan kondisi perkembangan dan energi pedesaan.
Dari hasil pemetaan energi yang dilakukan di Desa Limboro diketahui jenis bahan bakar, jenis teknologi dan fungsinya dalam menopang kehidupan sehari-hari, sehingga diketahui perkiraan belanja energi yang dikeluarkan dalam satu tahun, sebagai berikut:
- Minyak tanah, digunakan sebagai bahan bakar kompor untuk memasak dari 412 unit jika kondisi normal tidak mengalami kelangkaan minyak tanah dalam sehari untuk 3 kali masak dalam satu bulan rata-rata menghabiskan 20 liter dengan harga minyak tanah setempat Rp.3.100/liter. Dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja minyak tanah sebesar Rp. 306.528.000 Untuk penerangan dengan teknologi pelita dari 412 unit rata-rata dalam satu minggu menghabiskan 1,5 liter minyak tanah dan jika listrik mati rata-rata 3 kali seminggu maka dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja Rp. 91.958.400. Dengan teknologi lampu petromak diperkirakan masih ada sekitar 10 % dari 412 kepala keluarga rata-rata menghabiskan minyak tanah 1 liter dalam 10 hari untuk penerangan mulai jam 18.00 – 21.00 WITA dan dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja minyak tanah sebesar Rp. 4.575.600.
- Kayu bakar, digunakan sebagai bahan bakar tungku untuk memasak dan diperkirakan yang menggunakan tungku di desa Limboro 80 % dari 412 KK (kepala keluarga). Dalam satu hari rata-rata menghabiskan 3 ikat sekali memasak untuk 3 kali masak. Dengan harga kayu bakar Rp 600 per ikat kecil maka dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja kayu bakar sebesar Rp. 641.520.000.
- Solar, digunakan sebagai bahan bakar mesin pengilingan padi. Ada 3 unit jumlah. Dalam satu tahun hanya efektif dua bulan bekerja dan dalam satu hari kerja menghabiskan 25 liter solar dengan harga solar Rp.4.500. Jika dihitung dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja solar sebesar Rp. 20.250.000. Selain itu digunakan menggerakan 4 unit mesin handtractor untuk membajak sawah. Dalam sekali membajak menghabiskan 25 liter solar dari 35 ha sawah yang ada. Satu handtractor mampu mengerjakan membajak sawah 1 ha dalam satu hari, hingga siap tanam memerlukan 2 kali pengolahan lahan sawah. Dalam satu tahun tanam 3 kali diperkirakan menghabiskan biaya belanja sebesar Rp. 5.906.250.
- Bensin digunakan menggerakan mesin sepeda motor sebagai transportasi dan diperkirakan ada 80 % dari 412 KK yang memiliki sepeda motor. Dalam satu hari rata-rata menghabiskan bensin 1 liter. 90 % dari jumlal sepeda motor digunakan transportasi didalam desa dengan harga bensin Rp.4.500 / liter. Jika dihitung dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja sebesar Rp. 450.522.000. Selain itu untuk menggerakan 27 mesin genset untuk penerangan dalam satu malam menghabiskan 3 liter bensin dan dalam satu minggu rata-rata kurang lebih 3 kali listrik padam. Jika dihitung dalam satu tahun menghabiskan biaya belanja bensin sebesar Rp. 52.488.000.
Pada tanggal 9 November 2009, malam hari dikantor Perkumpulan Bantaya – Palu kedatangan tamu ketua Bapedalda Kab. Donggala dan staff, kita Bung Hedar, Bung Jamlis. Pada waktu itu dilakukan diskusi hasil needassesment energi pedesaan di 2 desa Kabupaten Donggala dengan potensi lokal yang ada dapat dikembangkan desiminasi teknologi tepat guna energi alternatif yang ramah lingkungan.
Besok pagi tanggal 10 November 2009, melakukan pertemuan dengan Ketua Bapeda Kabupaten Sigi dengan agenda diskusi memaparkan hasil needassesmen energi pedesaan di 2 desa Kabupaten Sigi dan energi alternatif pedesaan ramah lingkungan yang dapat dikembangkan. Juga membahas kondisi perkembangan pemekaran & kebijakan kabupaten Sigi tentang energi pedesaan. Karena keterbatasan waktu di kantor untuk menghadiri rapat kerja, dilanjutkan malamnya presentasi dirumah Bapak M.Salmin – Ketua Bapeda, didampingi Mbak Marche – Koordinator Program LBH Perkumpulan Bantaya, Fathur, Kiki.
Dari semua needassesmen energi pedesaan di 4 desa di 2 Kabupaten, di Provinsi Sulawesi Tengah dan berdasar potensi desa dapat didesiminasikan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan untuk pengembangan energi alternatif bagi pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti tungku hemat kayu bakar, biogas, kompor biji jarak, briket. Selain itu masih perlu dilakukan kajian mendalam pengembangan mikrohydro di wilayah tersebut. (30 November 2009, Purwono Yunianto)
Keterangan : untuk mempermudah perhitungan dalam satu bulan dihitung 30 hari ***
|